Seminar virtual ADHPI
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan (ADHPI) bersama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Food and Agriculture Organization (FAO), dan United States Agency for International Development (USAID) menyelenggarakan Obrolan Ringan Akhir Pekan Seputar Unggas (OBRASS) Vol. 4 via Zoom, Sabtu (25/9).
Mengangkat tema Mutu & Standar Pakan dalam Mendukung Kesehatan Unggas, acara ini dihadiri oleh Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si selaku Direktur Kesehatan Hewan, drh. M. Syukron Amin, M.Si. selaku perwakilan dari Direktorat Pakan, dan drh. Sudarno Wiryasentika selaku perwakilan dari ADHPI.
Baca juga : Peran Asosiasi Profesi dalam Mengatasi Gejolak Industri Perunggasan
Pada sambutannya, Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si menyampaikan bahwa pakan merupakan faktor penting dalam peningkatan produksi ternak, sehingga perlu dijaga mutunya sesuai dengan persyaratan mutu pakan.
”Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan bagaimana kita meningkatkan peternakan unggas dan keterlibatan sektor swasta yang saling memberikan informasi terkait dunia perunggasan. Saya menyampaikan apresiasi kepada FAO, ADHPI, Ditjen PKH karena sudah meluangkan waktunya untuk menambah ilmu standarisasi pakan. Semoga acara ini dapat menjadi ajang bertukar informasi dan menjadi jembatan komunikasi antara seluruh pelaku industri perunggasan,” ujarnya.
Sejalan dengan Nuryani, Luuk Schooman selaku perwakilan dari FAO dan Dedy Kusmanagandi selaku perwakilan dari ADHPI turut menyampaikan harapannya terhadap peran seluruh pelaku peternakan, stakeholder, dan pengatur regulasi tentang bagaimana teknik pengolahan pakan, pemberian pakan, dan pemberian aditif yang efisien untuk perkembangan perunggasan di Indonesia.
Selanjutnya menurut drh. M. Syukron Amin, M.Si menyampaikan bahwa pakan menduduki porsi 56 – 71% dari biaya produksi, sehingga pemberian pakan berkualitas sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Persyaratan Teknis Minimal (PTM) merupakan hal yang penting.
”Kebijakan mutu dan keamanan pakan yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian antara lain penyusunan standar, penilaian Cara Pembuatan Pakan yang Baik (CPPB), sertifikasi mutu dan keamanan pakan, pendaftaran dan peredaran pakan, serta pengawasan mutu dan keamanan pakan,” jelas Syukron.
Masih dalam kesempatan yang sama, drh. Sudarno Wiryasentika menyampaikan pada pakan, ideal karbohidrat adalah imbangan antara pati tercerna dan fiber yang masih bisa dicerna. Lebih lanjut lagi, Sudarno menjelaskan protein merupakan kandungan terpenting dan proses pembentukan protein membutuhkan asam amino penyusun yang cukup dan berimbang.
”Bila bahan pada pakan tidak diatur, maka antara perhitungan dan kenyataannya tidak akan cocok. Energi dari fiber terhitung tinggi, padahal sebenarnya tidak tercerna,” jelasnya.