POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kasus penyakit menjadi salah satu penghambat utama dalam usaha budi daya ayam ras. Terganggunya kesehatan ayam akibat penyakit, tentu dapat menghalangi peternak untuk dapat mencapai produksi yang optimal. Bahkan tak sedikit yang sampai menyebabkan kerugian. Melihat hal tersebut, Poultry Indonesia menyelenggarakan webinar Poultry Indonesia Forum Series #28 dengan tema “Jejak Kasus dan Proyeksi Penyakit Ayam Ras”, Kamis (21/12).
Chief Operating Officer (COO) dan Co-Founder BroilerX, Pramudya Rizki Ruandhito menyampaikan bahwa secara umum, di tahun 2023 penyakit pada unggas relatif sama dengan pola penyakit yang terjadi pada tahun – tahun sebelumnya. Dimana pada broiler, kasus Chronic Respiratory Diseases (CRD), Colibacillosis dan Coryza masih menjadi penyakit bakterial yang banyak dijumpai di lapangan. Sedangkan untuk penyakit viral pada broiler masih didominasi oleh Infectious Bursal Disease (IBD)/Gumboro dan Newcastle Disease (ND). Selain itu, kasus coccidiosis juga harus menjadi perhatian bagi para peternak. Dan dengan adanya fenomena el nino pada tahun 2023, yang membuat suhu udara lingkungan menjadi terasa lebih panas membuat kasus heat stress banyak terjadi, terutama pada kandang open housed.
“Kemudian untuk layer, saya melihat kasus CRD, Colibacillosis dan Coryza juga menjadi penyakit bakterial yang sering dijumpai di lapangan. Sementara untuk penyakit viral yang sering menyerang layer pada tahun 2023 adalah ND, Avian Influenza (AI) dan (Infectious laryngo tracheitis) ILT. Kemudian untuk penyakit lain yang tidak bisa dianggap enteng oleh peternak selama tahun 2023 adalah dari parasite seperti coccidiosis, ektoparasit dan cacing,” tambahnya.
Sementara itu, Fauzi Iskandar selaku Veterinary Service Manager Ceva Animal Health Indonesia menjelaskan bahwa penyakit pernapasan masih menjadi main poultry disease di Indonesia. Berdasarkan Global Protection Service Disease Surveillance (GPS) Ceva, ND, CCRD, IB, IBD, dan CRD menjadi musuh utama sepanjang tahun 2018 hingga 2023, baik di layer, broiler hingga breeder.
“Dan yang menarik di sini adalah sepanjang tahun 2023 kita lihat bahwa CCRD dan CRD menjadi penyakit kedua dan ketiga yang paling banyak kita temukan. Dan setelah kita telusuri lebih dalam lagi, ternyata dua penyakit ini terkadang merupakan infeksi sekunder, yang mana primernya itu bisa terjadi karena adanya IB, AI H9 atau ND atau kombinasi dari penyakit ini sehingga menurunkan imunitas ayam sehingga munculah E coli, Coryza, Koksidia, head stroke, hingga gumboro. Kemudian apabila melihat lebih dalam, sepanjang tahun 2018 hingga 2023 ND, IB dan IBD menjadi 3 penyakit virus paling berbahaya di Indonesia,” ujarnya.
Masih dalam forum yang sama, Indra Dwi Rasmana selaku pengurus Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) bidang Hubungan antar Lembaga dan Luar Negeri, Advokasi, Komunikasi & Pelayanan Profesi banyak menjelaskan terkait manajemen pencegahan dan pengendalian penyakit ayam ras di lapangan. Menurutnya terdapat beberapa titik kritis yang harus diperhatikan, seperti diagnosa kasus, mengurangi keganasan bibit penyakit hingga meningkatkan daya kebal ayam.
Dirinya melanjutkan, untuk diagnosa kasus, peternak perlu memperhatikan secara mendetail setiap langkah atau proses dalam budi daya. Hal ini agar mendapatkan informasi yang lengkap, sehingga nantinya analisis yang dilakukan bisa tepat. Kemudian terkait mengurangi keganasan penyakit, beberapa langkah seperti persiapan kandang (tepat prosedur & tepat desinfektan), sanitasi dan biosekuriti, klorinasi air minum, kontrol perpindahan orang & barang, serta tempat buang bangkai & sampah harus benar-benar diperhatikan. Adapun terkait meningkatkan kekebalan tubuh ayam beberapa hal harus ditekankan seperti asupan pakan (termasuk feed additive), vaksinasi serta pengobatan.
Turut memberikan materi, Prof. I Wayan Teguh Wibawan selaku Guru Besar, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University. Menurutnya, kesehatan pencernaan yang di dalamnya merupakan saluran dan kelenjar adalah motor performans produksi ayam. Untuk itu, pemberian pakan yang berkualitas sesuai kebutuhan ayam menjadi fondasi kesehatan dan performance. Dalam hal ini, pakan mempunyai pengaruh sangat besar terhadap kebugaran dan kesehatan ayam.
“Untuk itu, perhatikan kualitas pakan di setiap level peternakan, sangat penting!. Kemudian jaga kesehatan saluran dan kelenjar pencernaan, termasuk kesehatan hati dan integritas saluran cerna. Hal ini juga harus ditunjang dengan management kesehatan yang baik, termasuk di dalamnya vaksinasi dan biosekuriti yang tepat”.