Oleh : Muhsin Al Anas*
Sejarah penelitian aflatoksin dimulai pada tahun 1960 di Inggris, ketika lebih dari 100.000 ekor kalkun mendadak mati tanpa diketahui penyebabnya, sehingga disebut Turkey-X diseases. Tahun 1961, ditemukan bahwa penyebab kematian kalkun berkaitan dengan racun yang dihasilkan jamur Aspergillus flavus pada kacang yang berasal dari Brasil. Senyawa racun yang dihasilkan jamur tersebut kemudian dinamakan aflatoksin (A. flavus toxins).
Lebih dari 50 tahun (1961-2020), penelitian untuk mengetahui dampak aflatoksin banyak dilakukan pada bidang pertanian, peternakan, dan kesehatan karena aflatoksin dikategorikan senyawa karsinogenik, sehingga berbahaya apabila dikonsumsi oleh manusia dan hewan. Lalu, bagaimana perkembangan penelitian aflatoksin di Indonesia, terutama di bidang perunggasan? mengingat hasil survei Biomin (2019) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki risiko tinggi terhadap cemaran aflatoksin.
Iklim tropis Indonesia menyebabkan A. flavus mudah tumbuh. Temperatur (25-35 oC) dan kelembapan (>60%) yang tinggi membuat pertumbuhan jamur Aspergillus flavus dalam menghasilkan aflatoksin menjadi optimal. Hasil penelitian penulis, rerata cemaran aflatoksin pada pakan ternak unggas melebihi 50 ppb (standar maksimum yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia). 
Tingkat cemaran aflatoksin pada pakan ternak dapat mengalami peningkatan selama proses distribusi dan penyimpanan. Terlebih peternak belum melakukan manajemen penanganan pakan yang memadai. Gudang penyimpanan pakan sering tidak dilengkapi sirkulasi udara yang baik, sehingga membuat kelembapan cenderung tinggi. Kondisi tersebut menjadi faktor utama peningkatan cemaran aflatoksin dalam pakan selama proses on farm.
Baca Juga: Tekan Aflatoksin Pada Jagung dengan Limbah Cucian Kefir
Ternak unggas memiliki tingkat keracunan lebih tinggi dibandingkan ternak lain. Cemaran aflatoksin dalam pakan menyebabkan gangguan pada saluran cerna seperti peradangan dan pertumbuhan vili yang lebih pendek, sehingga pemanfaatan nutrien pakan tidak akan optimal. Selain itu, aflatoksin menyebabkan kerusakan hati yang membuat proses metabolisme tubuh terganggu. Aflatoksin juga menurunkan daya tahan tubuh (imunosupresif). Akibatnya, pertumbuhan bobot badan ternak lebih rendah, bahkan dapat terjadi peningkatan kematian. Kondisi tersebut tentu akan menyebabkan kerugian ekonomi.
Penelitian tentang aflatoksin dalam bidang perunggasan di Indonesia masih sangat terbatas. Hal tersebut didasari dari penelitian penulis secara bibliometric menggunakan 77 jurnal yang berhubungan dengan bidang peternakan pada database Scopus (47 jurnal) yang merupakan indekstasi jurnal skala internasional dan Shinta (30 jurnal) yang merupakan indekstasi di Indonesia.
Database Scopus menunjukkan bahwa penelitian aflatoksin di dunia mencapai 22.679 dokumen yang dipublikasikan dari tahun 1963-2020 (data Maret 2020), meskipun tidak semua dokumen berhubungan dengan peternakan atau perunggasan. Tren penelitian aflatoksin di dunia pun terus meningkat (Gambar 2). Indonesia hanya menghasilkan 89 dokumen dan tidak semua berhubungan dalam bidang peternakan, terlebih perunggasan. Berbeda jauh dengan Amerika, China dan India masing-masing menghasilkan 3.485, 1.929, dan 1.179 dokumen.
Selain itu, kebanyakan penelitian tentang aflatoksin di Indonesia berkaitan dengan pertumbuhan Aspergillus flavus dan survei cemaran aflatoksin pada bahan baku dan pakan ternak. Penelitian untuk mencegah dan menurunkan dampak aflatoksin pada ternak masih terbatas.*Dosen di Fakultas Peternakan UGM dan Koordinator Bidang IV PB ISPI
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2020 ini dilanjutkan pada judul “Kluster Penelitian Aflatoksin di Indonesia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153