Oleh: Prof I Wayan Teguh Wibawan*
Diagnosa penyakit ditetapkan melalui langkah-langkah saintifik dalam bidang kedokteran, dimulai dari mendengar anamnesa, pemantauan langsung baik secara individual atau satu populasi ternak. Pengamatan gejala klinik secara cermat dipadukan dengan sejarah perjalanan penyakit dapat digunakan oleh dokter hewan untuk menegakkan diagnosa.
Khususnya pada peternakan ayam (poultry industry) dilakukan pemeriksaan dan pengamatan perubahan patologi-anatomi (PA) pada kadafer atau pada beberapa sampel ayam yang sakit dalam populasi tersebut. Jika suatu penyakit memiliki karakter dan perubahan PA yang menciri (patognomonis/khas) seorang dokter bisa relatif tepat menentukan diagnose penyakit tersebut.
Salah satu contoh penyakit pada unggas yang karakternya khas yaitu penyakit dengan tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi, menyebar cepat dan akut terutama pada kelompok ayam yang belum divaksin, dibarengi dengan adanya berak hijau dan gangguan pernapasan. Setelah dilakukan pemeriksaan PA pada kadafer terdapat perubahan PA antara lain proventriculitis, peradangan dan nekrose pada peyer patches dan perdarahan masif pada beberapa organ tubuh, maka dokter hewan akan menyatakan penyakit ini adalah Newcastle Disease (ND).
Demikian juga untuk beberapa penyakit lain yang “relatif mudah” ditetapkan untuk diagnosanya berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan PA, misalnya Marek Disease dan Lymphoid Leucosis (LL). Namun untuk mencari penyebab mengapa penyakit-penyakit tersebut bisa muncul, terutama pada kelompok yang sudah divaksin terhadap penyakit tersebut, diperlukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.
Penulis memahami bahwa tidak semua penyakit memiliki tanda-tanda klinis atau perubahan PA yang khas, artinya tanda tersebut bisa dimiliki oleh banyak jenis penyakit. Jika mengambil contoh semisal perdarahan organ-organ tubuh (Gambar 1), perdarahan ini bisa ditunjukkan oleh penyakit Avian Influenza (AI), ND, Cholera (pasteurellosis), Gumboro, atau penyakit lain. Untuk penyakit-penyakit yang tidak terlalu menciri maka pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk peneguhan diagnosa. 
Evaluasi elaksanaan vaksinasi
Evaluasi pelaksanaan vaksinasi memerlukan pemeriksaan nilai dan keseragaman titer antibodi, bisa dilakukan dengan Teknik konvensional yang sederhana (HI-Test, untuk titer antibodi ND dan AI) atau menggunakan Teknik ELISA (Enzyme Linked Immunosorbant Assay). Nilai dan keseragaman titer memiliki makna penting dalam dignosa. Titer antibodi yang tinggi dan seragam menandakan kelompok ayam dalam populasi tersebut sehat dan bugar, sehingga sebagian besar ayam dalam populasi tersebut merespon vaksin dengan sangat baik.
Jika nilai dan keseragaman titer antibodi populasi tersebut rendah dan tidak seragam, maka bisa mengindikasikan tingkat kesehatan ayam dalam populasi tersebut bermasalah dan dokter hewan kemudian dapat menelusuri penyebabnya. Mungkin hal tersebut disebabkan oleh kebugaran ayam tidak merata, juga kemungkinan terdapat substansi imunosupresan, serta mungkin terdapat hal yang menyulut stres (cekaman) yang berkaitan dengan kualitas nutrisi yang buruk.
Diagnosa gangguan produksi telur
Jika terdapat gangguan produksi pada telur, maka pola produksi telur terganggu. Akibatnya, tentu puncak produksi tidak tercapai atau produksi telur tidak ajeg juga dapat disebabkan oleh banyak faktor. Untuk mengetahui faktor apa saja yang paling dominan sebagai penyebabnya sering harus dibantu dengan pemeriksaan laboratorium. Gangguan produksi telur bisa disebabkan karena adanya manifestasi subklinis ND atau AI. Infeksi subklinis terjadi karena nilai titer antibodi yang tanggung dan adanya paparan virus lapang yang tinggi.
Meskipun tidak terjadi sakit atau kematian tetapi bisa mengganngu produksi telur pada ayam layer. Mengapa hal ini terjadi? Sebagian virus tidak bisa dinetralkan oleh antibodi yang titernya kurang baik dan dalam jumlah kecil virus masuk ke dalam sel-sel telur. Selanjutnya sel telur yang terinfeksi ini akan dihancurkan oleh sel T-Cytotoxic (cellular mediated immunity/CMI).
Dalam hal ini, dokter hewan mengetahui penyebabnya dan dapat memberi saran yang lebih tepat kepada peternak untuk mengatasi masalah ini. Misalnya dengan melakukan revaksinasi dan tindakan biosekuriti yang lebih seksama. Setelah hal ini dilakukan, selanjutnya kita bisa mengevaluai lagi nilai dan keseragaman titer dan ada tidaknya shedding virus dengan PCR di laboratorium.  Uji imunohistokimia untuk melihat keberadaan virus AI secara in situ dilakukan di laboratorium diagnostik yang memiliki sarana ini.
Deteksi Salmonella
Dalam rangka eksportasi hewan hidup atau produk asal hewan di dalam perdagangan internasional beberapa negara pengimpor mewajibkan persyaratan bebas bakteri Salmonella sp. Hal ini mutlak membutuhkan pemeriksaan laboratorium, bisa dilakukan pemeriksaan salmonella menggunakan rapid test, isolasi, identifikasi dan karakterisasi lanjut.
Seiring dengan program pemerintah yang akan mencanangkan Program Clean Salmonella, maka keberadaan Laboratorium Diagnostik tentu sangat dibutuhkan. Kebutuhan dan tuntutan masyarakat akan produk hewan yang ASUH (aman, sehat, utuh dan halal) menempatkan posisi Lab Diagnostik semakin penting.
Teknik ELISA
Teknik ELISA sebagai salah satu proses pengujian di laboratorium masih sangat banyak digunakan dalam deteksi agen penyakit atau mendeteksi jejak agen penyakit berupa antibodi spesifik yang diinduksinya. Penggunaan Teknik ELISA meliputi berbagai penyakit pada hewan (Gumboro, Infectious Bronchitis, Egg Drop Syndrome, Chicken Anemia Agent, dll).
Pelaksanaan ELISA umumnya dilakukan di dalam Laboratorium Diagnostik. Kepraktisan penggunaan metoode ini masih menjadi pilihan, karena dalam satu waktu dapat memeriksa puluhan sampel. Teknik ini dapat mendeteksi antigen atau antibodi, sesuai kebutuhan maka dikenal adanya antigen capture- dan antibody capture-ELISA.
Peran laboratorium dianostik ke depan
Tidak dapat disangkal lagi peran laboratorium diagnostik ke depan akan semakin penting dalam rangka menopang dan mempermudah para pelaku kesehatan hewan dalam mengoptimalkan pelaksanaan tugas-tugasnya. Keberadaan laboratorium ini sangat penting dan dibutuhkan untuk melayani tuntutan peternak dan masyarakat untuk memperoleh informasi yang lebih akurat tentang posisi kesehatan ternaknya serta mendapatkan jaminan keamanan akan produk asal hewan yang mereka konsumsi.
Hal ini perlu direspon secara positif dengan meningkatkan kompetensi pelayanan yang ditandai dengan adanya laboratorium diagnostik yang terakreditasi. Semoga kehadiran laboratorium diagnostik, khususnya untuk kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner (Kesmavet) semakin signifikan di masa yang akan datang. *Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University dan Staf Ahli Majalah Poultry Indonesia
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Sudut Kandang pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com