POULTRYINDONESIA, Jakarta – Permintaan akan produk peternakan terus meningkat dan berkorelasi positif terhadap pertumbuhan penduduk. Berdasarkan data Bappenas tahun 2016, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2045 akan tumbuh sebesar 32,5% dari 240 juta jiwa menjadi 318 juta jiwa. Dari data ini dapat dikatakan bahwa pertumbuhan penduduk yang kian meningkat merupakan sebuah potensi besar bagi sektor industri peternakan. Menanggapi hal tersebut, ISMAPETI bersama Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin menyelenggarakan Webonas 4.0 TIMPINAS yang bertajuk “Strategi dan Inovasi Mahasiswa Peternakan Menuju Perwujudan Indonesia Emas 2045” yang dilaksanakan secara virtual melalui aplikasi Zoom, Kamis (21/10).
Baca juga : Merintis Bisnis sedari Mahasiswa
Dalam pemaparannya, drh. Hendro Prasetyo Utoro selaku Sekretaris Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia PINSAR Makassar menyatakan bahwa untuk mencapai perwujudan Indonesia emas 2045, harus terjalinnya kerjasama dengan perguruan tinggi yang responsif terhadap kebutuhan industri. Dengan terjalinnya kerjasama, maka diharapkan perguruan tinggi mampu untuk mengembangkan teknologi guna menjawab tantangan-tantangan yang akan datang di kemudian hari. Teknologi yang dimaksud adalah perkembangan mutu dan kualitas genetik,  nutrisi pakan, dan kontrol penyakit.
“Untuk menciptakan sumber daya manusia yang handal, instansi harus meningkatkan kompetensi sumber daya manusia yang kreatif, serta memiliki inovasi world class start up kedepannya, dan meningkatkan sistem reward dan punishment,” kata Hendro.
Selanjutnya H. Sugeng Wahyudi selaku Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) mengatakan bahwa peran mahasiswa untuk perkembangan industri peternakan sangat penting. Untuk dapat mewujudkan Indonesia emas 2045 dalam 2 dekade kedepan, mahasiswa harus memiliki modal dasar yang dipegang teguh sebagai bekalnya kelak.
“Secara umum untuk menghadapi dan menyambut Indonesia emas 2045 ini, kita harus memiliki integritas, kerja keras, cerdas, profesional, cinta tanah air, dan ketakwaan,” ujar Sugeng.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Ir. Ahmad Ramadhan Siregar, M.S selaku Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin menegaskan kepada mahasiswa untuk tidak selalu harus belajar mengenai hulu dan produksi peternakan saja, namun perlu belajar juga mengenai hilirisasi. Selain kemampuan finansial, mahasiswa juga dituntut untuk memiliki kemampuan teknologi agar produk hilir yang dihasilkan dapat bertahan secara berkelanjutan. Pemahaman dan penerapan integrasi vertikal ini bertujuan agar mahasiswa siap dan mampu untuk menyambut Indonesia emas 2045.