Bersama Kepala NFA, para peternak layer yang tergabung dalam wadah Rumah Bersama melakukan kampanye makan telur 2 butir per hari
POULTRYINDONESIA, Tangerang – Dengan berbagai kemajuan teknologi yang ada, tentu juga berpengaruh secara langsung terhadap industri perunggasan. Tentu hal ini secara perlahan juga memaksa peternak untuk bisa beradaptasi dan mengikuti. Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA), Arief Prasetyo Adi mengajak orang Indonesia, khususnya peternak Indonesia untuk tidak minder pada kemajuan teknologi di luar negeri. Justru bagaimana transfer teknologi dan transfer pengetahuan itu harus didorong terus, sehingga peternak tidak tertinggal.
“Seperti yang kita lihat dalam pameran ini. Jangan berpikir ke depan akan kalah dan semakin berat, tapi bagaimana teknologi-teknologi yang ada bisa dibawa ke Indonesia, baik on farm maupun off farm. Jadi kita harus bisa berubah dan lebih baik. Jadi teman-teman peternak ini tolong lah punya koperasi, seperti yang sudah ada ini dan mulai adopsi teknologi. Karena kita sudah kalah dari WTO, dan ketika ayam dari Brazil bisa masuk ke Indonesia, siapa yang kuat bersaing dengan mereka? Untuk itu kita harus terus memperbaiki diri dan meningkatkan daya saing,” jelasnya saat mengunjungi para peternak layer yang tergabung dalam wadah Rumah Bersama, dalam pameran ILDEX 2023, di Tangerang, Kamis (21/9).
Dirinya melanjutkan bahwa saat ini beberapa perusahaan besar sudah berhasil melakukan ekspor produk perunggasan, seperti ke Singapura. Untuk itu, disini peternak juga harus bisa meningkatkan daya saing, sehingga tidak mustahil kedepan para peternak juga dapat menyasar pasar luar negeri. Di sisi lain, ketika Indonesia terjadi surplus produksi, seharusnya ke depan sudah tidak dilakukan cutting atau aborsi lagi. Tapi surplusnya itu diserap BUMN untuk cadangan pangan pemerintah.
“Jadi kita harus punya food reserve yang sedang kita bangun saat ini. Kemudian kenapa Great Giant Pineapple dari Lampung bisa ekspor? Karena mereka bisa memenuhi 21 sertifikasi yang menjadi persyaratan dari luar negeri. Jadi sertifikasi itu penting. Dulu ketika saya memasukkan telur Blitar ke Jakarta, saya memaksa koperasi itu punya NKV. Dan awalnya peternak ngamuk. Namun ketika sudah berjalan, justru sekarang koperasi itu jadi model atau percontohan. Selain itu terkait harga yang kompetitif itu harus, sehingga produktivitas nya harus ditingkatkan. Saya rasa ke depan peternak pun sangat mungkin untuk melakukan ekspor,” tambahnya.
Terkait upaya peningkatan daya saing, Jenny Soelistiani seorang Peternak dari Lampung memaparkan bahwa saat ini para peternak layer sudah mulai melakukan pembenahan dan mengurus sertifikasi. “Seperti para peternak di Lampung, kita farm sudah tersertifikasi NKV. Ke depan arahnya, apabila HPP kita kompetitif peternak pun bisa menyasar pasar ekspor. Jadi bukan perusahaan besar saja. Saat ini pun beberapa anggota sudah mulai scale up dengan penerapan closed house sistem, kompartemen bebas AI level 1 dan lain-lain. Nah cuma yang harus digaris bawahi adalah bagaimana membuat harga kita kompetitif,” tegas Jenny.
Dalam forum yang sama Dubes RI untuk Singapura, Suryopratomo menyampaikan bahwa penting menjaga ketersediaan dan ketahanan pangan nasional. Janganlah berorientasi menyediakan pangan untuk besok, tapi untuk 1 tahun ke depan. “Hal yang saya pelajari dari Singapura adalah mereka siap dengan cadangan pangannya. Selama ini kebutuhan pangan Singapura dipenuhi dari impor. Ketika covid dan masa krisis seperti ini, mereka akan mencari alternatif negara eksportir. Namun  dalam hal ini mereka tidak merasa panik. Karena ketika saya mengawal masuknya frozen carcass dari Indonesia ke Singapura, mereka punya tempat penyimpanan cadangan pangan untuk 2 tahun. Inilah yang saya maksud kita harus berpikir ke depan,” jelas pria yang akrab disapa Tommy ini.
Untuk berpikir ke depan, menurutnya teknologi menjadi salah satu jawaban baik dalam produktivitas maupun penyimpanan. Dan apabila mempunyai teknologi penyimpanan seperti Singapura, maka persoalan harga dan ketersediaan sudah tidak ada lagi. “Terkait ekspor, Singapura itu menerapkan ekonomi pasar. Mereka akan menampung semuanya, karena mereka butuh. Mereka membeli makanan untuk 2 tahun kedepan. Jadi dengan fenomena ini, produk Indonesia sangat bisa masuk, asalkan regulasi pemerintah bisa terpenuhi, seperti AI free dan Salmonella Free. Dimana ketika itu terpenuhi produk kita bisa masuk. Namun ketika sudah dapat izin masuk, kita harus mencari patner importir di Singapura, karena pemerintah tidak ada kepentingan dengan bisnisnya. Tapi yakinlah di Singapura sangat membutuhkan impor tersebut,” tambahnya.
Selain forum diskusi, dalam kesempatan ini para peternak layer yang tergabung dalam Rumah Bersama juga membagikan telur kepada pengunjung pameran. Hal ini sebagai bentuk promosi dan kampanye kepada masyarakat, bagaimana pentingnya makan telur 2 butir per hari.