Peran dan kerjasama asosiasi dalam menyikapi gejolak perunggasan (sumber gambar: https://www.pexels.com/)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Industri perunggasan seolah tidak ada habisnya diterpa angin badai. Walaupun produksi perunggasan nasional telah digadang surplus, namun kemelut soal kompetisi di dalam negeri seolah sudah menjadi langganan.
Saat ini, Industri perunggasan telah berhasil melakukan berbagai inovasi yang mendukung kemajuan, terutama di sektor budidayanya. Namun, meskipun demikian ternyata tidak membawa suasana produktif bagi komunitas peternak mandiri. Pasalnya dalam kacamata peternak mandiri, keberadaan integrator tidak dapat dipandang remeh. Hal itu dikarenakan terjadi kemelut di persoalan keseimbangan supply-demand yang mengakibatkan persaingan harga menjadi tidak sehat.
Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) bersama beberapa asosiasi perunggasan nasional lainnya menyelenggarakan Seminar Nasional Perunggasan Indonesia yang bertajuk “Sinergitas dan Harmonisasi Peternakan Rakyat dan Perusahaan Peternakan Integrator : Untuk Kesejahteraan Masyarakat Indonesia”. Seminar tersebut dilaksanakan pada Sabtu, (18/9) secara daring yang diikuti oleh berbagai komunitas perunggasan, akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan soal industri perunggasan nasional.
Baca juga : Inisiasi MIPI dalam Mengatasi Gejolak Industri Perunggasan
Kegiatan tersebut diawali dengan sambutan yang diisi oleh perwakilan dari Ditjen PKH Kementan RI, Iqbal Alim yang memberikan sedikit ulasan mengenai kondisi perunggasan di Indonesia. Dalam ulasan yang diberikan menjelaskan bahwa produk unggas merupakan salah satu penyuplai protein hewani dengan harga terjangkau dan kuantitas terbanyak, tidak jarang hal tersebut berpengaruh terhadap keseimbangan supply-demand yang mengakibatkan harga produk yang sering mengalami fluktuasi.
“Produk unggas yang dapat dikatakan sebagai produk dengan kuantitas terbanyak di dalam negeri ditambah dengan harganya yang terjangkau oleh masyarakat Indonesia, tidak jarang menjadikan terganggunya keseimbangan supply-demand sehingga harga produk sering mengalami fluktuasi,” ungkap Iqbal.
Sigit Prabowo selaku perwakilan dari Gabungan Asosiasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) menjelaskan mengenai dinamika industri perunggasan yang sudah diatur di dalam Undang-Undang. Ia menambahkan bahwa harusnya dengan adanya legitimasi mengenai industri perunggasan dalam negeri, persoalan perunggasan dapat teratasi.
“Industri perunggasan di dalam negeri sendiri sudah diatur oleh Undang-Undang, harusnya persoalan industri perunggasan dalam negeri dapat cepat teratasi,” ujarnya.
Sejalan dengan ungkapan Sigit Prabowo, Hidayaturahman selaku Praktisi Peternakan dari Jatinom Group juga menambahkan terkait gejolak persoalan yang sedang dialami oleh industri perunggasan. Menurutnya, terjadinya gejolak di industri perunggasan di dalam negeri terjadi karena adanya disparitas informasi data mengenai jumlah komoditas produk unggas di dalam negeri. Ia juga menambahkan bahwa diperlukan adanya sinergitas antar lembaga dalam pembenahan informasi mengenai kuantitas produk unggas di dalam negeri.
“Kondisi gejolak di sektor perunggasan di dalam negeri diperngaruhi oleh data yang tidak linear dari antar lembaga sehingga informasi yang diberikan juga tidak akurat untuk mempertimbangkan supply produk unggas di dalam negeri,” Papar Hidayat.
Syahrul Bosang selaku perwakilan dari PB ISPI menjelaskan bahwa dinamika penurunan harga produk unggas yang signifikan disebabkan oleh oversupply di sektor hulu yang tidak dapat diselesaikan sampai ke hilirnya. Menurutnya, pemangku kebijakan selalu pesimis dengan melakukan pemangkasan DOC yang berlebihan. Ia juga menambahkan bahwa solusi pemangkasan tidak harus dilakukan apabila pemerintah mampu menjamin kepastian pasar untuk menjaga stabilitas permintaan di sektor hilir.
“Pemerintah selalu mengambil tindakan untuk mengeluarkan kebijakan pemangkasan DOC untuk menjaga penyerapan di sektor hilir, padahal jika pemerintah dapat menjaga kepastian di sektor hilir, maka pemangkasan DOC tidak akan terjadi,” Ucap Syahrul.
Tomy Perdana selaku peneliti di bidang supply chain industri perunggasan mengungkapkan alternatif solusi untuk mengatasi persoalan industri perunggasan yang tidak harmonis dari hulu ke hilir. Ia menjelaskan mengenai pentingnya untuk menjaga skema distribusi rantai pasok dari hulu ke hilir.
“Rantai pasok menjadi hal penting untuk diperhatikan, karena kelancaran aktivitas di setiap mata rantainya akan berdampak pada keseimbangan supply-demand terutama di sektor industri perunggasan,” ucap Tomy.
Sejalan dengan solusi untuk gejolak industri perunggasan, Muladno selaku akademisi yang bergerak di sektor peternakan turut memberikan solusi untuk menangani gejolak industri perunggasan yang tidak cenderung stabil. Muladno menyimpulkan bahwa perlu adanya penyeimbang integrator yang bergerak secara vertikal (pemerintah) dan peternak mandiri yang beraliansi menjadi integrator yang bergerak secara horizontal.
Menurutnya, perlu adanya sinergitas daya dukung untuk membantu peternak rakyat yang lemah dalam hal distribusi sehingga harmonisasi di antara kedua belah pihak dapat terjaga. Ia juga menambahkan bahwa jika hal tersebut dapat terealisasi, gejolak penurunan harga tidak akan pernah terjadi dalam industri perunggasan dalam negeri.