Serangan Tremovirus (penyebab Avian Encephalomyelitis alias AE) pada ayam muda (umur < 6 minggu), selain adanya gejala saraf yang variatif juga menunjukkan gangguan pertumbuhan dan keseragaman ayam serta gangguan kualitas bulu karena adanya gangguan nutrient intake dan nutrient balance akibat kerusakan jaringan pankreas. Feses ayam yang menderita AE biasanya agak lengket dan mengandung bahan pakan yang tidak tercerna (cloacal pasting yang disertai fenomena sindroma malabsorbsi).
Serangan Tremovirus (penyebab Avian Encephalomyelitis alias AE) pada ayam muda (umur < 6 minggu), selain adanya gejala saraf yang variatif juga menunjukkan gangguan pertumbuhan dan keseragaman ayam serta gangguan kualitas bulu karena adanya gangguan nutrient intake dan nutrient balance akibat kerusakan jaringan pankreas. Feses ayam yang menderita AE biasanya agak lengket dan mengandung bahan pakan yang tidak tercerna (cloacal pasting yang disertai fenomena sindroma malabsorbsi).
Oleh: Tony Unandar*
Pada kasus infeksi Avian Encephalomyelitis Virus (AEV) dengan keparahan yang hebat, kelainan patalogis yang ditemukan kadang berupa konsistensi jaringan otak, baik otak besar (cerebrum) maupun otak kecil (cerebellum), yang mengalami penurunan konsistensi dan perubahan warna menjadi lebih kusam. Namun, ayam yang menunjukkan gejala saraf tidak selalu menunjukkan kelainan patologis pada otak.
Kelainan patologis yang lebih konsisten ditemukan di lapangan adalah kelainan pada pankreas berupa nekrosa dalam bentuk gray to white foci yang kadang kala disertai dengan bintik perdarahan dalam bentuk ptechiae. Pada proventrikulus, gizzard, dan tembolok juga dapat ditemukan lesio dalam bentuk ptechiae yang tersebar secara sporadik, tergantung keparahan kasus yang terjadi (Nihat dan Gunay, 2010).
Diagnosa
Umumnya, diagnosa sudah bisa ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang ditampilkan oleh ayam yang terinfeksi. Hal ini bisa terjadi karena tremor yang halus pada kepala dan leher merupakan gejala yang sangat khas untuk infeksi Avian Encephalomyelitis Virus (AEV). Berbeda dengan kasus infeksi NDV (Newcastle Disease Virus), dimana gejala saraf yang muncul umumnya berupa kelumpuhan dan tortikolis, dan infeksi AMPV (Avian Metapneumovirus) dimana gejala saraf yang terlihat umumnya dalam bentuk kelumpuhan dan konvulsio.
Konfirmasi akhir diagnosa atau diagnosa definitif tetap membutuhkan pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan histopatologis seperti jaringan otak, pankreas, proventrikulus, gizzard, dan jantung (Swayne, 2008). Histopatologis jaringan otak pada infeksi AEV, umumnya menunjukkan gambaran kromatolisis dan nekrosis sel-sel neuron, gliosis, neuronophagia dan perivascular cuffings (Alexander, 2003).  Lebih lanjut, uji serologis dan isolasi virus juga bisa dilakukan untuk mengkonfirmasi pengamatan lapangan (Calneck, 2008).
Pencegahan dan kontrol
Sejauh ini, tidak ada perlakuan terapi untuk kasus infeksi Avian Encephalomyelitis Virus (AEV) pada ayam modern (Silva, 2009). Infeksi AEV dapat dikontrol melalui pendekatan vaksinasi dan implementasi biosekuriti yang konsisten (Salma, 2015).
Akibat dampak transmisi secara vertikalnya yang sangat signifikan, maka progeni yang dihasilkan dari suatu breeder harus mempunyai imunitas yang cukup terhadap AEV. Antibodi induk dalam bentuk imunoglobulin Y terbukti bisa mencegah transmisi AEV secara vertikal ke progeni yang dihasilkan serta mereduksi ekspresi kasus infeksi AEV pada masa brooding (Martins dan Silva, 2009).
Breeder pullets dapat diberikan vaksin AEV pada umur antara 8 hingga 15 minggu. Selain ayam breeder, pullet petelur komersial juga sangat dianjurkan divaksinasi. Hal ini disebabkan AEV mempunyai karier alamiah, yaitu burung-burung liar di sekitar lokasi peternakan.
Vaksin AE hidup (live vaccine) dapat diberikan melalui air minum, spray, atau tusuk wing-web (Franscisco, 2014). Vaksin AE hidup dapat dikombinasikan dengan vaksin Fowl Pox dalam bentuk satu sediaan vaksin dengan tanpa saling memengaruhi efektivitas vaksin (Sarma, 2019). Setidaknya, harus ada minimal 2 kali pemberian vaksin AEV pada masa remaja alias pullet.
Ayam yang menunjukkan gejala klinis terpapar Avian Encephalomyelitis Virus (AEV) harus segera diafkir dan dimusnahkan karena dapat bertindak sebagai sumber kontaminan. Disamping itu, kontrol insekta, seperti lalat, juga tidak boleh dilupakan, karena lalat bisa menjadi vektor mekanis AEV di lapangan (Martins dan Silva, 2009). *Anggota Dewan Pakar ASOHI