Oleh: Dr. Ir. Noferdiman, M.P1), Lisna, S.Pi, M.Si1), dan Ir. Yusma Damayanti, M.Si2)
Pakan merupakan salah satu faktor penentu untuk keberhasilan suatu usaha peternakan unggas. Penggunaan beberapa bahan pakan impor dapat diturunkan dengan menggali potensi sumber bahan pakan lokal, salah satunya Azolla microphylla. Tanaman ini memiliki potensi yang cukup besar sebagai bahan pakan sumber protein untuk ternak unggas. Tanaman A. microphylla ini diharapkan dapat menunjang bahkan menggantikan bahan pakan sumber protein impor yang mahal harganya seperti bungkil kedelai.
Penambahan enzim selulase dan Azolla dalam ransum dapat meningkatkan penampilan dan nilai ekonomis itik lokal kerinci serta tidak mengganggu penampilan produksinya.
Serat kasar yang terkandung dalam bahan pakan menjadi sebuah kendala untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak unggas. Hal ini disebabkan oleh sistem pencernaan unggas yang tunggal dan tidak menghasilkan enzim selulase untuk mencerna komponen serat kasar. Pada penelitian penulis sebelumnya didapatkan hasil bahwa Azolla tanpa pengolahan ransum dapat digunakan oleh itik mojosari jantan sampai 5%. Penggunaan Azolla 5% juga tidak mengganggu penampilan produksi.
Penggunaan Azolla sebagai bahan pakan belum dapat digunakan secara optimal pada ransum ternak unggas, termasuk itik, karena kandungan serat kasarnya yang cukup tinggi. Serupa dengan unggas pada umumnya, itik juga tidak dapat menghasilkan enzim selulase untuk mencerna serat kasar. Upaya yang dapat dilakukan agar Azolla dapat dimanfaatkan secara optimal yaitu dengan penambahan enzim selulase di dalam ransum maupun langsung dalam saluran pencernaanya. Salah satu cara efisien dan efektif penambahan enzim selulase komersial secara langsung dalam ransum. Suplementasi enzim selulase bertujuan untuk mendegradasi molekul kompleks seperti selulosa menjadi karbohidrat yang lebih sederhana seperti glukosa.
Konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, dan konversi ransum
Konsumsi ransum cenderung menurun pada tiap perlakuan pemberian Azolla 10 dan 20% tanpa menggunakan enzim selulase, sedangkan rataan penggunaan Azolla disertai dengan enzim menunjukkan rataan konsumsi yang lebih tinggi. Rataan konsumsi ransum (g/ekor), pertambahan bobot badan (g/ekor), dan konversi ransum terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rataan konsumsi ransum (g/ekor), pertambahan bobot badan (g/ekor), dan konversi ransum
Peubah |
Enzim |
Tingkat penggunaan Azolla (%) |
Rataan |
||
A-0 |
A-10 |
A-20 |
|||
Konsumsi ransum (g/ekor) |
E-0,0E-0,10Rataan |
4216,754413,864315,30 |
4076,144311,004193,57 |
4088,924182,584078,22 |
4088,324302,48 |
Pertambahan Bobot Badan (g/ekor) |
E-0,0E-0,10Rataan |
1067,141197,891132,52 |
975,591147,901061,75 |
982,521110,231046,39 |
1008,421152,01 |
Konversi Ransum |
E-0,0E-0,10Rataan |
3,963,703,83 |
4,183,763,97 |
4,063,773,92 |
4,063,74 |










