Sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan rentan terhadap kontaminasi mikotoksin. Metabolit sekunder yang dihasilkan oleh jamur ini memiliki sifat toksisitas yang dapat berdampak buruk terutama pada hewan ternak yang mengonsumsinya. Berangkat dari hal tersebut, Fenanza bersama EW Nutrition menggelar rangkaian webinar terkait mikotoksin secara daring melalui aplikasi zoom, Selasa (29/3). Acara webinar ini sekaligus merupakan salah satu rangkaian dari perayaan 10 tahun berdirinya Fenanza.
Dalam pengantarnya, drh. Fendy Fadillah Akbar, MSc selaku Bussines Development Manager menjelaskan bahwa Fenanza atau yang lebih lengkap PT Fenanza Putra Perkasa merupakan perusahaan lokal yang sejak berdirinya telah mampu menjalin kerjasama dengan berbagai patner lokal maupun internasional dibidang animal health dan animal nutrition. Selama ini Fenanza telah membuktikan keberadaannya dengan mendistribusikan produk-produk dengan kualitas mumpuni, base on traceability, innovativeness dan uniqueness. “Kami adalah perusahaan premix manufacture dan distributor untuk produk-produk feed additive. Salah satu feed additive yang kami distribusikan adalah produk dari EW Nutrition, Jerman,” terangnya.
Sementara itu, drh. Chutaemil Marom, selaku Commercial Director, EW Nutrition Innovations Indonesia pada sambutannya menjelaskan bahwa EW Nutrition merupakan perusahaan feed additive dari Jerman yang memiliki banyak afiliasi seperti perusahaan pembibitan H&N, Aviagen dan Hy-line serta perusahaan-perusahaan yang lain. “Senang sekali kami bisa berkolaborasi dengan Fenanza sebagai partner kami di Indonesia untuk produk andalan kami yaitu Mycotoxin binder; Mastersorb Gold. Semoga dengan adanya informasi dalam webinar ini dapat  memberikan manfaat bagi kita pelaku bisnis peternakan,” jelas Chutaemil.
Bahaya mikotoksin pada ternak Untuk lebih dalam mengenali bahaya mikotoksin pada ternak, di sesi pertama webinar Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng. Guru Besar Fakultas
Peternakan, Universitas Gadjah Mada (UGM) membawakan materi dengan topik “Upaya Penurunan Kontaminasi dan Toksisitas Mikotoksin pada Ternak : Studi Kasus di Indonesia”. Secara ringkas beliau menjelaskan bahwa mikotoksin merupakan metabolit sekunder dari
jamur yang dapat ditemukan pada biji-bijian dan serelia maupun pada produk-produk industri pertanian seperti bungkil kedelai dan bungkil kopra. Mikotoksin ini bersifat toksik, karsinogenik (penyebab kanker), immunosupresif (menurunnya kekebalan tubuh) dan teratogenik (gangguan
sel). Dampak dari paparan mikotoksin ini biasa disebut dengan mikotoksikosis yang gejalanya bisa bersifat akut maupun kronis. Pada kasus bersifat akut dapat menimbulkan gejala seperti muntah, nyeri dada dan perut, pulmonary edema, liver necrosis serta ganguan liver. Selain itu pada kasus kronis dapat menyebabkan mutasi gen dan kanker serta menekan sistem kekebalan tubuh,” jelasnya.
Lebih jauh Ali Agus menambahkan bahwa mikotoksin yang ada dalam pakan, secara langsung dapat berpengaruh kepada kesehatan ayam yang berkorelasi pada penurunan produktivitas ayam. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa mikotoksin dapat menyebabkan gangguan terutama pada saluran pencernaan ayam yang menyebabkan gangguan fungsi usus, efek inflamasi, menggangu keseimbangan mikroba usus serta masuknya antigen pada pembuluh darah. “Apabila pakan sudah tercemar mikotoksin, akan terjadi gangguan-gangguan mulai dari awal saluran hingga kebelakang. Beberapa gejala klinis yang ditimbulkan seperti anorexia (tidak nafsu makan), penurunan berat badan dan produksi telur, kematian dini embryo, meningkatkan stres lingkungan dan lainya. Hal ini akan membuat produksi telur dan daging menurun, tingkat kematian meningkat, biaya penanganan penyakit naik serta efek lain yang membuat kerugian ekonomi,”paparnya.
Lebih lanjut Ali Agus mengatakan bahwa secara geografis dari suhu dan kelembaban, Indonesia memang sangat cocok sebagai tempat perkembangbiakan jamur yang kemudian menghasilkan
produk sekundernya berupa toksin. Faktor perubahan iklim yang saat ini terjadi, membuat peningkatan suhu atmosfer serta adanya tingkat karbon dioksida yang tinggi sehingga membuat
risiko kontaminasi mikotoksin meningkat. Daerah Asia, dengan suhu dan kelembaban yang tinggi mendukung pertumbuhan Aspergillus dalam biji-bijian. Berdasarkan hasil penelitian 95%
sampel di Asia Selatan dan tiga perempat sampel di China dan kawasan SEAP (Indonesia, Filipina, Vietnam) menunjukkan adanya kontaminasi aflatoksin. Kontaminasi rata-rata yang lebih tinggi dari ambang batas ini membuat risiko kesehatan dan kinerja pada ternak terganggu. Disisi lain, tak bisa dipungkiri bahwa tingkat penelitian mikotoksin di Indoneisa bisa dikatakan masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya. Kemudian, yang lebih miris lagi adalah hasil dari survei yang telah dilakukan Ali Agus dan tim, menunjukan bahwa tingkat kesadaran peternak broiler skala kecil khususnya di DI. Yogyakarta terhadap bahaya cemaran
mikotoksin masih sangat rendah.
“Secara umum untuk mengurangi tingkat cemaran dan toksisitas pada pakan, dapat dilakukan melalui eliminasi dengan menghilangkan jamur jika memang jamurnya terlihat, kedua melalui delusi yaitu dengan cara mencampurkan bahan pakan yang berkualitas baik dengan yang rendah cemaran sehingga dapat mengurangi total tingkat cemaran. Selanjutnya dapat dilakukan
dengan menambahkan adsorben yang dapat mengikat mikrotoksin sehingga tidak masuk kedalam peredaran darah namun langsung keluar bersama kotoran dari saluran pencernaan,” jelasnya. Lebih jauh Ali Agus menyarankan untuk mempertimbangkan penggunaan produk yang memiliki spektrum mikotoksin yang luas serta dapat mengikat endotoksin, sehingga penggunaan adsorben tidak menurunkan adsorbsi (penyerapan) nutrien ke dalam darah namun juga dapat meningkatkan kesehatan intestinum. Lebih lanjut Ali Agus menegaskan bahwa penggunaan adsorben yang tepat akan menjadi pembeda kualitas pakan yang diproduksi.
Pengendalian resiko mikotoksin
Pada webinar sesi kedua menghadirkan Marisabel Cabalerro, selaku Global Technical Manager, EW Nutrition dengan mengangkat topik “Pengendalian Resiko Toksin pada Pengurangan Penggunaan Antibiotik dan Pelarangan AGP” yang menjelaskan bahwa sesungguhnya  mikotoksin dapat merusak fungsi keseimbangan pada usus, dimana hal ini akan menghambat perkembangan dan fungsi usus. Selanjutnya berdasarkan penelitian, cemaran mycotoxin juga dapat mengakibatkan terjadinya beberapa penyakit, seperti peningkatan infeksi Coccidiosis dan
Necrotic Enteritis (NE). Hal ini secara otomatis akan membuat performa produksi pada ayam tidak bisa mencapai optimal. Lebih lanjut Marisabel mengatakan bahwa, selama ini penggunaan AGP dinilai telah mampu mengurangi efek buruk cemaran mikotoksin pada ayam. Sehingga dengan kebijakan pelarang penggunaan AGP, seperti saat ini akan berdampak pada
 tingkat produksi ayam, termasuk penurunan efisiensi pakan, penurunan berat badan harian serta kematian yang lebih tinggi.
Pada era pelarangan AGP saat ini, tantangan kita adalah bagaimana memperoleh produksi yang maksimal tanpa mengeluarkan biaya yang terlampau besar. Salah satu cara yang
dapat dilakukan oleh peternak adalah dengan penambahan Mastersorb Gold sebagai mikotoksin binder yang telah terbukti dapat meningkatkan performa ayam bahkan lebih baik dari pada penggunaan AGP. Tentu hal ini dapat menjadi alternatif peternak di era pelarangan AGP seperti saat ini,” jelasnya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan EW Nutrition, menunjukan bahwa penambahan Mastersorb Gold pada pakan yang terkontaminasi DON dan zearalenone, mampu meningkatkan
performa kinerja yang signifikan. Dimana, didapatkan kenaikan bobot badan rata-rata 6 % dan meningkatkan konversi pakan sebesar 3 % dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak
diberi penambahan Mastersorb Gold. Kemudian, pada penelitian lain, berdasarkan studi in-vitro menunjukkan efektivitas Mastersorb Gold terhadap mikotoksin serta racun bakteri.
Dalam kesempatan yang sama, Si Trung Tran, DVM, PhD, selaku Regional Manager Toxin Management, EW Nutrition menjelaskan bahwa dalam toxin management terdapat 3 hal mendasar yang harus dilakukan. Pertama adalah analisis resiko dengan menggunakan analisis laboratorium dengan berbagai rapid test yang bisa digunakan seperti analisis elisa, charm dan lain-lain.
Selanjutnya Trung mengatakan bahwa setelah diketahui kadar resiko dari pakan, maka selanjutnya harus dipahami tingkat resiko infeksi tersebut. “Untuk memudahkan hal tersebut, EW Nutrition telah mengembangkan MasterRisk tools, yang memungkinkan diketahui tingkat resiko toksisitas secara cepat, akurat dan mudah diaplikasikan. Cara penggunaannya pun sangat mudah, hanya cukup mengupload data di masterrisktool.com,” tegasnya. Lebih lanjut Trung menambahkan bahwa proses mitigasi ini tentu dapat berpengaruh pada hasil pengendalian resiko mikotoksin. Setelah mitigasi resiko dilakukan, EW Nutrition juga telah mengembangkan produk Mastersorb Gold, untuk pengendalian mikotoksin. Manajemen risiko mikotoksin ini sangat penting untuk memastikan kesejahteraan, kesehatan dan produktivitas ayam. Adv