Negara Indonesia merupakan negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar diantara 2000-3000 mm per tahun. Berdasar data curah hujan tersebut, tingkat produksi jagung dapat dilaksanakan dengan baik ketika musim kering atau di daerah dengan curah hujan rendah. Namun, menurut data Kementrian Pertanian Republik Indonesia, daerah penghasil jagung tersebar adalah Jawa Timur dengan produksi 5,37 juta ton pada tahun 2020.
Tingkat produksi yang tinggi tersebut mendapat ancaman ketika datang musim penghujan, sehingga para petani lebih memilih menanam padi yang membutuhkan air lebih banyak, sementara jagung memiliki resiko lebih tinggi ketika musim hujan dikarenakan rawan tercemar jamur yang dapat memunculkan aflatoksin yang diakibatkan oleh aspergillus flavus. Jamur ini dapat bertahan di biji jagung pada saat penanaman hingga ke tempat penyimpanan sampai diolah menjadi pakan ternak (Pakki dan Alanca, 2007).
Ketergantungan pada jagung sebagai bahan pakan utama membuat para produsen harus memiliki jagung dengan kualitas terbaik, dengan kadar air dibawah 14% untuk mencegah terjadinya kontaminasi aflatoksin pada pakan. Untuk itu, dilakukanlah pengeringan menggunakan mesin, namun tidak semua produsen memiliki mesin tersebut. Sementara bahan mentah dari petani seringkali hanya mengandalkan sinar matahari, dan beresiko tinggi tercemar mikotoksin ketika musim hujan karena pengeringan tidak akan maksimal. Pengeringan yang hanya mengandalkan sinar matahari juga mempunyai resiko bahwa jagung tidak sepenuhnya kering jika tidak sering diratakan kembali.
Kasus penyakit ternak yang diakibatkan oleh mikotoksin memang jarang dilaporkan, namun jika terlanjur diberikan akan memberikan dampak berupa siroris hepatis stadium awal. Penyakit yang menyerang hati unggas ini memiliki gejala berupa perubahan warna hati menjadi coklat kekuningan, tepi lobus tumpul, konsistensi kenyal, dan pembesaran atau pembengkakan hati (Moenek et al., 2012). Sebagai upaya pengendalian mikotoksin, PT. Ganeeta Formula Nusantara memberikan sebuah probuk berupa Vitavix Ultra yang merupakan toxin binder yang mengandung Betaine yang efektif untuk mengikat mikotoksin dalam pakan yang terkontaminasi agar tidak terserap kedalam tubuh ternak.
Selain itu, Vitavix Ultra juga mempunyai keunggulan sebagai berikut :
1. Adsorbsi mikotoksin untuk mencegah penyerapan racun di saluran pencernaan tubuh.
2. Kandungan ekstrat sel ragi (yeast extract) dapat menghilangkan toksisitas Deoksinivalenol (DON) dan mengubah struktur kimianya menjadi metabolit nontoksik.
3. Memberikan perlindungan tertinggi terhadap mikotoksin kepada fungsi hati yang optimal guna meningkatkan detoksifikasi mikotoksin endogen.
4. Sebagai antioksidan alami yang dapat menghilangkan stres oksidatif yang diakibatkan oleh mikotoksin.
Berdarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pemberian Vitavix Ultra dapat digunakan dalam pencegahan pencemaran mikotoksin, sehingga dapat meningkatkan performa dan kinerja produksi dari ternak unggas. ADV