Tortikolis pada bebek menjadi ciri bebek yang terserang DVH
Oleh : drh. Esti Dhamayanti*
Duck Viral Hepatitis (DVH) merupakan penyakit yang fatal dan umum menyerang bebek usia muda pada sekitar 1-28 hari dan menimbulkan kerugian yang sangat besar akibat mortalitas yang tinggi. Penyakit ini banyak menyerang bebek peking di beberapa negara dan termasuk ke dalam daftar penyakit yang harus diwaspadai oleh Office International des Epizooties (OIE) atau disebut juga World Organisation for Animal Health karena keganasannya. Penyakit ini dicirikan dengan waktu inkubasi yang pendek, serangan yang cepat, kematian yang tinggi, dan lesi yang khas pada hati. Angka morbiditas akibat DVH mencapai 100% dan kematian dapat mencapai 95%.

Duck Viral Hepatitis merupakan penyakit yang dapat menular cepat dan mematikan bagi bebek muda. Memperketat biosekuriti dalam kandang menjadi garda utama untuk mencegah penyakit ini masuk ke kandang.

Penyakit dibagi menjadi tiga tipe yaitu I, II, dan III. Tiga genotipe virus yang berbeda lainnya berasal dari duck viral hepatitis A virus DHAV-1. Virus ini termasuk ke dalam famili Picornaviridae dan genus Avihepatovirus. Kedua genotipe lainnya yaitu DHAV-2 dan DHAV-3 juga diidentifikasi sebagai agen penyebab terjadinya DVH pada anak bebek. DVH tipe II disebabkan oleh duck astrovirus type 1 (DAstV-1) ditemukan terutama di Inggris, sedangkan DVH tipe III yang disebabkan oleh duck astrovirus type 2 (DAstV-2) ditemukan hanya di Amerika Serikat (OIE 2018). Untuk membedakan ketiga tipe virus ini cukup sulit jika hanya digunakan pemeriksaan patologi saja, diperlukan pemeriksaan penunjang seperti RT-PCR, ELISA, maupun serum neutralization test.
Infeksi DVH biasanya seperti melalui makanan, kontak langsung dengan bebek yang sakit. Infeksi juga dapat terjadi karena adanya kelemahan pada biosekuriti, yaitu peralatan yang terkontaminasi, kurang baiknya desinfeksi kandang, kendaraan, pekerja, dan unggas liar diduga memiliki peranan dalam penyebaran virus secara mekanik. Belum adanya laporan mengenai infeksi DVH secara vertikal hingga saat ini. Jenis bebek yang rentan terhadap DVH yaitu Peking, Muscovy, Green Winged, dan Mallard.
Bedasarkan keterangan drh. Andi Ibrahim Risyad selaku Technical Service PT East Hope Agriculture, kasus DVH yang ia temui di lapang disebabkan karena adanya kelemahan dalam biosekuriti, terutama dalam kandang. Peternakan tersebut memelihara bebek peking dalam kandang open house tanpa adanya implementasi biosekuriti, baik perbedaan zona maupun desinfeksi sebelum masuk kandang seperti dipping untuk alas kaki. Bebek juga dipelihara dengan kondisi sekam yang basah. Fatalnya, sekam tersebut pernah dipakai pada pemeliharaan sebelumnya pada ternak bebek yang mengalami kasus DVH dan tidak diberikan perlakuan khusus. “Sekamnya hanya dijemur saja sebelum dipakai lagi,” ungkap Ibrahim kepada Poultry Indonesia di Bogor, Minggu (10/2).
Baca Juga: Cermati Faktor Penyebab Kerusakan Hati Unggas
Kejadian DVH dalam tersebut menyerang bebek pada umur 4 minggu dengan kematian tertinggi pada umur bebek antara 24-27 hari. Kematian yang tercatat yaitu sekitar 200 ekor bebek setiap harinya dari total poulasi 6.800 ekor yang ditempatkan pada 6 kandang. Menurut Cheng et al. (2009) bahwa kematian yang disebabkan oleh DHV-1 menyebabkan kematian hingga 80% pada bebek berumur di bawah 3 minggu. Penyebaran DVH dalam suatu koloni juga berlangsung sangat cepat dan kematian pada anak bebek yang terinfeksi terjadi hanya berselang beberapa jam.
Gejala sebelum kematian yang ditemukan oleh Ibrahim yaitu adanya ophistotomus dan beberapa bebek ditemukan dengan kepala yang terlihat memelintir atau disebut juga tortikolis. Hal tersebut serupa dengan penelitian yang dilakukan Kozdruń et al. (2014), yaitu karakteristik yang ditemukan pada infeksi DVH yaitu mengalami kejang disertai tremor sehingga sulit untuk bergerak dan tiba-tiba terjatuh dengan posisi tubuh melengkung ke belakang atau disebut juga ophistotomus.
Virus ini memiliki spesifikasi menyerang pada sel hati yang dibuktikan saat nekropsi, yaitu berupa ukuran hati yang membesar dengan warna seperti buah zaitun dan mengalami hemoragi maupun petekie. Perubahan patologi juga terjadi pada beberapa organ, seperti ginjal dan limpa. Peradangan pada perikardium dan kantung udara juga tampak pada bebek dengan umur lebih tua yang terinfeksi oleh DVH (Kozdruń et al, 2014).
Kondisi hati bebek yang mengalami DVH (sumber: drh. Andi Ibrahim Risyad)
Temuan nekropsi di lapangan pada 5 bebek yang dijadikan sampel terlihat signifikan pada perubahan hati, yaitu adanya perbesaran dan petekie, beberapa juga ada yang mengalami perubahan warna menjadi kuning dan pucat. Pembengkakan juga terjadi pada organ limpa dan ginjal serta kelainan dalam saluran pencernaan. Organ Gizzard biasanya didapati mengalami erosi, adanya sekam, dan kerikil serta hemoragi atau perdarahan pada sepanjang usus bebek.
Pemeriksaan lebih lanjut untuk peneguhan diagnosa pada kasus ini dilakukan dengan mengambil sampel darah pada 15 ekor bebek dari setiap kandang serta pengambilan sampel hati bebek yang telah dinekropsi dan dimasukkan ke dalam larutan formalin. “Untuk peneguhan diagnosa dilakukan pemeriksaan menggunakan RT-PCR pada sampel darah dan untuk sampel hati memakai histopatologi agar bisa lebih memastikan bahwa penyakit yang sebenarnya menyerang itu apa, karena biasanya hasil tes darah dari sampel bebek yang terjangkit DVH menunjukkan bebek negatif terserang Avian Influenza (AI) maupun Newcastle Disease (ND),” jelas Ibrahim. *Wartawan Poultry Indonesia
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 ini dilanjutkan pada judul “Upaya Pencegahan dan Potensi Herbal Untuk DVH ”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153