POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kesejahteraan hewan atau animal welfare sudah seharusnya menjadi hak dari hewan ternak untuk dipenuhi. Penerapan kesejahteraan hewan yang masih belum masif di Indonesia melatarbelakangi kegiatan webinar dengan tema “Penerapan Kesejahteraan Hewan dan Logistik Produk Unggas” yang diselenggarakan oleh Divisi Unggas  dari Departemen Ilmu Produksi & Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan, IPB University, Selasa (20/12).
Ketua Departemen IPTP, Fapet IPB University, Dr. Ir. Tuti Suryati, S.Pt., M.Si, menyampaikan apresiasinya kepada Divisi Unggas Departemen IPTP atas terlaksananya webinar ini. Dirinya berharap webinar ini dapat menjadi wadah untuk berbagi informasi terbaru terkait perkembangan industri perunggasan serta tentang animal welfare dan logistik.
“Kami harapkan sesi diskusi hari ini dapat bermanfaat untuk kemajuan perunggasan. Topik kesejahteraan hewan dan logistik merupakan topik krusial yang tentu saja berguna untuk meminimalkan risiko kerugian dan meningkatkan kesejahteraan hewan ternak. Dampaknya peternak sejahtera juga akan sejahtera. Hal ini akan berdampak lebih besar dalam pemenuhan kesejahteraan kita semua,” ujarnya.
Selaku Kepala Divisi Unggas, Prof. Dr. Ir. Iman Rahayu Hidayati Soesanto, MS, menyampaikan bahwa alasan mengapa topik mengenai kesejahteraan hewan dan logistik ini diangkat adalah karena keadaan miris yang sering dilihat di jalanan. Kondisi seperti orang naik motor membawa ayam dengan posisi kaki ayam di atas dan membawa ayam dengan truk pada siang hari melatarbelakangi diadakannya webinar ini.
“Menurut saya, [keadaan yang terjadi] itu menyiksa ternak. Turunan dari animal welfare adalah tidak bolehnya unggas tersiksa dari awal pemeliharaan hingga saat akan disembelih. Kalau ternaknya sejahtera dan tidak tersiksa, maka karkas yang dihasilkan akan baik,” terangnya.
Sementara itu, Dr. Ir. Rudi Afnan, S.Pt., M.Sc., Agr, selaku Dosen Divisi Unggas IPTP, mengatakan bahwa transportasi yang baik adalah yang dapat menekan inventory loss. Menurutnya, waktu transportasi yang relatif pendek memiliki dampak signifikan terhadap kualitas day old chick (DOC) dan performa pemeliharaannya di farm. Inventory loss yang dapat terjadi adalah luka pada tubuh ayam, memar, cedera atau patah, susut bobot badan, stres, lemah, sakit, hingga kematian.
Rudi mengatakan bahwa transportasi yang baik akan mengurangi hidden loss, seperti kematian saat sampai tempat tujuan (dead on arrival/DOA), mortalitas, penurunan bobot badan, perkembangan saluran pencernaan yang terhambat, penurunan imunitas, serta besarnya FCR dan pertumbuhan yang tertahan.
“Proses transportasi broiler terdiri dari pre-loading, loading, travelling, unloading, dan post-unloading. Dalam tahap pre-loading, dilakukan pemuasaan pakan, penggiringan, penangkapan, penimbangan, dan pemasukkan ke dalam krat. Pemuatan ke dalam krat per 5 ekor agar tidak menimbulkan stres. Setelah itu, tahap loading terdiri dari pemuatan krat, penyusunan, penyiraman, dan dwelling. Jumlah krat harus sesuai ukuran moda dan tinggi tumpukan krat maksimal setinggi kap depan moda, serta ada jarak antar tumpukan,” jelasnya.
Inventory loss dapat ditekan dengan mengatur jadwal kedatangan kendaraan. Pada transporter, yang dapat diatur adalah jam berangkat ke farm, estimasi lama perialanan, estimasi kedatangan di farm, dan persiapan muat. Pada farm, jadwal yang dapat diatur adalah jadwal muat dan target selesai, jadwal keluar dari farm, estimasi lama perjalanan ke rumah potong ayam (RPA), serta estimasi kedatangan di RPA.
Baca Juga: Pakar Ekonomi UNAIR Prediksi Terjadi Peningkatan Demand dan Harga di Tahun 2023
“Solusi operasional yang dapat dilakukan adalah memastikan lokasi kandang tidak terlalu jauh dengan RPHU, menghitung jarak dan waktu perjalanan serta standar susut, mengawasi dan melakukan monitoring perjalanan, memodifikasi kendaraan angkut dengan penampungan dan saluran air minum ayam, review isi per keranjang, serta review ruang dan waktu tunggu kendaraan,” terangnya.
Masih dalam kesempatan yang sama, Ir. Feri, S.Pt., M.M, selaku Kepala Divisi Wirausaha Hanter IPB University, menyampaikan materinya mengenai logistik dan tata niaga produk telur di Indonesia. Fokus pada industri perunggasan telur konsumsi, Feri mengatakan bahwa telur harus sampai kepada konsumen secara utuh. Dalam penjualan telur, kualitas dan ukuran telur menjadi parameter tersendiri. Kualitas dari telur, seperti warna dan kekuatan kerabang, bergantung pada pakan yang dikonsumsi oleh ayam dan manajemen pemeliharaannya. Meski begitu, ukuran telur tetap bergantung pada jenis dan usia unggas.
“Sistem penjualan telur dibagi menjadi dua, yakni berdasarkan berat telur dan butiran. Berdasarkan berat telur, berat bersih kemasan peti adalah 15 kg untuk area Jawa Barat, sedangkan area Jawa Tengah atau Jawa Timur adalah 10 kg. Penjualan dengan sistem butiran dapat menggunakan kemasan tray dengan isi 30 butir dan kemasan premium dengan isi 10 butir dengan bahan kemasan dari plastik maupun kertas,” ujarnya.
Feri kemudian mengatakan bahwa penjualan berdasarkan berat telur tentu mengutamakan berat per butir telur, meski ukuran telur bisa saja kecil atau sedang. Sedangkan penjualan dengan sistem butiran mengutamakan persen Hen Day dan ukuran telur relatif lebih besar.  Mengenai transportasi untuk logistik telur, Feri mengatakan bahwa di area Jawa Barat, tanggung jawab pengiriman telur dengan peti biasa dilakukan oleh peternak.
“Peternak akan mengirim telur sampai ke tujuan. Umumnya pengiriman dilakukan di area sesama Jawa Barat atau ke DKI Jakarta. Armada dan pengemudi dari peternakan itu sendiri. Kalau lintas provinsi, peternak biasanya menggunakan jasa sewa truk atau dengan truk milik sendiri. Umumnya, pengiriman telur lintas provinsi menggunakan tray kertas karena jumlah telur yang pecah relatif lebih sedikit. Namun, biasanya untuk lintas pulau, pengiriman dihitung per butir dan biasanya ukuran yang lebih besar harganya lebih mahal,” pungkasnya.