POULTRYINDONESIA, Tangerang – Berfokus pada produk dasar dan alami, Industrial Technica Pecuaria, S.A. (ITPSA) memasarkan produk unggulannya di Indonesia. ITPSA sebagai produsen terkemuka suplemen untuk pakan ternak asal Spanyol telah memasarkannya ke lebih dari 60 negara di seluruh dunia.
Di Indonesia, ITPSA bekerja sama dengan Cita Indonesia untuk memasarkan produk-produknya. Melalui acara peluncuran produk Capsozyme SB Plus, Cita Indonesia menggelar seminar bertemakan “Strategi Optimalisasi Nutrisi Bahan Baku Sumber Protein Nabati Menggunakan Exogenous Enzymes Pada Pakan” yang diselenggarakan secara hybrid melalui aplikasi Zoom maupun secara tatap muka di JHL Solitaire Gading Serpong, Selasa (14/6).
 Pemanfaatan enzim bagi optimalisasi genetik unggas
Pada seminar ini, Ir. Nanung Danar Dono, S.Pt., MP., Ph.D. IPM., ASEAN Eng dari Universitas Gadjah Mada turut hadir memberikan pemaparan mengenai “Penggunaan exogenous enzymes untuk memaksimalkan potensi genetik ternak unggas”. Ia menyebutkan jika potensi genetik pada ayam terbilang tinggi bila dipelihara dengan ideal. Namun kondisi saat ini sulit untuk mencapai hal tersebut dikarenakan banyak sekali tantangan yang dihadapi, maka dari itu manajemen kesehatan pada saluran pencernaan unggas sangat perlu diperhatikan dengan baik. “Melalui pemberian enzim dapat memaksimalkan potensi genetik pada unggas melalui pengendalian mikroba yang ada di saluran pencernaan,” ujar Nanung.
Keberadaan NSP pada usus unggas diterangkan Nanung, memiliki banyak sekali efek negatif seperti; mengurangi tingkat pencernaan digesta dan meningkatkan waktu retensi, selain itu dapatm eningkatkan pertumbuhan, kolonisasi, dan aktivitas patogen, mengurangi keseimbangan mikroba di lumen usus, meningkatkan sekresi metabolit toksik mikroba, meningkatkan lesi enterik, infeksi, peradangan, enteritis nekrotik, kanker pada usus dan mengurangi sekresi enzim pencernaan dan pemecahan nutrisi makro.
Adanya mikroba patogen ini bila dibiarkan dapat menyebabkan luka, infeksi ataupun radang  pada saluran cerna atau lebih dikenal dengan penyakit Necrotic enteritis (NE). Nanung pun mengatakan kondisi ini menghambat proliferasi dan pertumbuhan vili-vili pada dinding usus, akibatnya dapat mengurangi penyerapan, dan kecernaan nutrisi.
Oleh sebab itu, pemberian enzim menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menjaga kesehatan saluran cerna. Ternak unggas tidak menghasilkan semua enzim yang dibutuhkan untuk mencerna semua komponen dalam bahan pakan karena dalam pakan tidak hanya protein, lemak atau karbohidrat saja, tetapi masih banyak komponen lain yang tidak tercerna.
Pada sesi selanjutnya, Sergi CarnĂ©, DVM PhD selaku Technical Manager ITPSA turut hadir secara daring, memaparkan mengenai ” Capsozyme SB Plus : Optimizing Soybean Meal Utilization in Quality Feed for Animal Performance”. Saat ini banyak feedmill menggunakan Soybean Meal (SBM) sebagai sumber protein utama dalam pakan ternak monogastrik, khususnya unggas.
“Pemberian Capsozyme SB Plus melalui kandungan enzim a -galaktosidase dan  xilanase dapat meningkatkan nilai gizi ME dan nilai gizi pakan unggas, keuntungan lainnya produksi gas menurun dan kesehatan usus akan meningkat,” ujar Sergi
Dalam persentasinya, Sergi pun menjelaskan mengenai kegunaan capsozyme SB plus dalam meningkatkan pemanfaatan ME dalam pakan ayam broiler, penyimpanan nitrogen dan khasiat penggunaannya untuk mengurangi faktor anti nutrisi pada pakan unggas dan babi.
Turut hadir Dr. Josep Mascarell selaku Direktur Business Development ITPSA dalam launching Capsozyme SB Plus di Indonesia. Ia memberikan pemaparan mengenai “How To Evaluate Enzymes Efficacy”. Ia mengatakan bahwa persentasinya ini untuk melengkapi pemaparan yang telah dilakukan oleh pemateri sebelumnya, karena banyak menjadi pertanyaan bagaimana untuk mengevaluasi efikasi penggunaan enzim pada pakan.
Saat ini, industri pakan melakukan optimalisasi logistik dan struktural dengan mengintegrasikan pabrik pakan dan peternakan dalam skala bisnis peternakan skala besar. Pada pabrik pakan sudah banyak yang melakukan peningkatan teknologi, dengan didukung penilaian kualitas bahan baku dan mencari bahan baku baru. Sedangkan pada peternakan, dilakukan peningkatan efisiensi konversi pakan dari hewan.  “Potensi genetik hewan saat ini yang lebih produktif namun kondisi ususnya memiliki kerentanan. Hal ini dipengaruhi oleh pakan yang tidak tercerna, adanya faktor anti nutrisi, pertumbuhan patogen, didukung oleh overstimulasi sistem kekebalan usus,” terang Josep.
Capsozyme SB Plus sebagai solusi enzim yang dapat digunakan untuk meningkatkan nilai nutrisi pada soybean dan legum, telah diperkenalkan sejak 10 tahun lalu di Eropa. Namun, baru saat ini diperkenalkan di Indonesia. “Capsozyme SB Plus secara resmi kami perkenalkan kepada peternak di Indonesia, kita akan terus berekperimen dalam penggunaannya di berbagai negara karena bahan baku utamanya tidak jauh berbeda,” tambah Josep.
Perkenalkan tim baru
Selain menggelar peluncuran produk Capsozyme SB Plus, Dominicus Niko selaku Sales Director Cita Indonesia mengucapkan rasa terima kasihnya kepada para peserta yang telah hadir dalam peluncuran ini. Selain itu, ia pun memperkenalkan tim barunya dalam pengembangan Cita Indonesia kedepannya. Beberapa sosok yang telah lama berada di industri peternakan. nico memperkenalkan drh. Luky Rusmawan Subekti selaku Direktur Animal Health Bussiness PT. Ganeeta Formula Nusantara (Cita Indonesia Group) dan Retno Arini selaku Direktur Feed Additive PT Seribu Cita Bayanaka (Cita Indonesia Group).