Oleh : Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan., MS*
Penyelenggaraan pendidikan dan kompetensi
Penyelenggaraan Pendidikan Profesi Dokter Hewan merupakan pencapaian standar kompetensi sebagai seorang dokter hewan. Standar Kompetensi Dokter Hewan Indonesia, menurut Tap Majelis Pendidikan Profesi Kedokteran Hewan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) adalah sebagai berikut : (1) Memiliki wawasan etika veteriner dan pemahaman terhadap hakekat sumpah dan etika profesi dokter hewan, (2) Memiliki wawasan di bidang system kesehatan hewan nasional dan legislasi veteriner. (3) Memiliki keterampilan melakukan tindakan medis yang lege artis. (4) Memiliki keterampilan dalam menangani sejumlah penyakit pada hewan besar, pada hewan kecil, unggas, hewan eksotik, hewan liar, satwa aquatik dan hewan laboratorium, (5) Memiliki keterampilan dalam melakukan : (a) diagnosis klinik, laboratorik, patologik dan epidemiologik penyakit hewan, (b) penyusunan nutrisi untuk kesehatan dan gangguan medik, (c) pemeriksaan ante mortum dan post mortum. (d) Pemeriksaan kebuntingan, penanganan gangguan reproduksi dan aplikasi teknologi reproduksi. (e) Pengawasan keamanan dan mutu produk hewan. (f) Pengawasan dan pengendalian mutu obat hewan dan bahan-bahan biologis, termasuk pemakaian dan peredarannya. (g) Pengukuran (assesment) dan penyeliaan kesehatan hewan.
Kompetensi tersebut di atas dapat dicapai melalui tahapan Pendidikan Sarjana Kedokteran Hewan (SKH) dan Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) masing-masing dalam kurun waktu yang ditetapkan. Untuk mencapai kompetensi yang dimaksud dituangkan dalam kurikula dengan mata kuliah serta isi mata kuliah yang relevan dengan kompetensi lulusan. Perlu dipahami bahwa kompetensi di atas adalah kompetensi standar yang berlaku umum bagi setiap lulusan. Kampus (baca: Fakultas atau Sekolah) memberikan keleluasaan bagi setiap mahasiswa yang ingin mengembangkan kemampuan mereka sesuai dengan bidang ilmu yang diinginkan.
Para mahasiswa bisa berpartispasi aktif dalam Perhimpunan Minat Profesi (Unggas, Hewan Besar, Hewan Kecil, Hewan Liar atau yang lainnya). Di samping itu, setiap perhimpunan profesi secara aktif dapat menyelenggarakan berbagai jenis aktivitas yang dapat meningkat kualitas diri mereka, antara lain dengan mengadakan seminar, magang mandiri, pameran dan kegiatan lainnya. Pada umumnya mahasiswa yang tergabung dalam perhimpunan minat  profesi tertentu secara sadar mencoba untuk menekuni lebih rinci dan lebih mendalam tentang ilmu dan teknik kedokteran yang digunakan dalam bidang tersebut.
Perkuliahan yang padat dan teknik penyampaian
Pada umumnya perkuliahan dan sistem kredit smester (SKS) di fakultas kedokteran hewan sangat padat. Hal ini berkaitan dengan banyaknya mata kuliah yang harus diambil untuk mencapai standar kompetensi. Hampir setiap mata kuliah disertai praktikum, sehingga mahasiswa tidak memiliki cukup waktu dalam ‘mencerna dan mengendapkan’ ilmu-ilmu yang dipelajarinya.
Untuk memperbaiki kondisi ini, barangkali dibutuhkan keberanian dosen untuk membuat prioritas materi kuliah mana yang ‘harus’ (must) diberikan dalam masa studi yang terbatas, padahal yang ‘selayaknya’ (should) dan jika masih ada kesempatan yaitu ‘bisa’ (could) diberikan. Pendekatan lain yang bisa dilakukan adalah membuat modul-modul kuliah yang menarik dan interaktif (dua arah). Modul kuliah yang menarik dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknik-teknik animasi, sebelum dibahas lebih mendalam.
Teknik kuliah yang searah dan monoton akan membosankan dan melelahkan, mahasiswa akan mudah terasa lelah dan jenuh (fatigue). Kelehan dan kejenuhan dapat menghambat keefektifan belajar. Untuk ini memang tidak mudah, dosen tidak cukup hanya mumpuni di bidangnya tetapi juga harus mampu dengan mudah dan efektif menyampaikan bahan kuliah yang diajarkannya.
Demikian juga untuk mahasiswa, latihan berkomunikasi menggunakan kalimat singkat yang bernas, mengekspresikan dengan baik sangat perlu dilatih, bisa melalui seminar, diskusi dan dialog dua arah dalam perkuliahan. 
Prioritas dan silaturahmi dini
Keberanian untuk menggunakan ‘kondisi lapang’ sebagai prioritas dalam membuat materi ajar harus berani dilakukan. Hindari memberikan materi kuliah yang tidak atau sangat jarang ditemui di lapangan. Sebagai contoh untuk penyakit unggas, penyakit yang cukup banyak dijumpai di lapangan antara lain : Newcastle Disease (ND), Infectious Bursal Disease (IBD/Gumboro), Infectious Bronchitis (IB), Marek Disease (MD), Lympoid Leukosis (LL), Avian Influenza (AI), Runting Stunting syndrome (RSS), Coryza (snot), Mycoplasmosis (CRD complex), Pasteurellosis (cholerae), Salmonellosis, Colibacillosis, Enteritis Necroticans (Clostridiosis), Aspergilosis, Coccidiosis dan kecacingan.
Yang relatif jarang dijumpai Chicken Anemia Agent (CAA), Inclusion Body Hepatitis (IBH), Infectious Laryngotracheitis (ILT), Malaria, Leucozytozoon, trichomoniasis, dan penyakit lainnya. Dalam keterbatasan waktu studi, mengurangi beban mahasiswa dan kelelahan (fatigue) prioritas penting untuk materi kuliah harus dilakukan. Jika kita berani melakukan prioritas dalam penentuan materi ajar diharapkan mahasiswa masih memiliki waktu untuk lebih peduli terhadap perkembangan di lapangan atau kelonggaran waktu yang ada ini dapat diisi dengan kegiatan seminar bersama dengan industri atau para praktisi lapangan. Pergantian suasana belajar seperti ini sangat penting untuk menghilangkan kejenuhan dan menambah wawasan serta diajarkan menjalin silaturahmi dengan berbagai pihak yang relevan dengan kiprah dokter hewan.   
Mengikuti tren di lapangan
Seperti dinyatakan dalam standard kompetensi dokter hewan, secara umum dokter hewan yang baru lulus telah dibekali ilmu yang cukup untuk hal yang umum, di bidang apapun nanti yang ditekuninya. Umumnya mereka memperoleh karakter dan fashion-nya setelah 6-12 bulan di bidang yang mereka geluti. Apapun bidang yang mereka geluti, umumnya mereka membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk mengekspresikan kemampuannya secara optimal. Dalam rangka memacu akselerasi mahasiswa dalam mengikuti perkembangan di lapangan peran industri dan para praktisi di lapangan sangat penting untuk kita ajak lebih intens berpartisipasi langsung dalam proses belajar-mengajar.
Kegiatan ini bisa dikemas dalam bentuk ‘dosen tamu’, bentuk seminar atau mahasiswa magang. Dari pengamatan subjektif, di samping kemampuan teknis, karakter juga sangat menentukan dalam keberhasilan mereka dalam karir. Karakter tersebut antara lain (1) Kemampuan “leadership”, (2) Penguasaan bahasa Inggris, (3) Keluwesan dalam berinteraksi dengan orang lain, (4) Istiqomah (jujur, tekun dan amanah). Segala upaya perlu dilakukan dalam rangka membantu mahasiswa mampu mengaktualisasi dirinya dalam bidang yang diminatinya.     
Berubah dan adaptif
Keberanian untuk berubah, selalu kreatif dan inovatif dalam penerapan metode belajar mengajar, memberikan peran kepada masyarakat terkait (industri dan praktisi) untuk bisa turut andil dalam proses pendidikan sesuai porsinya dan aturan yang ada. Sumber informasi tersedia sangat banyak, dosen dapat memberikan arahan kepada mahsiswa dalam mencari sumber informasi yang real diperlukan di lapangan dan informasi ini  penting untuk melengkapi bahan yang  telah diperoleh dalam perkuliahan. *Guru Besar pada Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University dan Staf Ahli Majalah Poultry Indonesia