Paparan Fluorida di Rift Valley Afrika yang menyebabkan gangguan kesehatan pada unggas

Kandungan fluorida (fluoride) yang cukup besar ditemukan dalam tubuh unggas di kawasan Rift Valley, Benua Afrika. Unggas yang terpapar fluorida ini dianggap menjadi ancaman bagi manusia karena berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sekelompok peneliti yang tergabung dalam Flowered Project secara mengejutkan membuat sebuah pernyataan: ayam-ayam di kawasan Rift Valley mengandung fluorida yang cukup besar. Kelompok tersebut sejatinya dibiayai oleh Uni Eropa untuk menemukan solusi dari kontaminasi fluorida terhadap air kawasan Rift Valley—daerah Lembah Celah Afrika yang meliputi negara Ethiopia, Kenya, dan Tanzania. Adapun fokus penelitian ini dilakukan di wilayah Nakuru, Kenya, karena dianggap sebagai lokasi dengan tingkat kontaminasi tinggi.
Seorang peneliti yang berasal dari Department of Chemistry and Biochemistry Universitas Eldoret, Dr. Enos Wambu, menerangkan bahwa penelitian pada unggas dilakukan untuk mengetahui apakah hewan di sekitar danau Lakuru dan Elmentatia terkontaminasi fluorida. Unggas diambil dari beberapa peternakan yang dianggap representatif. Selain unggas, air dan tanah di sekitar kandang juga diambil sebagai sampel penelitian. Wambu mengatakan, dari hasil penelitian, air yang digunakan untuk keperluan minum unggas ternyata memiliki kandungan fluorida yang cukup tinggi.

Baca Juga : One Health Conference Revolusi Sains dan Teknologi Terkini

“Persentase besar ditemukan pada air minum unggas yang berasal dari Nakuru Timur, Nakuru Barat dan beberapa daerah di sekitarnya. Level kontaminasi tersebut melebihi standar World Health Organization (WHO) yaitu sebesar 1,5 miligram per kilogram,” ujar Wambu, seperti yang tertera di laman Daily Nation, Rabu (11/9). Ia melanjutkan, jika masyarakat mengonsumsi daging unggas yang diproduksi dari daerah ini, maka berpotensi meningkatkan kadar fluorida dalam tubuh. “Jumlahnya berkisar antara 1-14 miligram, dan rata-rata sebesar 4,5 miligram dalam setiap sajian yang berukuran seperempat bagian ayam,” ungkapnya.
Berdasarkan penuturan ahli geologi asal Universitas Eldoret, Prof. Elias Acakuwun, fluorida yang ada di daerah Nakuru tidak serta-merta muncul begitu saja. Kandungan fluorida ditemukan tergabung dalam berbagai batuan yang ada di sana. “Fluorida ini menemukan jalannya secara alami dan bercampur pada tanah, air, bahkan ke dalam tubuh manusia dan hewan,” jelasnya. Para peneliti pun mengingatkan bahwa jika hal ini dibiarkan secara terus menerus, maka akan timbul gangguan kesehatan dan penurunan produksi peternakan.
Menurut International Association of Oral Medicine and Toxicology (IAOMT), sebuah organisasi yang konsen dalam pembahasan fluorida, konsumsi berlebihan atas komponen ini dianggap menjadi penyebab beberapa masalah kesehatan. Risiko yang mungkin terjadi antara lain disfungsi tiroid, pelemahan sendi dan tulang hingga munculnya berbagai masalah syaraf.
Dampak negatif fluorida juga bisa memengaruhi kesehatan unggas. Masalah ini kemudian membuat biaya produksi peternak semakin membengkak. Pengeluaran yang bertambah untuk berbagai pencegahan dan pengobatan penyakit itu diperparah dengan kualitas produk yang tidak optimal dan menurunkan nilai jual. Terlebih lagi, di wilayah penelitian ini, hewan yang terkontaminasi bukan hanya unggas karena terdapat ruminansia seperti sapi dan kambing.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2019 dengan judul “Peneliti Temukan Unggas di Rift Valley Afrika Terpapar Fluorida”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153