POULTRYINDONESIA, JAKARTA – Kondisi industri perunggasan yang tidak menentu berdampak pada pertumbuhan dan perkembangannya. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan resiliensi industri perunggasan di Indonesia beberapa diantaranya mengenai perbaikan manajemen, SDM, regulasi, dan sektor hulu-hilir peternakan unggas.
Baca juga : Realita Perunggasan Ramadan dan Jelang Lebaran 2022
Hal tersebut merupakan pokok bahasan yang didiskusikan dalam Webinar Indonesian Poultry Club (IPC) 2022 dengan tema “Meningkatkan Resiliensi Industri Perunggasan”. Webinar diselenggarakan oleh TROBOS Livestock melalui platform Zoom Meeting dan disiarkan secara langsung pada kanal Youtube dan Facebook (19/4). Webinar dimoderatori oleh Yopi Safari dan menghadirkan berbagai narasumber yang ahli di bidangnya.
“Industri perunggasan nasional sudah bertumbuh, tapi kurang diikuti oleh pembangunan yang berkelanjutan. Oleh sebab itu, industri ini tidak akan bertahan lagi kecuali jika dilakukan perbaikan pada skala makro secara fundamental supaya terwujud pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih sebagai pengantar pada diskusi kali ini.
Ia juga memberikan hipotesa sebagai pemantik dalam diskusi yang meliputi struktur industri perunggasan nasional tidak efisien dan belum mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang dihadapi. Industri perunggasan terlalu tersentralisasi sehingga pembangunan tidak merata. Kerjasama dari berbagai pihak masih kurang sehingga terjadi inefisiensi produksi dan lemahnya daya saing. Selain itu juga kebijakan pemerintah yang bervisi jangka panjang dapat menentukan resiliensi industri perunggasan.
Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA selaku narasumber menyampaikan mengenai sinergi dan kolaborasi di industri perunggasan nasional. Ia berharap bahwa semua peternak dan perusaan peternakan terus berkembang, harga daging ayam kompetitif di pasar global, daging ayam impor tidak mampu bersaing di pasar lokal dan daging ayam lokal dapat diekspor, konsumsi daging ayam terus ditingkatkan, dan masyarakat indonesia sehat dan cerdas.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, menurutnya perlu dilakukan mewujudkan integrator horizontal, menerbitkan regulasi khusus integrator vertikal dan regulasi khusus integrator horizontal, serta memperbaiki infrastrukutr dan suprastruktur perunggaan dari hulu ke hilir. Selain itu, perlu juga dilakukan distribusi peran pemerintah dalam pembinaan perunggasan, penyatuan semua asosiasi ayam pedaging menjadi satu asosiasi yang kuat, pembentukan konsorsium perguruan tinggi untuk perunggaan, pendataan populasi ayam GPS, PS, dan FS, serta pembentukan koperasi produsen di setiap kecamatan dan kabupaten.
Senada dengan Muladno, Prof. Dr. Ir. Arief Daryanto, MEc. yang juga sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa banyak hal yang mampu mempengaruhi resiliensi industri perunggasan. Tidak hanya berfokus pada pertumbuhan dan berkembangan saja, industri perunggasan perlu memperhatikan perbaikan manajemen meliputi reporduksi, pakan, animal welfare, genetik, dan lingkungan. “Peningkatan daya saing dilakukan dengan modernisasi industri perunggasan nasional dari sektor hulu hingga ke hilir,” ucap Arief.
Baca juga : MIPI Melakukan Audiensi dengan Dirbitpro Kementan, Bahas Seputar Isu Perunggasan
Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, MS. selaku narasumber berbicara mengenai regulasi dalam peningkatan resiliensi industri perunggasan nasional. Menurutnya, perunggasan nasional tertekan karena menghadapi gempuran impor dan tidak berdaya saing karena struktur agribisnis yang belum efisien. Dari hal tersebut, perlu diukur seberapa substansial terciptanya suatu regulasi. “Dalam menyusun regulasi, perlu diperhatikan regulasi dibuat untuk apa, untuk siapa, dan manfaatnya. Yang diharapkan regulasi dibuat untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang ada dalam hal ini persoalan di bidang perunggasan,” jelas Rachmat.
Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng. sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut menyampaikan mengenai peran mutu sumber daya manusia (SDM) dalam resiliensi perunggasan nasional. Menurutnya, Peran peternakan dalam upaya peningkatan SDM tidak bisa dimarjinalkan, karena berperan besar dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani nasional. SDM yang bermutu akan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan negara secara berkelanjutan.
“Human capital sebagai faktor penting untuk peningkatan resiliensi di industri perunggasan, karena yang memiliki peran besar dalam resiliensi adalah manusianya yang didukung oleh berbagai elemen,” jelas Ali.
“Agribisnis perunggasan Indonesia dirintis sejak 1950an dan mengalami berbagai gejolak hingga saat ini. Tetapi yang perlu diapresiasi adalah ketahanannya serta pertumbuhan dan perkembangannya sebagai industri yang berskala besar. Upaya peningkatan resiliensi industri perunggasan, dilakukan dengan kerjasama yang baik dari berbagai pihak sehingga menciptakan industri perunggasan yang memiliki daya tahan dan daya saing. Beberapa faktor yang terlibat dalam upaya resiliensi meliputi peternak, perusahaan, pemerintah, dan pers,” ucap Ir. Don P Utoyo selaku pemberi kesimpulan dalam kegiatan tersebut sekaligus menutup sesi pemaparan materi