Memahami pengaruh nutrisi terhadap kurva pertumbuhan dan komposisi tubuh pullet dapat membantu merancang strategi pemberian pakan baru yang mempengaruhi komposisi tubuh dan kinerja produksi telur jangka panjang. 
Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh kepadatan nutrisi (energi metabolisme dan asam amino esensial rendah, sedang, atau tinggi) yang diberikan selama fase pemeliharaan hingga usia 17 minggu terhadap pertumbuhan, perkembangan komposisi tubuh, dan performa produksi telur ayam Hy-Line White W80 hingga usia 35 minggu. Data dianalisis menggunakan model campuran. Untuk menentukan hubungan alometrik multiphasic antar komponen tubuh, kurva pertumbuhan keseluruhan dibuat dan titik infleksi ditentukan.  
Peningkatan bobot badan (BW) linear pada akhir fase pemeliharaan, akibat peningkatan kepadatan nutrisi pakan, tetap bertahan selama fase produksi puncak hingga usia 35 minggu. Parameter produksi telur tidak terpengaruh oleh kepadatan nutrisi pakan selama fase pemeliharaan. Persentase protein kasar pada dada dan tubuh tidak dipengaruhi oleh perlakuan pakan, sedangkan persentase lemak kasar tubuh dan bantalan lemak abdominal meningkat secara linear dengan kepadatan pakan sejak usia dini. Protein kasar tubuh awalnya disimpan dengan laju yang sama dengan bahan kering tubuh. Pada fase pertumbuhan kedua, mulai dari usia 12 minggu, deposisi protein kasar lebih rendah dibandingkan deposisi bahan kering tubuh, tetapi tidak dipengaruhi oleh kepadatan pakan. Sebaliknya, lemak kasar tubuh awalnya tumbuh dengan laju lebih rendah dibandingkan bahan kering tubuh, tetapi meningkat dalam laju deposisi selama fase pertumbuhan kedua yang dimulai pada minggu ke-2 hingga ke-5.  
Pullet yang diberi pakan dengan kepadatan tinggi menunjukkan deposisi lemak kasar yang lebih tinggi dibandingkan bahan kering tubuh selama fase pertama hingga minggu ke-2, tetapi menunjukkan deposisi lemak kasar yang lebih rendah selama fase kedua hingga minggu ke-8. Hasil ini menunjukkan bahwa hingga sekitar minggu ke-12, deposisi protein kasar menjadi penggerak utama pertumbuhan dan tidak dipengaruhi oleh kepadatan pakan. Mulai minggu ke-5 hingga ke-6, deposisi lemak kasar relatif terhadap protein meningkat dan dipengaruhi oleh kepadatan pakan sejak usia dini.
Dalam 50 tahun terakhir, kapasitas produksi telur sepanjang masa hidup ayam petelur telah meningkat pesat dari 220 butir pada tahun 1960 menjadi 500 butir pada tahun 2019 (Martin, 1960; Anderson, 2019). Peningkatan ini dicapai melalui seleksi genetik, manajemen yang lebih baik, strategi pemberian pakan yang optimal, dan pengembangan pullet yang tepat hingga usia 17 minggu (Bain et al., 2016; Wang et al., 2017; Underwood et al., 2021). Meski demikian, kontribusi perkembangan awal terhadap produksi telur belum sepenuhnya dipahami. Sebagian besar studi tentang perkembangan pullet berfokus pada pencapaian bobot badan target di akhir fase pemeliharaan, yang berkorelasi positif dengan peningkatan produksi massa telur selama masa bertelur (Bouvarel et al., 2011). Selain bobot badan absolut, komposisi tubuh pullet (protein kasar, abu kasar, dan lemak kasar) serta kondisi tubuhnya juga harus diperhatikan (Kwakkel et al., 1993). Protein kasar disimpan dalam otot, jaringan penting, dan organ, sedangkan abu kasar digunakan untuk struktur tulang, dan sebagian besar lemak kasar terakumulasi dalam jaringan adiposa.
Jaringan adiposa penting untuk menjaga keseimbangan energi tubuh dan dapat berfungsi sebagai cadangan energi ketika asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan energi ayam (Barboza dan Hume, 2006), seperti saat puncak produksi telur. Oleh karena itu, tingkat minimum jaringan adiposa yang belum diketahui pada awal masa bertelur mungkin bermanfaat untuk mendukung produksi. Di sisi lain, pullet dengan kondisi lemak tubuh tinggi saat awal masa bertelur telah terbukti memiliki tingkat produksi telur yang lebih rendah (Milisits et al., 2015) dan berat telur yang lebih kecil selama fase bertelur (Cheng et al., 1991). Persentase lemak tubuh pullet mungkin memiliki tingkat optimal tertentu, di mana produksi telur akan menurun jika melebihi tingkat tersebut.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com