Menurut Prof. Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS, selaku Kadiv. Parasitologi & Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University, ada beberapa faktor yang menyebabkan seringnya kutu dijumpai di lingkungan peternakan ayam. Pertama, hal ini erat kaitannya dengan kurangnya perhatian terhadap kebersihan lingkungan kandang. Ia mengatakan bahwa lingkungan yang kotor
merupakan tempat yang nyaman bagi ektoparasit karena segala kebutuhan hidupnya akan dipenuhi di lingkungan tersebut. Faktor selanjutnya berkaitan dengan kepadatan populasi. Semakin padat populasinya, tentunya ektoparasit akan semakin mudah menyebar. 
“Kedatangan kutu pada ayam yang secara tiba-tiba bisa jadi disebabkan oleh penerapan biosekuriti yang kurang baik. Selain itu, serangan ektoparasit juga ada kaitannya juga dengan perubahan musim dimana ektoparasit menjadi mudah berkembang pada musim panas dengan kelembapan yang tinggi. Stres atau imunitas yang menurun juga dapat menyebabkan ayam mudah sekali dihinggapi oleh kutu dan parasit lainnya,” tuturnya. 
Dampak ektoparasit 
Sejalan dengan Fenny, Upik juga turut mengatakan bahwa efek dari invasi kutu pada ayam sangatlah mengganggu, terutama kenyamanan. Menurutnya, kutu pasti akan mengganggu kenyamanan dari ayam itu sendiri, sedangkan tungau, selain mengganggu ayam, juga dapat mengganggu orang di lingkungan tersebut. 
“Kutu atau tungau pada ayam dapat membuat ayam tidak nyaman. Banyaknya kutu atau tungau pada tubuhnya akan membuat ayam menggaruk dan mematuk-matuk tubuhnya sendiri, sehingga lambat laun bulunya akan rontok, copot, dan gundul. Kegundulan atau alopecia ini dapat menjadi penanda adanya serangan kutu maupun tungau,” jelasnya. 
Selain itu, karena ayam sibuk menggaruk dan mematuk tubuhnya, akhirnya ketahanan tubuh mereka menjadi rendah dan produksi pun menurun. Pada layer, produksi telur akan berkurang. Pada broiler, kenaikan bobot badan menjadi tak tercapai. Sedangkan pada ayam hias, tampilan fisiknya akan menjadi kurang elok dipandang. 
“Hal ini pasti akan merugikan peternak karena mau tidak mau, mereka harus mengeluarkan biaya untuk mengobati atau mengatasi gangguan ektoparasit. Seberapa besar kerugiannya tergantung dari serangan ektoparasit itu sendiri. Jika serangannya tinggi sampai menyerang seluruh flok atau seluruh ayam hiasnya, maka perlu banyak bahan yang dikeluarkan, perlu banyak obat yang harus dibeli, dan akhirnya mengalami kerugian secara ekonomi,” jelasnya. 
Perbaikan untuk cegah ektoparasit 
Di akhir sesi wawancara, Upik berpesan kepada para peternak dan penghobi ayam hias untuk selalu menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan kandangnya demi kenyamanan bersama. Ia mengatakan bahwa ketika lingkungan kandang ayam hias kotor, maka lalat, kutu, gurem, dan lain sebagainya akan dengan mudah menghampiri. 
“Kotoran, seperti sisa makanan di kandang, dapat mengundang ektoparasit yang mengganggu untuk mengambil makanan, bersembunyi, beristirahat, bahkan berkembangbiak. Yang terjadi kemudian adalah ledakan populasi dari hama tersebut, sehingga menjaga kebersihan lingkungan kandang menjadi sangat penting dalam kontrol ektoparasit,” ungkapnya.
Hal selanjutnya yang dapat dilakukan adalah mencari upaya untuk mengatasi masalah tersebut dengan memberikan sediaan atau obat-obatan yang lebih efektif. Upik menyarankan para peternak untuk menghubungi dokter hewan terkait untuk mencari tahu mengenai informasi sediaan antiparasit yang efektif untuk mengatasi masalah ektoparasit di kandangnya. 
“Pengawasan secara terus-menerus tentu harus dilakukan. Cek ektoparasit pada ayam hias harus dilakukan secara rutin. Kemudian, observasi pada ayam hias juga sangat penting. Peternak dan penghobi harus memperhatikan gerak-gerik ayam, terutama ketika menunjukkan kelainan, seperti sibuk menggaruk dan mematuk, hingga munculnya kegundulan pada bulunya,” tuturnya. 
Mengenai perbaikan dengan menggunakan obat-obatan, Upik mengatakan bahwa peternak, melalui dokter hewan, harus mengetahui terlebih dahulu jenis ektoparasit yang menyerang. Menurutnya, secara umum, orang hanya mengenal kutu, sedangkan sebenarnya ektoparasit terdiri dari berbagai jenis dan penanganan antara kutu dan tungau tentu berbeda. Oleh karena itu, sangat penting bagi peternak dan penghobi ayam hias untuk tahu ektoparasit apa yang menyerang ternaknya. 
“Sekarang sudah banyak sediaan yang efektif untuk menangani kasus ektoparasit. Jika sudah berkonsultasi dengan dokter hewan, jangan lupa untuk membaca label aturan pakainya karena efektivitas obat juga bergantung pada pengaplikasiannya. Ada beberapa sediaan yang diaplikasikan dengan cara disemprot, ditabur, serta dengan cara dipping. Pada ayam hias, cara dipping mungkin lebih cocok. Ketika sudah diberikan sediaan anti ektoparasit, monitor tidak boleh lepas untuk mendapatkan hasil yang maksimal,” pungkasnya.