Diagnosa penyakit unggas di lapangan biasanya dilakukan dengan melihat gejala klinis dan patologi anatomi. Namun, permasalahan kesehatan unggas seringkali tidak dapat langsung diselesaikan di lapangan mengingat gejala klinis yang ditunjukkan bisa saja hampir sama antar penyakit. Oleh karena itu, uji laboratorium dibutuhkan untuk mendukung diagnosa dan ketepatan penentuan langkah penanggulangan penyakit yang menyerang.
Dalam proses budi daya unggas, penerapan biosekuriti dan program vaksinasi merupakan sebuah kewajiban guna mendukung produktivitas dan kesehatan ayam. Saat penyakit mulai menyerang, metode diagnosa sangat menentukan ketepatan langkah penanganan selanjutnya.
Ragam uji laboratorium
Beragam uji laboratorium dilakukan guna mendukung peneguhan diagnosa suatu penyakit pada ayam. Beberapa uji yang biasa dilakukan diantaranya uji serologi, seperti Haemagglutination Assay (HA) dan Haemagglutination Inhibition (HI). Uji HA/HI merupakan uji serologi yang sederhana, cepat, dan murah karena material yang dibutuhkan sangat mudah didapatkan. Uji serologi ini biasa digunakan pada virus yang memiliki protein hemaglutinin, seperti Newcastle Disease (ND), Avian Influenza (AI) atau Flu Burung, dan Egg Drop Syndrome (EDS).
Uji selanjutnya yang paling sering digunakan adalah ELISA atau Enzyme-linked Immunosorbent Assay. Elisa biasa digunakan untuk menguji antibodi yang dihasilkan oleh tubuh ayam, baik respons kekebalan yang dihasilkan dari respons vaksin maupun respons dari virus tantangan lapangan. Contohnya, mendeteksi titer antibodi terhadap virus Infectious Bronchitis (IB) dan Infectious Bursal Disease (IBD). Uji ini menggunakan prinsip penyerapan cahaya. Semakin banyak antibodi, maka perubahan warna pada sampel akan semakin nyata dan tebal. Hasil tersebut digunakan sebagai dasar pembacaan oleh mesin pembaca.
Uji lainnya yang dapat digunakan dalam diagnosa penyakit pada unggas adalah PCR (Polymerase Chain Reaction), sequencing, dan Rapid Plate Agglutination Test (RPAT). RPAT digunakan untuk mendeteksi antibody IgM dan biasa digunakan untuk mendeteksi infeksi awal dari penyakit Mycoplasma gallisepticum, Mycoplasma synoviae, dan Salmonella. Kemudian, tube agglutination test biasanya digunakan untuk mendeteksi antibodi Salmonella ditubuh ayam, sedangkan Agar Gel Precipitation (AGP) bisa digunakan untuk pengecekan antibody terhadap virus Avian Influenza (AI).
Uji sequencing dan analisis data hasil proses sequencing gen dalam virus yang menginfeksi pada unggas sangat penting dilakukan untuk dapat memprediksi dengan cepat patotipe dari virus tersebut. Analisis tersebut dilakukan terhadap pola asam amino daerah pemotongan gen yang ada. Data hasil sekuensing juga dapat digunakan dalam analisis epidemiologi untuk mengidentifikasi asal-usul spesies virus tertentu, adanya mutasi, dan untuk menentukan hubungan genetik virus tersebut dengan virus-virus yang telah diketahui karakter genetiknya.
Dalam sebuah kesempatan drh. Aprilia Kusumastuti, M.Si, selaku Marketing Support PT Sanbio Laboratories, mengatakan bahwa uji laboratorium sangatlah penting dalam proses diagnosis penyakit unggas. Diagnosa kasus penyakit pada unggas biasanya dilakukan hanya dengan melihat gejala klinis di lapangan. Namun, metode ini bisa saja tidak tepat karena ada beberapa gejala klinis suatu penyakit yang dengan penyakit lainnya.
“Uji laboratorium akan sangat membantu dalam peneguhan diagnosa yang tepat yang kemudian juga akan membantu dalam penanganan kasus penyakit. Selain itu, uji laboratorium juga dapat digunakan di peternakan sebagai langkah pencegahan juga agar penyakit yang terdeteksi tersebut tidak terulang kembali. Manfaat lainnya, dengan pengujian berkala, peternak bisa melihat tren kondisi di lapangan. Misalnya, DOC mana saja yang baik, bulan-bulan apa saja yang memiliki paparan lapangan kuat, hingga waktu vaksinasi yang tepat. Dengan demikian, peternakan tersebut akan memiliki data yang lengkap sebagai salah satu langkah mencegah kejadian kasus penyakit kedepannya, sekaligus memastikan kesehatan ayam,” jelasnya saat diwawancarai oleh tim Poultry Indonesia, Jumat (19/5).
Pertimbangan dalam dalam menentukan uji laboratorium
Dokter hewan yang akrab disapa Lia ini mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan uji laboratorium demi efektivitas dan efisiensinya. Beberapa diantaranya adalah data dari lapangan sendiri, gejala klinis, dan hasil nekropsi. Ia mengatakan bahwa kasus penyakit yang terjadi, mortalitas, serta penurunan produksinya dapat dilihat dari data lapangan.
“Dengan gejala klinis yang terlihat dan hasil nekropsi di lapangan, kita akan mendapatkan gambaran mengenai penyakit yang terjadi, termasuk diagnosa pembandingnya dimana bisa saja gejala yang tampak tumpang tindih antar penyakit. Penyakit-penyakit itulah yang kemudian kita uji untuk dipastikan dengan uji laboratorium,” ujarnya.
Sementara itu, drh. Fauzi Iskandar, selaku Veterinary Services Manager PT Ceva Animal Health Indonesia, turut menambahkan pentingnya uji laboratorium. Ia mengatakan bahwa saat ini, cukup banyak kasus non-spesifik yang ditemukan pada ayam, sehingga cukup sulit mendiagnosa suatu kasus penyakit jika hanya dengan diagnosa primer. Oleh karena itu, dibutuhkan pengujian laboratorium menunjang diagnosis.
“Saat melakukan kunjungan ke lapangan, gejala klinis yang biasa kami temukan biasanya adalah gejala pernafasan yang diikuti oleh penurunan feed intake serta kematian yang tinggi. Pengujian laboratorium diperlukan untuk menunjang peneguhan diagnosa penyakit, sehingga dapat segera diberikan penanganan yang tepat dan cepat. Selain itu, uji ini juga dilakukan agar infeksi yang sama tidak terjadi di periode selanjutnya, baik pada broiler, layer, maupun breeder,” terangnya dalam keterangan tertulis, Selasa (23/5).
Untuk mendapatkan hasil uji lab yang maksimal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, jumlah sampel. Dalam mengambil sampel serum, maka perhatikan jumlah ideal sampel yang diperlukan, yakni minimum 18 sampel. Selain itu, perlu diperhatikan juga cara pemilihan ayam yang akan diambil sampelnya, yaitu sample acak, dan bukan berasal dari ayam yang saling berdekatan untuk mendapatkan gambaran kondisi populasi ayam dalam satu flok.
“Hal lain yang harus diperhatikan adalah waktu sampling atau waktu terbaik pengambilan sampel. Jika ingin menilai keberhasilan vaksinasi melalui serologi darah, maka waktu yang terbaik adalah 3 minggu setelah vaksinasi terakhir. Volume serum yang diperlukan juga harus diperhatikan. Setelah pengambilan darah, baik dari vena jugularis, vena brachialis, maupun jantung, sampel perlu didiamkan pada suhu ruang setidaknya selama 1-2 jam untuk mendapatkan serum yang sudah terpisah dengan plasma darah yang kemudian akan dikirimkan ke laboratorium,” jelasnya.
Dalam melakukan pengujian PCR, Fauzi menekankan bahwa sampel bagian organ yang diambil tidak boleh lebih dari 3 hari setelah muncul gejala klinis atau kematian tertinggi harus dalam kondisi dingin. Sedangkan ketika mengambil sampel organ untuk keperluan histopatologi, maka sampel tidak boleh lebih dari 3 jam setelah ayam dinekropsi dan harus segera disimpan dalam media formalin 10% untuk selanjutnya dikirim ke laboratorium. Hal terakhir yang tak kalah penting adalah selalu memperhatikan kebersihan dan pengambilan sampel yang dilakukan secara lege artis atau sesuai dengan standar.
Artikel ini merupakan bagian dari majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...