POULTRYINDONESIA, Jakarta – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian, menyelenggarakan kegiatan Koordinasi Pengembangan Ayam Petelur Tahun Anggaran (TA) 2026 secara daring pada Senin (30/03/2026). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memperkuat tata kelola program sekaligus memastikan pelaksanaannya berjalan efektif, efisien, dan tepat sasaran.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Hary Suhada, serta dihadiri perwakilan Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian dan 23 Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) dari berbagai provinsi, termasuk Satuan Kerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Ditjen PKH.
Dalam arahannya, Hary Suhada menegaskan bahwa program pengembangan ayam petelur TA 2026 tidak hanya berorientasi pada pencapaian target fisik, tetapi juga pada kualitas pelaksanaan dan keberlanjutan manfaat.
“Program ini harus memberikan dampak nyata, tidak hanya pada peningkatan produksi telur nasional, tetapi juga terhadap kesejahteraan peternak. Karena itu, diperlukan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang disiplin, serta pengawasan berkelanjutan,” ujarnya.
Program ini menargetkan penyaluran 44.400 ekor ayam kepada 74 kelompok penerima, dengan dukungan anggaran sebesar Rp14,78 miliar melalui 19 satuan kerja UPT. Bantuan yang diberikan meliputi ayam pullet umur 16 minggu, pakan selama tiga bulan, obat dan vitamin, kandang beserta peralatan, serta dukungan operasional kegiatan.
Perwakilan Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian, Dyah Wodoretno, menekankan pentingnya menjadikan hasil pengawasan tahun sebelumnya sebagai dasar mitigasi risiko dalam pelaksanaan program 2026.
“Rekomendasi hasil pengawasan harus menjadi perhatian bersama dan ditindaklanjuti secara serius. Ini penting untuk mencegah terulangnya kendala serta meningkatkan kualitas pelaksanaan program secara menyeluruh,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa penguatan akuntabilitas, kepatuhan terhadap regulasi, serta ketepatan sasaran penerima manfaat menjadi fokus utama dalam pengawalan program.
Sementara itu, Kepala BRMP Bangka Belitung, Intan Rahayu, menyampaikan kesiapan daerah dalam mengimplementasikan program secara optimal.
“Kami berkomitmen memastikan seluruh tahapan kegiatan berjalan sesuai pedoman, serta memberikan pendampingan intensif kepada kelompok penerima. Dengan demikian, bantuan tidak hanya tersalurkan dengan baik, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang,” ungkapnya.
Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah, serta penguatan fungsi pengawasan dan evaluasi, program ini diharapkan mampu meningkatkan produksi telur nasional, memperkuat ketahanan pangan, dan mendorong kesejahteraan peternak di seluruh Indonesia.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia