POULTRYINDONESIA, Tangerang – Kendati telah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri atau swasembada, tak lantas membuat ekosistem usaha telur serta merta dalam kondisi yang stabil dan ideal. Pasalnya gejolak harga masih dirasakan, terkhusus bagi para produsen atau peternak. Kondisi oversupply seringkali dianggap menjadi biangkerok fenomena ini terjadi. Namun timbul pertanyaan besar atas kebenaran kondisi tersebut, tatkala dibeberapa daerah masih dijumpai harga telur yang berada di level tinggi.
Hal tersebut mencuat dalam acara seminar yang diadakan oleh Pinsar Petelur Nasional (PPN) yang mengangkat tema “Telur dan Ketahanan Pangan Indonesia”. Acara ini bersamaan dengan gelaran pameran ILDEX 2022, di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Tanggerang, Kamis (10/11).
Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN), Yudianto Yosgiarso menjelaskan bahwa selama ini permasalahan klasik yang terjadi di telur adalah adanya oversupply. Namun apabila dilihat lebih jauh, di beberapa daerah masih sering mengalami kondisi harga telur yang tinggi. Menurutnya hal ini mengindikasikan adanya distribusi yang tidak merata atau menumpuk disuatu daerah saja.
“Nah inilah yang menjadi pertanyaan besar kita para peternak, apakah memang surplus terjadi atau justru permasalahannya adalah distribusi yang tidak merata? Jangan-jangan selama ini mayoritas telur hanya menumpuk di Jawa atau Jabodetabek saja,” ungkapnya.
Mewakili Menteri Perdagangan, Syailendra selaku plt. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) menyampaikan bahwa Kementerian Perdagangan (Kemendag) ingin bersama peternak untuk memetakan apa yang sebenarnya terjadi pada komoditas telur ini. Dirinya berharap komoditas telur dapat ditata dengan baik, seperti halnya Kemendag menata sistem di minyak goreng, sehingga tidak keliru mengambil kebijakan.
“Bapak Menteri pun juga menyadari bahwa dengan faktor input yang sudah naik, harga telur tidak bisa tetap murah seperti dulu. Kalau kita terus menekan agar harga telur murah, kita akan mengorbankan peternak. Untuk itu, Pak Menteri selalu menyampaikan dan mengedukasi masyarakat, bahkan menyuarakan hal tersebut dalam berbagai rapat,” jelasnya.
Dengan kondisi ini, menurutnya pemerintah harus bisa mengevaluasi dan mendiskusikan kembali penataan komoditas telur ini, sembari terus mendorong optimalisasi peran BUMN pangan.
“Untuk pelaku usaha besar, kita harus tetap menjaga agar kondisi usaha ini tetap kondusif. Di lain sisi, kita juga harus tetap melindungi peternak kecil dengan melakukan konsolidasi yang dibantu oleh BUMN pangan. Kemendag sangat terbuka untuk berdiskusi demi mencari jalan keluar persoalan perunggasan ini,” terang Syailendra.
Baca Juga: Midnight Feeding untuk Optimalisasi Pemeliharaan Layer
Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami mengingatkan bahwa dalam mewujudkan cadangan pangan nasional pada komoditas produk unggas, memerlukan langkah yang tidak mudah. Dirinya mengingatkan bahwa untuk penyimpan produk unggas ini tidak semudah penyimpanan pada komoditas serealia seperti jagung, beras maupun kedelai.
“Memang ada teknologi fasilitas penyimpanan yang ada, namun biaya investasinya tidak sedikit. Sedangkan apabila melihat sisi produksi, importasi GPS baru terasa 2 tahun kemudian. Jadi kita harus bisa memproyeksikan kebutuhan atau konsumsi masyarakat 2 tahun kedepan. Hal-hal semacam inilah yang harus diperhatikan dalam upaya menjaga supplydemand perunggasan nasional,” tambahnya.
Sementara itu, Hidayaturrahman seorang peternak layer dari Blitar berharap close loop yang sedang dimatangkan dapat benar-benar terlaksana. Pasalnya peternak sudah melalui persoalan ini dalam waktu yang lama.
“Selain itu kami berharap juga HAP yang telah ditetapkan, baik di konsumen dan produsen mempunyai instrumen teknis yang bisa mendukung terlaksananya regulasi tersebut. Ketika ada persoalan harga naik maupun turun, langkah yang akan diambil jelas. Selama ini ketika harga tinggi, akan dilakukan operasi pasar. Namun, kalau harga lagi turun langkahnya masih belum pasti, dan hal ini perlu diatur,” harapnya.
Masih dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Pangan Nasional / National Food Agency (NFA) mengungkapkan bahwa yang terpenting adalah bagaimana menjaga stabilitas harga dan ketersediaan, baik disisi hulu/peternak dan di hilir/konsumen. Dirinya menyinggung bahwa perlu adanya penyesuaian regulasi untuk mengupayakan langkah ini.
“Dan sebenarnya selama ini kita sudah katam tentang kajian dan solusi. Namun yang sampai saat ini belum dilakukan adalah eksekusinya. Untuk itu, saya minta komitmen dari semua yang terlibat,” tegasnya.
Terkait kelebihan produksi yang selama ini dianggap menjadi masalah, Arief melihat bahwa hal ini sebenarnya merupakan sesuatu yang positif dan kekuatan bagi Indonesia. Namun langkah selanjutnya yang harus diusahakan adalah bagaimana cara mengelola kelebihan tersebut.
“Kita bisa menyimpan dan memperpanjang masa pakai, dan langkah lebih lanjut kita ekspor ke luar negeri. Selain itu, saat ini yang terjadi adalah koneksi pangan antar daerah yang belum berjalan baik. Disuatu daerah ada yang kesulitan, tapi didaerah lain berlebihan bahkan harus aborsi. Memang tidak mudah, namun hal ini harus kita lakukan. Kita tidak bisa kerja sendiri-sendiri hal ini harus dikerjakan bersama-sama,” tegas Arief.
Hal senada disampaikan oleh Tri Melasari, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Dirjen PKH menjelaskan bahwa apabila dilihat dari data, surplus telur Indonesia selama tahun 2022 hanya berkisar 5 %. Angka ini masih kecil, bahkan kurang apabila memperhatikan cadangan pangan nasional yang diwacanakan mencapai 10 %.
“Jadi apabila dikatakan surplus, memang surplus. Namun hal itupun masih kurang apabila memperhatikan cadangan pangan nasional. Kemudian gonjang-ganjing ini terjadi karena menumpuknya produk di daerah tertentu, sedangkan daerah lain masih banyak yang kekurangan. Untuk itu kami berharap para investor dan pelaku usaha besar dapat melakukan usaha di daerah yang masih kekurangan. Sembari terus dilakukan edukasi dan kampanye makan telur, agar konsumsi masyarakat kita bisa meningkat, sehingga serapan masyarakat pun akan semakian besar, ” harapnya.
Sebagai upaya peningkatan konsumsi telur masyarakat, dalam acara ini PPN juga mengadakan aksi bagi-bagi telur, yang dilanjutkan dengan makan telur bersama para pengunjung pameran ILDEX 2022.