Oleh : Muhammad Pramujo, S.Pt., M.Si.*
Ayam dikenal sebagai makhluk yang mudah stres dan membutuhkan perhatian ekstra, terutama broiler modern. Broiler modern diperoleh dari kombinasi persilangan galur murni unggul (genetic selection dan cross breed). Pola pertumbuhannya sangat selektif dan cenderung lebih peka terhadap setiap perubahan yang ada. Broiler modern dapat tumbuh sangat cepat dengan asupan yang baik, sehingga dalam pemeliharaannya broiler menuntut formula diet yang lebih spesifik. Dengan karakteristik yang ada, aspek tata laksana pemeliharaan tentu menjadi perhatian, terutama manajemen pakan, baik jumlah, rasio, dan ketersebarannya.
Kondisi lingkungan Indonesia yang merupakan negara tropis memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap serangan penyakit pada hewan ternak, terutama penyakit yang disebabkan oleh bakteri patogen dan virus. Selain itu, kondisi suhu di Indonesia juga cenderung tinggi, sehingga dapat menyebabkan stres panas. Stres panas dan serangan penyakit pada hewan ternak dapat menghambat laju pertumbuhan, menurunkan kualitas produksi, hingga meningkatkan angka kematian hewan ternak.
Berbagai cara telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas broiler serta mencegah kematian akibat stres dan penyakit oleh para peternak. Salah satunya adalah penggunaan feed additive antibiotic growth promoter (AGP). Peran feed additive sangatlah esensial dalam mengurangi resiko stres panas dan penyakit. Sayangnya, industri peternakan menemukan tantangan ketika memasuki tahun 2018. Pada bulan Januari 2018, penggunaan AGP dalam dunia peternakan mulai dilarang. Pelarangan ini sangat berpengaruh terhadap produktivitas ternak, terutama broiler, di negara beriklim tropis.
Di sisi lain, larangan penggunaan AGP membuahkan beberapa alternatif pengganti AGP yang potensial, seperti probiotik, prebiotik, dan enzim, untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas ternak. Kitosan, yang merupakan salah satu prebiotik, dapat digunakan sebagai alternatif pengganti AGP. Suplementasi 0.1% kitosan diketahui dapat menurunkan jumlah E. coli dalam saluran pencernaan ayam, meningkatkan kepadatan mikrovili usus halus, hingga meningkatkan performa pertumbuhan dan serum titer antibodi untuk melawan virus Newcastle Disease. Kitosan dalam bentuk Oligochitosan, biasa disebut Chitosan Oligosaccharide (COS), memiliki berat molekul yang lebih kecil yaitu 1000-5000 Da. Hal ini membuat COS lebih mudah diserap dalam saluran pencernaan, sehingga dapat mengoptimalkan fungsinya sebagai alternatif antibiotik.
Suplementasi Oligochitosan juga diketahui dapat meningkatkan kecernaan nutrien pada ileal, sehingga meningkatkan performa broiler. Oligosakarida lainnya, seperti Fructooligosaccharide (FOS) dan Mannan Oligosaccharide (MOS) juga sudah digunakan sebagai alternatif antibiotik. Kedua substansi ini bekerja melalui banyak mekanisme, termasuk dengan cara menghambat adsorpsi enteric patogen, memodulasi fungsi imun, dan pengaturan metabolisme nutrien.
Mekanisme Oligosaccharide dalam meningkatkan performa ternak adalah dengan meningkatkan pemanfaatan arginine di dalam usus. Arginine merupakan asam amino esensial bagi tubuh ayam broiler yang berperan dalam sintesis Nitric Oxide (NO) dan polyamine yang terlibat dalam proses modulasi inflamasi dan penyembuhan luka. Ayam membutuhkan arginine dalam jumlah banyak untuk memproduksi NO yang berperan penting dalam proses pembunuhan parasit pada kasus koksidiosis. Hal ini menunjukkan bahwa arginine juga mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada hewan ternak.
Berdasarkan kondisi yang ada, penulis melakukan penelitian mengenai penambahan Chitosan Oligosaccharide (COS) dan L-arginine pada pakan broiler untuk mengetahui pengaruhnya terhadap rasio konversi energi dan protein. Penelitian ini dilakukan pada 300 ekor broiler Lohmann umur 1 hari dengan rata-rata bobot badan 46 ± 0,7 g yang telah divaksinasi terhadap Newcastle Disease, Infectious Bursal Disease, dan Avian Influenza.
Ransum yang diberikan adalah dalam bentuk crumble untuk fase starter dan pellet untuk fase finisher dengan masing-masing kandungan protein kasar 22,5 % dan 20,59% serta energi metabolis (ME) 3100 kkal kg-1 dan 3200 kkal kg-1. Bahan tambahan yang digunakan adalah COS feed grade dengan bobot molekul antara 1000-5000 Da dan L-arginine. Kedua bahan tambahan ini kemudian dicampur dengan premix terlebih dahulu sebelum dicampur dengan ransum basal.
Tabel 1. Kelompok perlakuan penelitian
Perlakuan |
|
Kelompok |
Keterangan |
T0 |
Pakan basal (Kontrol negatif) |
T1 |
Pakan basal + Zinc Bacitracine 200 mg kg-1 (kontrol positif) |
T2 |
Pakan basal + COS 100 mg kg-1 |
T3 |
Pakan basal + L-arginine sampai 1.9% |
T4 |
Pakan basal + COS 100 mg kg-1 + L-arginine sampai 1.9% |
Berdasarkan pembagian kelompok pada Tabel 1, ditemukan hasil berupa suplementasi COS 100 mg kg-1 (T2) pada broiler mampu meningkatkan konsumsi energi dan protein dibandingkan dengan perlakuan kontrol negatif (T0) (P<0.05) dan memberikan hasil yang tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan perlakuan yang diberi AGP sebagai kontrol positif (T1), bahkan cenderung lebih tinggi dilihat dari nilai rata-ratanya.
Menurut penulis, hasil ini sejalan dengan penelitian Gibson dan Roberfroiid (1995) dan Patterson dan Burkholder (2003) yang melaporkan bahwa COS mampu meningkatkan fungsi sistem imun ayam, sehingga dalam kondisi tubuh yang sehat, nafsu makan broiler tetap terjaga atau bahkan meningkat. Sedangkan pada perlakuan suplementasi L-arginine (T3) dan kombinasi COS + L-arginine (T4), ditemukan hasil tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi energi dan protein dibandingkan dengan perlakuan kontrol negatif (T0) maupun kontrol positif (T1).
Tabel 2. Rasio konversi energi dan protein pada broiler
Peubah |
Perlakuan |
||||
P0 |
P1 |
P2 |
P3 |
P4 |
|
KE (kkal) |
8.584,72±384,31 |
8.785,50±397,89 |
9.175,04±200,72 |
8.524,44±428,99 |
8.568,21±409,28 |
KP (g) |
578,00±24,90 |
591,75±26,19 |
618,52±13,36 |
575,65±28,66 |
577,90±26,96 |
RKE |
5,36±0,12 |
5,15±0,10 |
5,20±0,09 |
5,12±0,17 |
5,07±0,15 |
RKP |
0,360±0,01 |
0,348±0,01 |
0,351±0,01 |
0,346±0,01 |
0,343±0,01 |










