Oleh : Ishana Mahisa*
Pasang surut industri perunggasan terjadi sepanjang tahun 2020. Ekosistem yang belum kondusif selama beberapa tahun terakhir diperparah dengan adanya pandemi COVID-19. Fenomena ini pun juga berdampak kepada sektor hilir, yakni industri pengolahan daging. Penulis melihat bahwa pandemi COVID-19 telah menyebabkan dinamika terhadap tingkat permintaan pasar dari produk daging olahan.

Industri pengolahan daging dalam negeri masih terkendala oleh bahan baku yang ada. Inkonsistensi harga ayam hidup berdampak langsung terhadap kelangsungan industri pengolahan daging.

Pasar dari industri olahan tersegmentasi dalam tiga kategori, yaitu wet market atau pasar tradisional, food market yang mengarah  ke industri kuliner seperti hotel, restoran, dan katering (horeka), serta modern market yang ditujukan pada pasar swalayan. Tercatat pasar tradisional menopang 60-65 persen serapan produk daging olahan di dalam negeri. Sementara itu, pasar horeka berkontribusi sekitar 15-20 persen, sedangkan pasar modern hanya sekitar 15 persen.
Penurunan permintaan jelas terjadi pada pasar horeka. Hal ini disebabkan oleh  berbagai kebijakan pembatasan aktivitas publik selama masa pandemi, sehingga kegiatan horeka pun terhenti.  Alhasil, utilitas industri pengolahan daging ketika pandemi turun ke level 60,5 persen dari posisi 66 persen pada awal tahun 2020. Walaupun saat ini perlahan roda ekonomi  sudah mulai berputar, namun secara umum dapat dikatakan pasar horeka belum terangkat secara optimal.
Lebih lanjut, adanya gelombang pandemi berikutnya seperti yang terjadi pada India sangat dikhawatirkan oleh industri daging olahan. Pasalnya, apabila hal tersebut terjadi, dan pandemi terus berlarut-larut, maka utilitas pabrikan dapat kembali turun ke bawah 65 persen. Untuk itu kunci dari pemulihan utilitas industri pengolahan daging adalah penanganan pandemi COVID-19 ini. Selain itu, diharapkan geliat ekonomi yang mulai terjadi beberapa waktu ini dapat terus berlanjut, sehingga daya beli masyarakat dapat kembali tumbuh.
Baca Juga: CPI Ekspor Produk Olahan ke Qatar
Kemudian, penulis juga menyoroti terkait kendala penyediaan bahan baku yang saat ini masih dialami oleh industri pengolahan daging. Terkhusus untuk perunggasan, kendati telah diklaim swasembada ayam hidup, namun tidak pada daging ayamnya. Hal ini disebabkan industri perunggasan yang belum berdaya saing. Sebagai contoh, ayam Brasil yang digadang-gadang akan masuk ke Indonesia dihargai US$1 (sekitar Rp14.000), sementara untuk harga pokok produksi (HPP) ayam di Indonesia sekitar Rp18.000 yang belum termasuk dengan profit margin. Hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat harga bahan baku di Indonesia yang masih belum bisa bersaing.
Dengan kesulitan akan bahan baku yang dialami, penulis berharap pemerintah dapat memisahkan antara neraca kebutuhan daging ayam untuk konsumsi rumah tangga (end user) dengan industri pengolahan daging. Baik terpenuhi dari dalam negeri maupun impor, pada dasarnya industri pengolahan daging hanya ingin mendapatkan bahan baku yang secara harga dan kualitas kompetitif serta konsistensi dan keberlanjutan dapat terjamin. Hal ini pun juga akan memacu pertumbuhan dari industri pengolahan daging, sehingga utilitasnya akan naik dan menembus level 70 persen.
Sebagai Ketua National Meat Processor Association (NAMPA), penulis menyampaikan bahwa produk olahan daging saat ini sangat digemari oleh masyarakat. Hal ini merupakan sebuah peluang besar dalam upaya peningkatan konsumsi protein hewani masyarakat yang sedang menjadi salah satu fokus pemerintah *Ketua National Meat Processor Association (NAMPA)
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2021 dengan judul “Pemisahan Neraca Bahan Baku Industri Pengolahan Daging dan Konsumen Rumah Tangga”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153