POULTRYINDONESIA, JakartaAntimicrobial Resistance (AMR) merupakan masalah penting dalam kesehatan hewan dan manusia, serta telah menjadi isu global di seluruh dunia. Resistensi antibiotik ini telah menyebabkan berbagai dampak seperti residu kegagalan pengobatan infeksi, kematian pasien dan peningkatan biaya kesehatan. Berangkat dari hal tersebut, Divisi Mikrobiologi Veteriner, FKH, Universitas Airlangga menyelenggarakan seminar virtual AMR dengan tema “Menyibak Bakteri Penyebab Resistensi Antibiotika pada Unggas dan Manusia”. Acara yang dilaksanakan melalui aplikasi zoom ini, diikuti oleh sekitar 300 peserta dari berbagai latar belakang.
Baca juga : Resistensi Antimikroba Ancaman Pembunuh Manusia di Masa Depan
Dalam sambutannya, Wakil Dekan III FKH, Universitas Airlangga, Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi drh., DTAPH menyampaikan apresiasi atas diselenggarakannya seminar virtual ini, serta mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya acara. Kemudian dirinya juga menyinggung kaitan antara AMR yang sering kali dihubungkan dengan food security.
“Seharusnya pendekatannya adalah food safety, karena impact nya pada kesehatan masyarakat. Selain itu, kolega dokter hewan sering lupa bahwa terkait AMR ini telah ada isolat yang secara alamiah resisten dan tidak perlu didiskusikan. Tetapi yang harus kita waspadai betul adalah resisten secara dapatan, sehingga kita harus tahu dari mana asalnya dan apa dampaknya” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama Prof. Dr. Suwarno, drh., M.Si. Guru Besar, FKH Universitas Airlangga menjelaskan bahwa penggunaan yang tidak bijak dan cenderung berlebihan pada manusia, ternak dan akuakultur menjadi salah satu penyebab resistensi antibiotika. Selain itu, pada perunggasan terkhusus broiler, resistensi antibiotika dipicu oleh kemudahan akses untuk mendapatkan antibiotik, relatif cost menjadi lebih rendah, penggunaan rutin, peningkatan laju produksi dan data produksi tidak terekam dengan baik.
“Perlu dilakukan kerja sama lintas sektoral dalam riset, monitoring, pengawasan, dan surveilans yang ketat terhadap penggunaan antibiotik. Selain itu, peningkatan kesadaran dan masyarakat terhadap antibiotik juga harus dilakukan,” terang Suwarno.
Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., SpMK(K) yang turut hadir sebagai pembicara menjelaskan materi terkait permasalahan dan penanggulangan resistensi antimikroba di Indonesia. Menurutnya permasalahan AMR di Indonesia sangat tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut, telah dimulai tahun 2005 dan secara aturan disahkan tahun 2015 melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 8 Tahun 2015 tentang Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA).
“Kemudian, untuk menerjemahkan PMK dalam suatu program, telah disusun Rencana Aksi Nasional (RAN) yang dibuat bersama WHO dan FAO. Selain itu, hal yang paling penting adalah dibutuhkan komitmen untuk menjalankan PPRA sendiri,” pungkasnya.