Musim pancaroba merupakan kondisi yang sulit mengingat keberadaan lalat dapat melonjak. Apabila hal demikian terjadi, maka keberadaannya dapat mendatangkan petaka bagi peternak mengingat lalat merupakan salah satu sumber penyebaran penyakit.
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Keberadaan lalat dalam jumlah besar dapat mengganggu aktivitas ayam. Gangguan tersebut dapat berakibat stres yang kemudian menurunkan konsumsi pakan pada ayam. Hal tersebut menyebabkan produktivitas ayam menurun. Oleh sebab itu, dibutuhkan strategi yang tepat untuk melakukan pengendalian keberadaan lalat. Berangkat dari hal tersebut, PT Farmsco Feed Indonesia bekerjasama dnegan PT Elanco Animal Health Indonesia menggelar webinar dengan tema “Lalat Tiba, Peternak Harus Apa?” yang dilaksanakan secara daring via Zoom, pada Rabu (29/6).
Dalam sambutannya, Eka Purwayaneka Rhamdani selaku Commercial Excellence & Channel Partner Manager PT Elanco Animal Health Indonesia mengatakan, sudah sepatutnya bagi dirinya untuk terus berupaya memberikan ilmu pengetahuan mengenai kesehatan unggas. Dengan seminar ini, Eka berharap, peternak dapat mengaplikasikan ilmunya sehingga dapat meningkatkan produktivitas ternak.
Baca Juga: Pentingnya Mengoptimalkan Fase Awal Pemeliharaan
“Kami tidak hanya fokus kepada pengembangan produk itu sendiri, tetapi juga memberikan ilmu-ilmu yang dapat bermanfaat untuk kita semua. Walaupun seminar ini dilaksanakan secara online, mudah-mudahan tidak mengurangi kualitas dari materi itu sendiri,” ucap Eka
Sementara itu, Agung Puji Haryanto, DVM sebagai Customer Care and Veterinary Service Manager PT Farmsco Feed Indonesia menyebutkan bahwa musim pancaroba merupakan kondisi yang sulit mengingat keberadaan lalat dapat melonjak. Apabila hal demikian terjadi, maka keberadaannya dapat mendatangkan petaka bagi peternak mengingat lalat merupakan salah satu sumber penyebaran penyakit.
“Mengenai kondisi sekarang yakni saat musim pancaroba yang mana lalat merupakan faktor dari masuknya bibit penyakit, sehingga kaitannya dengan biosekuriti adalah sangat tepat. Dengan begitu, peternak harus memahami bagaimana cara pengendalian keberadaan lalat ini sebagai langkah mitigasi penyebaran penyakit,” katanya.
Pemaparan pertama disampaikan oleh drh. Arya Bagaskara Putra selaku Customer Care and Veterinary Service PT Farmsco Feed Indonesia. Dirinya menyampaikan bahwa faktor yang dapat dijadikan tempat perkembangan lalat adalah kelembaban dan temperatur. Realitanya, kandang merupakan tempat yang ideal untuk perkembangan lalat karena terdapat banyak media tumbuh bagi lalat.
“Di kandang banyak terdapat bahan organik seperti pakan dan kotoran merupakan makanan bagi lalat. Lalat sebagai serangga memiliki siklus reproduksi yang dimulai dengan lalat dewasa yang menghasilkan telur lalat. Media penetasan telur yang dianggap cocok untuk lalat adalah media yang memiliki kelembapan kisaran 70-90% dan di suhu idealnya yakni 25-27 derajat celcius. Fakta di lapangan adalah kotoran ayam sangat cocok untuk perkembangan lalat dengan persentase kelembapan 75-80%,” papar Arya.
Kemudian Arya menerangkan, terdapat 3 poin kunci bahwa lalat dapat memberikan dampak negatif bagi peternak. Dampak negatif tersebut adalah sebagai vektor penyakit, penurunan produksi dan mengganggu kesehatan manusia serta lingkungan. Oleh karena itu, keberadaan lalat yang berlebihan dapat dikatakan berbahaya dan perlu diwaspadai.
“Lalat sebagai vektor penyakit dapat membawa bibit penyakit seperti bakteri, virus dan parasit, sehingga lalat dapat menyebabkan kematian secara tidak langsung bagi unggas. Kemudian lalat dapat menyebabkan penurunan produksi dengan cara meningkatkan stres pada unggas yang memicu penurunan produksi dan kekebalan tubuh unggas. Selanjutnya dampak yang terakhir yakni dapat mengganggu kesehatan manusia karena lalat juga bisa membawa penyakit yang menyerang pada manusia seperti salmonella,” terang Arya.
Masih pada acara yang sama, pemaparan dilanjutkan oleh drh. Natalia Cintya Hariyani, Technical Specialist Bioprotection PT Elanco Animal Health Indonesia. Pada kesempatannya, Natalia menerangkan bagaimana cara mengontrol atau pengendalian keberadaan lalat di kandang. Dirinya mengatakan, secara garis besar terdapat 4 metode untuk pengendalian keberadaan lalat yakni metode lingkungan, fisik, biologis dan kimiawi.
“Metode biologi sebenarnya menggunakan hewan sebagai predator, jadi tidak efektif untuk peternakan. Untuk metode lingkungan bisa dilakukan dengan perbaikan pengelolaan kandang dan gudang, ketahui penyebab kedatangan lalat sehingga kita dapat melakukan pencegahan dengan cara membersihkan lingkungan kandang dan gudang. Kemudian metode fisik dapat dilakukan dengan jebakan lem dan elektrik. Kemudian untuk metode kimia itu bahannya ada banyak seperti, phyrethroids, organophospates, carbamates, neonicotinoids dan spinosyn,” jelas Natalia.