Seminar Strategies to Maintain the Rice Bran Quality during Storage
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dedak padi (rice bran) merupakan hasil samping dari penggilingan padi yang kaya akan thiamin dan niasin, tidak mengandung anti nutrisi, sehingga dimanfaatkan untuk bahan pakan ternak. Kualitas rice bran tidak bisa diabaikan, apalagi di tengah pemanasan global, dimana suhu penyimpanan merupakan hal krusial untuk mempertahankan hasil produksi. Salah satu cara penanganan dedak padi adalah dengan menyediakan penyimpanan alternatif.
Dalam mendukung perbaikan produksi dedak padi dan penyimpanannya, AINI bersama dengan IPB University, dan GrainPro menyelenggarakan seminar virtual yang berjudul “Strategies to Maintain the Rice Bran Quality during Storage” untuk membahas lebih lanjut tentang penanganan dedak padi dan cara penyimpanannya. Acara ini dihadiri oleh Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc selaku Profesor di bidang Nutrisi dan Teknologi Pakan, Nutrition, and Feed Technology, Melanie Blanca-Ocreto selaku Technical Support dari GrainPRO, dan Allan V. Quintos, DVM selaku Regional Manager untuk Southeast Asia GrainPRO.
Pada diskusi daring kali ini, Nahrowi menyampaikan bahan pakan lokal Indonesia sangat perlu dioptimalkan pemakaiannya karena dari segi produksi, Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Nahrowi, produksi pakan di Indonesia kurang lebih 20 juta ton per tahun.
Baca juga : Rantai Pasok Bahan Pakan Lokal Strategis Menjadi Perhatian
“Permasalahan utama dedak padi adalah penyimpanan. Dedak merupakan surganya jamur dan bakteri. Selain itu, pengemasan dedak juga belum terlalu diperhatikan dan masih menggunakan karung bekas. Beberapa hal ini menyebabkan kontaminasi yang tak dapat terhindarkan. Contohnya insekta, seperti kutu, dan mikroba seperti jamur. Protein pada dedak juga dapat teroksidasi akibat penyimpanan dedak yang salah,” jelas Nahrowi.
Lebih lanjut menurut Nahrowi, kurangnya manajemen pascapanen dedak menyebabkan variasi ketersediaan, kualitas dan harga dari waktu ke waktu. Maka menurutnya, agar ketersediaan terjamin, memiliki kualitas yang bagus, serta harga bersaing, harus dilakukan penanganan secara cepat dan proper, untuk meningkatkan masa simpan dedak.
Senada dengan Nahrowi, Melanie menyampaikan tantangan dalam penyimpanan dedak adalah kandungan lemaknya yang tinggi, sehingga dedak mudah mengalami hidrolisis, dimana keasaman meningkat sehingga rasanya berubah dan dedak kehilangan nilai nutrisinya. Selain itu, pada presentasinya, Melanie menyampaikan bahwa kelembapan yang tinggi juga menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme, contohnya kutu.
“Kutu dapat tumbuh di suhu 25-35 °C dan membutuhkan oksigen serta air untuk tumbuh. Dedak padi yang terkontaminasi parah oleh kutu menjadi tidak bisa digunakan. Jamur juga menjadi masalah di negara tropis karena mempengaruhi aroma, tekstur, dan kandungan nutrisi dari dedak tersebut,” jelas Melanie.
Beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur kadar oksigen dengan metode Carbon Dioxide Flushing dan Nitrogen Flushing. Metode CO2 Flushing adalah menciptakan kondisi dimana kadar oksigen ditekan, sedangkan Nitrogen Flushing merupakan metode untuk menciptakan kondisi kadar nitrogen yang mencapai 97-99 persen, sehingga hanya menyisakan 1 sampai 3% kadar oksigen dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme.