Oleh : Fadhilla Putri Wilujeng*
Pada bulan Maret 2021 lalu, warga di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah digegerkan dengan banyaknya jumlah ternak ayam yang mati mendadak. Melansir dari news.detik.com, Widiyanti selaku Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Klaten mengatakan bahwa telah ada laporan dari warga Desa Kajoran dan Desa Tlingsing mengenai kejadian ayam mati mendadak pada bulan kurun waktu Maret-April. Warga melaporkan beberapa gejala seperti lemas, tidak bisa berjalan, sesak napas atau megap-megap, ngorok, kepala turun/miring ke dada, keluar busa hingga darah dari mulut, hingga akhirnya ayam mati dengan ciri jengger berwarna merah kehitaman. Setelah dilakukan pengujian di Laboratorium Kesehatan Hewan setempat, diketahui bahwa kematian ayam mendadak di daerah Klaten tersebut disebabkan oleh Newcastle Disease atau yang dikenal dengan penyakit tetelo.
Penerapan biosekuriti yang ketat dan tepat merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan baik pada peternakan ayam mulai pada tingkat peternakan rakyat maupun perusahaan.
Tingkat keparahan penyakit tetelo pada ayam dibedakan berdasarkan tiga tingkatan virulensi atau keganasan virus ND, yaitu lentogenik (ringan), mesogenik (sedang), dan velogenik (berat). Strain velogenik sendiri berdasarkan gejala yang timbul dibedakan lagi menjadi dua yaitu neutrofik (gangguan sistem saraf dan sistem pernapasan) dan viserotrofik (gangguan sistem pencernaan). Merujuk pada buku Manual Penyakit Unggas yang diterbitkan oleh Ditjen PKH tahun 2014, menyebutkan bahwa virus ND juga peka terhadap panas. Virus ini cepat mati pada suhu 50 °C namun mampu bertahan hingga 1 minggu pada suhu 37 °C dan 2 bulan pada suhu 22-28 °C.
Gejala klinis yang timbul pada penyakit tetelo pun bervariasi berdasarkan jalur transmisinya. Jalur transmisi virus ND yang telah diketahui yaitu melalui sistem pernapasan dan sistem pencernaan. Sedangkan penularan penyakit ini terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terjangkit atau kontak tidak langsung melalui alat transportasi, perlengkapan kandang, dan pakan ayam yang tercemar. Virus ND yang bercampur dengan lendir atau feses dapat tahan sampai 2 bulan. Masa inkubasi ND selama 2-15 hari dengan rata-rata 6 hari. Ayam yang terinfeksi oleh virus ND menunjukkan gejala penurunan nafsu makan, diare berat hingga berdarah, lesu, sesak napas, ngorok, kejang atau paralisis, dan tortikolis (kepala berputar-putar tidak beraturan). Selain itu kondisi cyanosis atau pial dan balung yang berwarna biru kehitaman ditemukan pada bangkai ayam akibat tetelo.
Lebih lanjut, penulis menilai bahwa hal yang juga sangat penting untuk diterapkan adalah manajemen biosekuriti yang baik pada sebuah peternakan. Penerapan biosekuriti yang ketat dan tepat merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan baik pada peternakan ayam mulai pada tingkat peternakan rakyat maupun perusahaan. Salah satu contohnya adalah dengan membatasi lalu lintas ternak ayam, kendaraan, pekerja kandang, desinfeksi rutin terhadap kandang, monitor sanitasi air dan tempat makan minum. Dengan demikian, usaha preventif tersebut diharapkan dapat menekan jumlah kejadian penyakit tetelo pada peternakan ayam. *Mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2021 dengan judul “Penyakit Tetelo, Endemik di Peternakan Ayam”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...