Untuk meningkatkan efisiensi karkas unggas harus semakin dekat dengan masyarakat.
Untuk meningkatkan efisiensi karkas unggas harus semakin dekat dengan masyarakat.
Idealnya memang penerapan budi daya yang sangat efisien bisa meniru dari apa yang sudah dilakukan oleh negara penghasil ayam ras pedaging dunia, atau eksportir karkas ayam terbesar di dunia. Namun tak serta merta setiap negara bisa melakukan hal yang sama dari negara tersebut. Mengingat terletap beberapa perbedaan baik dari segi geografis, iklim, maupun sumber daya yang dimiliki oleh negara tersebut.

Budi daya ayam ras pedaging yang ideal tentunya harus menghasilkan produk yang kompetitif yaitu harga yang murah bagi konsumen, namun tetap bisa memberikan nilai ekonomis bagi setiap pelaku usaha yang terlibat di dalamnya, tanpa harus ada yang dirugikan.

Maka dari itu, penerapan pola budi daya yang baik hendaknya mengikuti apa yang menjadi kekuatan dari negara tersebut. Seperti yang sudah dikemukakan pada tulisan sebelumnya, negara Thailand memang tidak seefisien Brasil dan Amerika serikat jika hanya melihat dari produk karkasnya, maka dari itu Thailand melihat potensi lain melalui nilai tambah dari further processing. Contoh lain adalah bagaimana negara Belanda bisa bangkit dari keterpurukan akibat wabah flu burung di tahun 2000. Wabah tersebut menyebabkan kematian 30 juta ekor ayam yang membuat banyak bisnis unggas memilih untuk gulung tikar.
Akibatnya, produksi unggas nasional di Belanda menurun sebesar 25%. Namun, setelah 13 tahun, negeri ini berhasil bangkit dan bisa memenuhi kebutuhan daging ayam (200%) dan telur (330%) di dalam negeri. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana negara yang memiliki 4 musim dan keterbatasan lahan ini bisa menjadi salah satu raksasa industri perunggasan di daratan Eropa.
Berdasarkan tulisan dari Fahmi Habibi kepada Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2022 dalam tulisannya dengan judul “Penerapan animal welfare pada industri perunggasan di Belanda”, mengatakan bahwa Peningkatan permintaan pada peternakan dengan sistem pemeliharaan animal-friendly atang dari ritel yang ada di Belanda.
Saat ini, semua supermarket yang ada di Belanda hanya menerima produk-produk unggas (khusus daging dan telur) yang berasal dari peternakan yang animal friendly. Sebenarnya hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri bagi peternak unggas di Belanda, mengingat regulasi ini akan mengubah sistem produksi mereka secara signifikan, tetapi pada akhirnya peternak tetap diberikan pilihan untuk menjalankan bisnis prosesnya.
Peternak, pemerintah dan pelaku usaha di Belanda sadar bahwa ada segmen pasar yang mulai bergeser ke arah intensif, menjadi ekstensif. Perubahan tersebut memang malah menjadikan pola budi daya yang dilakukan menjadi tidak efisien karena input produksi yang diberikan oleh peternak tidak akan seefisien jika ternak dipelihara dengan model intensif. Akan tetapi ada gerakan pasar yang menginginkan produk dengan kriteria tersebut, maka pelaku usaha harus juga cepat menangkap potensi pasar.
Sedangkan untuk Indonesia, menurut drh. Desianto B. Utomo PhD selaku Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) menyebutkan bahwa jika Indonesia ingin efisien, maka harus ada beberapa upaya yang harus dilakukan. Negara maju menerapkan prinsip economic of scale dan para peternak memang sebaiknya masuk ke sistem integrasi vertikal.
“Negara maju mereka lebih mengutamakan efisiensi terutama di dalamnya adalah skala pemeliharaan atau jumlah ayam yang dipelihara di setiap kandang. Ada scale of economic disana. Kedua, para atau peternak adalah bagian dari suatu sistem yang teritegrasi secara vertikal secara sistem,” jelas Desianto saat diwawancarai melalui aplikasi persesanan Whatsapp Senin, (29/7).
Selain itu, Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan iklim tropis yang notabene lebih subur dari negara subtropis, semestinya bisa meningkatkan produksi bahan pakan lokal agar harga pakan bisa ditekan yang ujungnya adalah memberikan efisiensi. “Cost structure dari budi daya ayam ras pedaging 70% adalah dari pakan, dan biaya pembentukan harga pakan sebesar 80%. Sedangkan pakan yang tersedia di Indonesia, pemenuhannya masih mengandalkan impor,” ungkap Desianto.
Saat ini memang sudah banyak peternak yang ikut ke dalam sistem kemitraan, baik yang berupa horizontal maupun vertikal. Akan tetapi menurut Desianto, budi daya di Indonesia masih banyak yang belum menggunakan teknologi terkini. Dampaknya, potensi produksi dari ternak yang dipelihara dengan open house tanpa sentuhan teknologi tidam mampu mengeluarkan potensi produksi terbaiknya.
“Sebagian besar saat ini sudah melakukan kemitraan. Baik horizontal maupun vertikal baik peternak mandiri maupun peternak rakyat. Baik melakukan kemitraan dengan peternak besar atau langsung dengan integrator. Akan tetapi Indonesia masih kurang efisien dalam menghasilkan broiler dikarenakan masih banyak yang menggunakan open house, sehingga kematian bisa mencapai 8% rata – rata nasional dibandingkan dengan closed house yang hanya 2%. Perbandingan FCR antara penggunaan sistem closed house dengan open house bisa mencapai 34-40 basis poin,” ucap Desianto.
Maka dari itu, Desianto berharap agar pemerintah bisa memfasilitasi kredit bunga rendah untuk peternak seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga 6% atau kurang dari itu, agar para peternak bisa melakukan revitalisasi dan mampu mengadopsi teknologi terkini dalam kegiatan budi dayanya.
“Kami berharap agar pemerintah bisa memberikan akses terhadap permodalan untuk kegiatan budi daya, agar para peternak bisa melakukan pinjaman untuk meningkatkan skala usaha, maupun modernisasi peralatan agar bisa lebih efisien,” ungkapnya.
Selain itu Desianto juga berharap agar pemerintah bisa memberikan keringanan terhadap perusahaan pakan melalui subsidi bea masuk bahan pakan impor. Hal ini bertujuan agar harga pakan bisa ditekan sehingga para peternak bisa mendapatkan harga pakan yang lebih ekonomis.
“Kami juga berharap agar bisa menekan harga bahan pakan jika pemerintah memberikan fasilitas subsidi pada bea masuk yang ditanggung oleh pemerintah, atau dibebsakan bea masuknya seperti yang terjadi di berbagai negara lainnya untuk mengurangi biaya produksi para peternak,” pungkas Desianto.
Dalam kesempatan terpisah, menurut Achmad Dawami selaku ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), menyatakan bahwa idealnya memang pola budi daya yang diterapkan oleh para peternak adalah terintegrasi secara vertikel dengan tetap berprinsip pada hubungan yang saling menguntungkan. “Kemitraan itu memang sudah merupakan sudatu keniscayaan, bahkan menurut Peraturan Presiden nomor 21 tahun 2021 tentang Budang Usaha Penanaman Modal, mengatakan bahwa peternakan ayam broiler itu adalah ranahnya kemitraan. Tujuannya tentu untuk bisa memberikan produk berupa karkas dan olahan ayam yang terjangkau bagi masyarakat, dan memberikan nilai ekonomis bagi para pelaku yang terlibat di dalamnya,” ungkap Dawami.
Hal tersebut juga semakin diperkuat dengan kondisi di lapangan dari para anggota GPPU. Dawami mengakui bahwa saat ini sudah jarang terlihat adanya anggota yang melakukan perdagangan dengan pola “jual putus” antara pembibit dan peternak.
“Saat ini memang sudah jarang ditemui para anggota yang melakukan skema “jual putus” kepada para peternak. Saat ini umumnya anggota GPPU bekerjasama, bentuknya bisa berupa bagi hasil, kemitraan, atau memiliki kandang sendiri. Sebetulnya yang tidak kita ketahui bersama adalah ketika DOC dikirim dan dipelihara oleh peternak, hasilnya baru bisa terlihat satu bulan kemudian. Harga jual karkas bagimana itu kita tidak ada yang tahu, sehingga baik perusahaan maupun peternak melakukan kemitraan adalah hal yang bijak,” terang Dawami.
Selain itu, memang tidak bisa dipungkiri bahwa jika peternak merasa tidak cocok untuk bermitra secara langsung dengan perusahaan melalui skema integrasi vertikal, maka peternak harus berinovasi untuk bisa memasarkan atau minimal menjual produk tidak hanya berupa ayam hidup, tapi berupa karkas yang langsung diedarkan ke konsumen akhir.
“Permasalahannya yaitu para peternak yang tidak teritegrasi itu, mereka membeli pakan sendiri, bibit sendiri, dengan masing masing perusahaan sapronak tentu mencari untung. Sedangkan produk akhirnya tidak bisa diprediksi berapa harganya. Maka dari itu para peternak harus berinovasi supaya kegiatan budi daya yang dia lakukan bisa mendatangkan nilai ekonomi. Memotong rantai distribusi itu memang penting, dan harus dilakukan oleh peternak jika tidak mau melakukan kemitraan,” jelas Dawami.
Maka dari itu Achmad Dawami berpesan kepada para pelaku usaha di bidang perunggasan, bahwa untuk menghasilkan produk karkas yang efisien, maka parapelaku usaha harus cermat dalam membaca pangsa pasar yang akan disasar. Dengan mendekatkan diri kepada pasar sekaligus memotong mata rantai, maka tentu akan ada efisiensi yang bisa didapat sehingga produk yang dihasilkan bisa efisien.
“Saya berpesan kepada seluruh stakeholder perunggasan agar bagaimana caranya bisa terus melakukan upaya mendekatkan diri kepada konsumen, karena prinsip dari usaha perunggasan itu tentunya jangan telalu jauh dengan pangsa pasar yang dituju, kecuali kalau sudah further processing,” ujarnya.
Potensi Indonesia sebagai penghasil broiler di tingkat budi daya yang sudah mumpuni, memang perlu dijadikan patokan dalam membuat grand design industri perunggasan kedepannya. Dengan merubah sistem individual menjadi berkelompok dengan semangat kolaborasi dan diiringi koordinasi yang baik antar stakeholder sejatinya bisa menjadi jalan keluar agar produk yang dihasilkan bisa kompetitif. Tentu tanpa mengurangi kesempatan sebesar besarnya bagi masyarakat untuk ikut terlibat di setiap mata rantai perunggasan, dan bertujuan untuk memberikan komoditas daging ayam ras dan turunannya yang ekonomis bagi masyarakat.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari rubrik Laporan Utama yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia edisi September 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153