Pullet menjadi salah satu faktor kunci dalam menentukan produktivitas ayam petelur. Untuk itu diperlukan ketelitian dan kehati-hatian dalam manajemen pengadaan pullet di lapangan.

Bagi insan perunggasan, istilah pullet tentu sudah tidak asing lagi. Pullet memiliki peran penting dalam keberhasilan usaha budi daya ayam petelur. Pullet merupakan ayam petelur dara yang siap produksi pada usia 0-16 minggu. Pada masa ini, pullet diharapkan menjadi cikal bakal ayam petelur dengan produktivitas tinggi.

Untuk itu cukup beralasan apabila pullet diibaratkan sebagai mesin dalam investasi usaha. Jika mesinnya berkualitas buruk, produksi pun tidak akan maksimal. Pasalnya setiap fase pertumbuhan ayam petelur, memiliki peran dan fungsi yang berbeda, di mana performa produksi telur sangat bergantung pada perlakuan yang diberikan sejak hari pertama. Khususnya pada periode pullet, manajemen yang baik sangat diperlukan. Sebab, jika pullet memasuki fase produksi (sekitar umur 18 minggu) dalam kondisi buruk, upaya perbaikannya akan sangat terbatas.

Lebih lanjut, memulai pemeliharaan ayam petelur dengan membeli pullet merupakan hal yang umum terjadi di lapangan. Dengan pengadaan pullet, peternak dapat segera memperoleh telur tanpa harus melalui proses panjang pemeliharaan dari DOC. Selain itu, kurangnya keterampilan dalam manajemen pemeliharaan dari DOC hingga pullet juga menjadi faktor yang mendorong peternak untuk membeli pullet siap produksi.

Di sisi lain, memelihara ayam petelur dari DOC membutuhkan investasi yang lebih besar. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan kandang dan lahan khusus untuk pemeliharaan DOC hingga pullet. Area tersebut harus terpisah dari kandang ayam petelur yang sudah produksi guna menghindari risiko penularan penyakit. Selain itu, memulai pemeliharaan dari DOC juga memerlukan modal yang kuat, karena selama sekitar 16 minggu pemeliharaan, peternak belum bisa memperoleh pendapatan dari telur, sementara biaya pakan dan perawatan harus terus berjalan.

Mengingat peran penting pullet dalam kesuksesan budi daya ayam petelur, maka diperlukan ketelitian dan kehati-hatian dalam proses pengadaan pullet. Pasalnya, banyak peternak yang mengeluh untuk mencapai standar performa ayam petelur, meskipun telah melakukan berbagai macam usaha ketika masa produksi. Hal ini bisa disebabkan karena sedikitnya peternak yang memberi perhatian lebih terhadap manajemen pengadaan pullet di peternakannya. Terkadang upaya pemeliharaan yang dilakukan hanya fokus pada peningkatan nutrisi dan perbaikan program kesehatan, namun hal ini tidak dapat menjadi solusi apabila kualitas pullet yang didatangkan dari awal sudah kurang baik.

Dalam proses pengadaan pullet, sebaiknya peternak memperhatikan sistem pemeliharaan pullet pada kandang sebelumnya. Hal ini akan berpengaruh pada proses adaptasi ayam terhadap lingkungan baru. Apabila kandang kita menggunakan sistem closed house, maka usahakan pullet yang didatangkan juga berasal dari kandang sistem closed house.

Selain itu, hal lain yang harus diperhatikan adalah recording ayam tersebut. Peternak wajib hukumnya mengetahui recording pada pullet yang didatangkan dari farm sebelumnya. Misalnya pencatatan umur, bobot, bibit, grade, program vaksinasi dan pengobatan, dan lainnya. Apabila recording yang jelas dan rapi telah dipegang, maka peternak dapat melanjutkan program pemeliharaan yang tepat, sehingga performa produksi yang optimal bisa didapatkan. Masih terkait recording, apabila diperlukan sebaiknya peternak juga melihat secara langsung pemeliharaan pullet tersebut di kandangnya.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com