POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) tengah memperkuat strategi kemandirian pakan ayam petelur sebagai fondasi keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dinilai krusial, mengingat telur merupakan sumber protein hewani yang bergizi tinggi, mudah diolah, dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Isu tersebut menjadi sorotan utama dalam Webinar Pakan Series #6 bertema “Strategi Penguatan Kemandirian Pakan Petelur untuk Mendukung Makan Gizi Gratis” yang digelar pada Kamis (5/3/2026). Lebih dari 1.000 peserta mengikuti forum daring ini, mulai dari akademisi dan praktisi peternakan hingga para pemangku kebijakan.
Tri Melasari selaku Direktur Pakan Ditjen PKH dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa program MBG bukan sekadar upaya penyediaan makanan semata tetapi sebagai bentuk investasi untuk kualitas generasi penerus bangsa.
“Program ini merupakan investasi strategis jangka panjang untuk meningkatkan kualitas generasi bangsa, mencegah stunting, dan mengatasi gizi buruk demi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa ketergantungan industri ayam petelur pada komponen pakan masih sangat tinggi, yakni mencapai 60–70 persen dari total biaya produksi, mencakup bahan baku impor seperti bungkil kedelai maupun bahan lokal seperti jagung.
“Memperkuat kemandirian pakan bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan bagian dari perjuangan mewujudkan kedaulatan pangan nasional,” tegasnya.
Selanjutnya, Hary Suhada selaku Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan mengungkapkan bahwa pembangunan sektor peternakan dan kesehatan hewan diarahkan pada tiga pilar utama yaitu peningkatan produktivitas, kemandirian pangan hewani, dan penguatan sistem kesehatan hewan.
“Pemerintah juga menaruh perhatian besar pada pengendalian penyakit menular, pengembangan kawasan budidaya berbasis teknologi, peningkatan kualitas pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH), serta pemberdayaan peternak rakyat”.
Hary menambahkan, proyeksi kebutuhan telur akan terus meningkat seiring berjalannya program MBG, meskipun pasokan diperkirakan masih mencatatkan surplus hingga 2026. Guna mengurangi ketimpangan distribusi yang selama ini masih terpusat di Pulau Jawa, pemerintah secara aktif mendorong pengembangan sentra produksi di luar Jawa.
Dari perspektif akademik, Prof. Idat G. Permana dari Fakultas Peternakan IPB menyoroti peran vital sektor unggas dalam ketahanan pangan nasional. Ia menjelaskan bahwa pakan merupakan elemen penentu dalam keberhasilan produksi telur.
“Pakan yang disusun secara tepat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak berkontribusi sekitar 60–70 persen dari total biaya produksi. Kualitas dan keseimbangan nutrisinya secara langsung mempengaruhi produktivitas ayam, kualitas telur, efisiensi konversi pakan, serta kesehatan ternak secara keseluruhan,” paparnya.
Pengalaman serupa disampaikan oleh Asep Saipul Irawan, praktisi peternakan yang telah menggeluti usaha ayam petelur sejak 2010 dan kini mengelola sekitar 20 ribu ekor ayam. Bagi Asep, pengelolaan pakan secara optimal adalah kunci utama keberlangsungan usaha budi daya unggas.
“Kami selalu menjaga kualitas pakan, memastikan pemberian dilakukan tepat waktu, dan menjamin ketersediaan air minum secara konsisten. Dengan manajemen seperti itu, produktivitas dan kualitas telur dapat kami pertahankan,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa efisiensi pakan menjadi faktor penentu, terutama bagi peternak rakyat yang harus berhadapan dengan tekanan biaya produksi yang kian berat.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia