POULTRYINDONESIA, Jakarta – Penyakit yang menyerang ayam biasanya juga berpengaruh terhadap produktivitas ayam tersebut. drh. Eko Prasetio menyampaikan bahwa menjaga saluran pernapasan ini penting dilakukan mengingat ayam modern sangat membutuhkan asupan udara segar yang melimpah untuk mengoptimalkan metabolisme tubuhnya. Hal tersebut tentu dapat dipenuhi oleh saluran pernapasan yang prima.
Eko menambahkan bahwa apabila pengawasan dalam proses pemeliharaan kesehatannya ternak cenderung lengah, maka dapat menimbulkan munculnya infeksi yang ada di saluran pernapasan dan berimplikasi pada pertambahan berat badan harian tidak optimal. Hal tersebut tentu dapat menimbulkan kerugian yang fatal. Kerugian tersebut juga bervariasi, dari yang levelnya rendah sampai tinggi.
Baca Juga: Tolong Lebih Perhatikan Lagi Peternak Layer
Masih menurut Eko, kejadian penyakit di mana kondisi penyakitnya belum terlalu parah bisa menyebabkan angka pertambahan berat badan harian atau Average Daily Gain (ADG) menurun hingga 30%. Pada saat peternak melakukan akselerasi proses budi daya namun penyesuaian tata laksana manajemen terlambat, atau bahkan tidak segera melakukan panen terhadap ayam yang sakit, bisa menyebabkan kerugian yang lebih tinggi dengan meningkatnya kematian (30-40%), penurunan Indeks Performance (IP) (80-100 poin) bahkan Feed Conversion (FC) bisa naik 0,2 dari standar yang diharapkan.
Masih seputar kerugian ekonomi, apabila dihitung secara ekonomi serta melihat dari harga pokok produksi, berdasarkan perhitungan dari harga pokok produksi (HPP) dari salah satu peternak, pada suatu kandang ayam yang terkena CRD pada sistem closed house akan menghasilkan bobot badan (BB) 1,85 kg, FC 1,5. Jika harga pakan Rp 7.500 per kilogram, harga day old chick (DOC) Rp 7.500, dan biaya operasional Rp4.000, maka perhitungan HPP dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rumus perhitungan HPP broiler yang terkena CRD pada kandang closed house
Rumus = (BB x FC x Pakan) + DOC + Operasional)/BB= (1,85 x 1,5 x 7.500) + 7.500 + 4.000)/1,85= Rp17.466/kg |
Sementara, pada broiler yang tidak terkena CRD dan dipelihara pada sistem perkandangan dan harga pakan maupun DOC yang sama akan menghasilkan BB 2 kg, FC 1,42. Menggunakan perhitungan yang sama, kandang ini akan menghasilkan HPP Rp16.400 per kilogram atau selisih Rp1.066 per kilogram broiler dari kandang yang terkena CRD.
Pada kandang open house, nilai HPP yang dihasilkan pada kasus CRD akan lebih besar lagi. Bobot badan yang dihasilkan yaitu 1,45 kg, sedangkan FC 1,58. Jika diasumsikan harga pakan di kisaran Rp7.500, DOC Rp7.500, dan operasional Rp2.000, maka HPP-nya yaitu Rp18.401 per kilogram atau selisih Rp935 per kilogram broiler dengan broiler yang dipelihara pada kandang closed house yang terserang CRD.
Pada ayam petelur, H. Anas selaku peternak layer yang berlokasi di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan mengatakan bahwa penyakit pernapasan yang sering terjadi pada ternaknya yaitu CRD/CRD kompleks dan sangat berpengaruh pada produksi telurnya. “Jumlah kematian tiap harinya bisa bertambah sekitar 8-15 ekor dan berpengaruh juga pada produksi telur yg biasanya petelur 80-91% bisa menurun 20-30% atau sekitar 65-70% saja,” ujarnya.
Selain penyakit pernapasan akibat bakteri, penyakit pernapasan akibat virus juga perlu diwaspadai karena penularannya yang terbilang cepat dan dapat memberikan dampak ekonomi yang cukup besar bagi peternak. Tingkat kerugian tersebut disebabkan oleh adanya penurunan produksi dan kematian unggas. Tingkat kematian, penularan, dan penurunan produksi penyakit pernapasan akibat infeksi virus terdapat pada Tabel 2.
Tabel 2. Tingkat kematian, penularan, dan penurunan produksi akibat penyakit viral
Penyakit |
Tingkat Kematian |
Tingkat Penularan |
Penurunan Produksi |
Newcastle Disease |
30-100% |
40-100% |
15-30% |
Avian Influenza |
50-100% |
20-100% |
15-30% |
Infectious Bronchitis |
15-20% |
40-100% |
20-40% |
Infectious Laryngotracheitis |
5-20% |
10-30% |
20-50% |









