Oleh : Iman Hernaman*

Teknologi smartphone telah membuka banyak peluang untuk melakukan berbagai pengujian yang sebelumnya hanya dapat dilakukan di laboratorium. Dimana salah satunya dalam mendeteksi pemalsuan dedak padi dengan sekam padi. 
Pemalsuan bahan pakan merupakan masalah serius yang seringkali luput dari perhatian, namun dampaknya sangat signifikan terhadap kualitas pakan ternak dan kesehatan hewan. Di tengah meningkatnya kebutuhan pakan, terutama dedak padi, praktik ini semakin merajalela. Dedak padi yang biasa digunakan sebagai bahan pakan ternak seringkali dipalsukan dengan sekam padi, yang kualitas nutrisinya jauh lebih rendah. Tidak hanya merugikan produsen pakan dan peternak, praktik pemalsuan ini juga berdampak buruk pada performa ternak dan hasil produksi yang diharapkan. Oleh karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk menemukan metode deteksi yang efektif, cepat, dan mudah diterapkan di lapangan.
Di era digital saat ini, teknologi smartphone telah membuka banyak peluang untuk melakukan berbagai pengujian yang sebelumnya hanya dapat dilakukan di laboratorium. Salah satu aplikasi potensialnya adalah dalam mendeteksi pemalsuan dedak padi dengan sekam padi. Dengan menggunakan teknologi pencitraan warna yang tersedia pada smartphone, pengujian ini tidak hanya menjadi lebih cepat, tetapi juga lebih terjangkau dan dapat dilakukan oleh siapa saja, bahkan tanpa latar belakang teknis yang mendalam. Metode ini memberikan alternatif yang praktis bagi produsen pakan untuk memastikan kualitas bahan baku yang mereka terima sebelum digunakan dalam produksi.
Terdapat sebuah metode inovatif menggunakan smartphone untuk mendeteksi pemalsuan dedak padi dengan sekam padi. Dengan memanfaatkan aplikasi pengenalan warna, metode ini mampu memberikan prediksi cepat tentang tingkat pemalsuan dedak padi berdasarkan spektrum warna yang dihasilkan dari reaksi kimia tertentu. Dalam riset ini juga akan membahas prosedur pengujian secara rinci, serta hasil penerapan metode ini di lapangan, yang menunjukkan seberapa efektif metode ini dalam mengidentifikasi pemalsuan dedak padi di berbagai industri pakan.
Saat ini di Indonesia, kebutuhan dedak padi untuk ternak baik ternak ruminansia maupun unggas melebihi dari produksi yang ada, terutama pada musim kemarau ketika sebagian petani tidak dapat menanam padi karena kekurangan air sehingga mengakibatkan harga menjadi tinggi. Kondisi ini menyebabkan terjadinya pemalsuan dedak padi dengan menambahkan sekam padi. Meskipun bahan-bahan lain tersebut mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan bahan pakan palsu, namun tetap saja akan menurunkan kualitas pakan tersebut. Hal ini melanggar peraturan perlindungan konsumen sebagaimana diatur dalam undang-undang Republik Indonesia No. 8: 1999.
Sekam padi sering digunakan sebagai bahan campuran dedak padi dan banyak mengandung lignin dan silika, yaitu 25-30 dan 15-20%. Kedua komponen tersebut menghambat kecernaan bahan kering dan protein. Selain itu, lignin membatasi pencernaan karbohidrat struktural seperti selulosa dan hemiselulosa dengan membentuk kompleks lignin yang stabil dengan karbohidrat dan ketahanan terhadap serangan dan hidrolisis enzimatik mikroba rumen. Silika adalah jenis anti nutrisi lain yang ditemukan di dinding sel tumbuhan yang dapat menyebabkan rendahnya tingkat asupan pakan dan kerusakan fisik pada lidah hewan karena strukturnya yang berbulu. Hal ini juga dapat menurunkan kecernaan hijauan dengan mengurangi aksesibilitas mikroflora usus.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com