Oleh : Ashariah Hapila, S.Pt.*
Saat ini dunia sedang marak didengungkan mengenai rencana pembangunan berkelanjutan atau lebih dikenal dengan istilah Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah disepakati oleh berbagai negara di dunia, tak terkecuali oleh Indonesia. SDGs berisi beberapa tujuan salah satunya yakni mengakhiri malnutrisi atau kelaparan (stunting) dan gizi buruk pada masyarakat.
Menjadi salah satu negara dengan tingkat prevalensi stunting yang cukup tinggi, maka Indonesia perlu menggencarkan promosi mengenai konsumsi bahan pangan sumber protein hewani yang memiliki asupan gizi yang memadai.
Salah satu negara di dunia dengan tingkat prevalensi stunting yang cukup tinggi yaitu Indonesia. Berdasarkan hasil survei status gizi Indonesia pada tahun 2022, angka prevalensi stunting di Indonesia mencapai 24,4 persen, yang artinya hampir seperempat balita mengalami stunting di Indonesia. Meskipun angka tersebut telah berangsur-angsur mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya, namun angka tersebut masih jauh dari capaian target nasional yang harus mencapai angka 14 persen pada tahun 2024.
Prevalensi stunting memengaruhi satu dari tiga anak balita, yang merupakan proporsi yang menjadi masalah kesehatan masyarakat menurut kriteria WHO (UNICEF Indonesia, 2012). Stunting pada masa anak-anak merupakan salah satu hambatan paling signifikan bagi perkembangan manusia, yang secara global memengaruhi sekitar 162 juta anak di bawah usia 5 tahun. (Suarez, 2014).
Stunting memiliki implikasi biologis terhadap perkembangan otak dan neurologis yang diterjemahkan ke dalam penurunan nilai kognitif, sehingga, stunting memiliki resiko jangka pendek maupun jangka panjang. Di mana untuk jangka pendek, seperti sering merasa kesakitan bahkan kematian, menghambat pertumbuhan saraf anak, perkembangan motorik lebih lambat, kesulitan dalam mengungkapkan bahasa ekspresif dan meningkatkan biaya kesehatan. Sedangkan untuk jangka panjang yaitu postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa, meningkatnya resiko obesitas dan penyakit lainnya, serta kesulitan dalam mengungkapkan bahasa ekspresif.
Sebagai solusi pencegahan maupun penanganan permasalahan stunting di Indonesia, diperlukan asupan gizi yang memadai terutama dari sumber pangan protein hewani. Asupan protein, khususnya protein hewani memiliki peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tulang pada manusia. Hal ini sejalan dengan pernyataan WHO, yang menjelaskan bahwa asupan konsumsi protein yang tidak memadai pada bayi maupun anak-anak akan mengakibatkan kegagalan untuk bertumbuh.
Salah satu sumber protein hewani yang layak dipertimbangkan yaitu protein hewani yang bersumber dari industri perunggasan seperti ayam, itik ataupun burung puyuh. Pangan hewani dari sektor perunggasan layak diperhitungkan, sebab memiliki keunggulan yaitu selain memiliki kandungan asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh, juga tersedia dengan harga yang relatif terjangkau bahkan lebih terjangkau apabila dibandingkan dengan sumber pangan hewani lainnya.
Akan tetapi, terdapat salah satu kendala yang cukup krusial dalam konsumsi pangan hewani, yaitu ketimpangan keamanan pangan protein hewani. Umumnya bahan pangan hewani memiliki kandungan nilai gizi yang tinggi terutama kandungan asam amino dalam protein. Namun, bahan pangan tersebut tidak ada artinya bila tidak aman untuk kesehatan. Maka dari itu, kualitas bahan pangan perlu mendapat perhatian. Lazimnya, upaya yang diaplikasikan untuk meningkatkan ketahanan pangan dengan memperhatikan kuantitas bahan pangan apakah bebas dari cemaran mikrobiologis, bahan-bahan kimia, logam berat, antibiotik dan racun (toksin). Keamanan pangan hewani merupakan interaksi antara status gizi, toksisitas mikrobiologis dan kimiawi yang saling berkaitan dan saling memengaruhi.
Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan keamanan pangan protein hewani dari sektor perunggasan, dapat diasumsikan melalui rekayasa pendekatan nutrigenomik. Nutrigenomik adalah ilmu yang mempelajari keterkaitan antara makanan dan ekspresi gen secara biomolekuler untuk mengetahui bagaimana nutrisi menentukan ekspresi genetik suatu individu. Ilmu nutrigenomik membantu dalam introduksi nutrien vital ataupun esensial, seperti asam amino, enzim pencernaan, hormon yang dapat disintesis pada hewan. Secara umum, pada hewan ternak, nutrigenomik mampu menautkan kesenjangan antara profil genetik dan pakan untuk efisiensi konversi yang lebih efektif, sehingga memberikan efek positif pada produktivitas ternak. Oleh sebab itu, aplikasi pendekatan nutrigenomik mampu menjembatani kesehatan, pakan dan profil genetik untuk meningkatkan produktivitas ternak yang bertujuan untuk menciptakan produk pangan protein hewani yang berasas ASUH.
Sebagaimana pada penelitian Evangelakou et al. (2019) yang melakukan studi nutrigenomik pada organisme model, seperti Drosophila melanogaster dengan pemodelan secara in vivo, memperoleh informasi bahwa pola konsumsi pakan sangat berpengaruh pada nutrigenomik suatu organisme yang juga akan memberikan dampak yang signifikan pada pola kesehatan organisme tersebut. Bahkan, pada unggas sekalipun dalam penelitian yang dilakukan oleh Gilani et al. (2021) yang mengaplikasikan pendekatan nutrigenomik pada DOC menunjukkan bahwa fitobiotik dan asam organik dapat ditambahkan sebagai pakan substitusi antibiotik sebagai upaya resistensi mikroba pada manusia. Alternatif ini mampu meminimalisir kelimpahan bakteri patogen dalam usus serta mampu meningkatkan populasi Lactobacillus spp. Sementara itu, pemanfaatan fitobiotik dan asam organik juga mampu mempertahankan aktivitas gen ghrelin hingga ke titik optimal melalui perubahan secara histologis pada usus dan kecernaan serta penyerapan nutrisi yang semakin baik. Hasil penelitian ini semakin menunjukkan betapa pentingnya interaksi antara gen, nutrisi dan mikroflora berdasarkan pendekatan nutrigenomik.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Evangelakou et al (2019) dan Gilani et al (2021) dapat disimpulkan bahwasanya dengan memperoleh produktivitas secara optimal pada ternak, tentunya akan berimbas pada keamanan pangan protein hewani. Oleh sebab itu penerapan terhadap pendekatan secara nutrigenomik perlu mendapatkan perhatian khusus dan diperhitungkan sebagai solusi keamanan pangan hewani di sektor perunggasan.
Nutrigenomik mampu menjadi preferensi ataupun opsi yang dapat ditaksir untuk meningkatkan produksi ternak, laju pertumbuhan, pemanfaatan pakan, ketahanan terhadap penyakit dan kesuburan. Genomik dapat membantu menjembatani kesenjangan antara peta genetik peternakan dan pakan, meningkatkan efisiensi transformasi dan produktivitas.
Secara umum, penelitian yang telah dilakukan mengindikasikan bahwasanya studi nutrigenomik telah menggunakan pendekatan secara molekuler seperti PCR dan rt-PCR untuk mendeteksi ekspresi beberapa gen. Namun, dengan seiring berkembangnya teknologi di bidang biomolekuler yang semakin pesat, analisis genom menawarkan solusi yang lebih efektif. Analisis genom tersebut dapat dilakukan dengan microarray dan pengurutan transkriptom massif (RNAseq). Melalui analisis tersebut, memungkinkan melakukan analisis dengan ekspresi gen dalam skala besar (Benítez, et al., 2017).
Teknologi inovatif ini didasarkan pada gagasan untuk mengumpulkan data throughput tinggi dengan mengotomatisasi dan paralelisasi protein dan sintesis DNA/RNA. Sehingga, aplikasi pendekatan nutrigenomik mampu mengidentifikasi pengaruh dan interaksi nutrisi pada ekspresi gen menggunakan metode ekspresi gen skala besar (Hasan et al., 2019).
Oleh sebab itu, aplikasi pendekatan secara nutrigenomik mampu menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas pada sektor perunggasan, sehingga menjadi preferensi untuk keamanan pangan protein hewani dan solusi untuk penanganan stunting di Indonesia. *Koresponden Poultry Indonesia
Menyukai ini:
Suka Memuat...