POULTRYINDONESIA, Jakarta – Industri ayam pedaging (broiler) merupakan industri peternakan yang memiliki kemajuan yang sangat pesat dibandingkan dengan industri peternakan lainnya. Namun demikian, industri ini tengah mengalami gejolak dan tantangan yang luar biasa. Yang mana harga jual livebird (LB) ditingkat peternak sangat berfluktuatif seperti roller coaster. Hal ini menjadi persoalan nyata yang tengah dialami oleh para peternak. Hal ini diungkapkan secara langsung oleh Prastyo Ruanddhito, Chief Executive Officer (CEO) BroilerX dalam sebuah acara daring melalui media Youtube yang mengangkat tema “Teknologi Tepat Guna Penentu Daya Saing Perunggasan Indonesia,” Rabu (1/2).
Menurutnya, kondisi semacam ini juga menjadi konsen bagi BroilerX, bagaimana membantu peternak untuk terus bisa berusaha di tengah tantangan dan persaingan yang luar biasa. Salah satunya adalah dengan melakukan budi daya seefisien mungkin. “Sebagai langkah awal, kita memulai dari titik manajemen budi daya, dengan menekan biaya sebanyak mungkin dengan terus memperhatikan performa produksi. Jadi efisiensi saat ini menjadi harga mati pada industr ini, dan teknologi merupakan salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut,” tegasnya dalam acara bertajuk Jumpa Publik, Indonesia Livestock Alliance ini.
Prastyo menambahkan, BroilerX memfokuskan diri pada penyediaan teknologi digital untuk perunggasan dengan memiliki berbagai alternatif solusi untuk meningkatkan efisiensi budidaya broiler, seperti BroilerX Apps, IoT dengan Artificial Intelligence dan BroilerX Enterprise Resource Planning (ERP). Selain itu saat ini pihaknya juga sedang mengembangkan smart camera untuk melakukan timbangan secara otomatis dan feed meter untuk melakukan pengukuran konsumsi pakan secara real.
Baca Juga: Keluh Kesah Peternak Mandiri
Terkait hilirisasi, menurut Prastyo salah satu permasalahan yang seringkali muncul adalah ketepatan bobot badan dalam proses pemanenan. Sedangkan apabila telah mempunyai pasar spesifik, hal tersebut tidak bisa diterima, dan yang ada barang akan direject.
“Untuk itu BroilerX telah mengembangkan smart camera, yang mana teknologi ini dapat mengklasifikasi kelompok ayam berdasarkan bobotnya, sehingga ketika dipanen dan menuju pemotongan, ayam telah seragam dan tidak ada lagi reject dari pasar. Dan teknologi ini telah kami terapkan di internal farm kami dalam kurun 4-5 siklus, dan secara selisih deviasi antara real dan penggunaan smart camera hanya antara 1,5-2%. Teknoloi ini masih terus kami kembangkan dan pada waktunya akan kami laporkan,” jelas Prastyo.