Perunggasan awalnya merupakan usaha tumbuh di perdesaan. Terbukti bisa bertahan beberapa dekade terakhir, belakangan ini berkembang pesat menjadi industri handal
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Peternakan merupakan bagian subsektor pertanian dan berperan penting serta srategis dalam struktur perekonomian nasional Indonesia. Peran tersebut semestinya bisa dimaksimalkan dalam membentengi jebakan pendapatan kelas menengah tersebut. Kontribusi subsektor peternakan terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian cukup besar,   15.87% dan 1.57% terhadap total PDB 2017. Selain hal tersebut, peternakan juga berperan dalam penyerapan tenaga kerja. Menurut data Sensus Pertanian 2013 silam, jumlah rumah tangga yang terlibat langsung dalam usaha subsektor peternakan sejumlah 12.97 juta rumah tangga, dan merupakan peringkat kedua setelah subsektor tanaman pangan.
Perunggasan awalnya merupakan usaha tumbuh di perdesaan. Terbukti bisa bertahan beberapa dekade terakhir, belakangan ini berkembang pesat menjadi industri handal. Daging ayam merupakan salah satu komoditas strategis yang dihasilkan subsektor peternakan selain daging sapi, telur dan susu. Konsumsi produk daging per kapita pada tahun 2014-2017 secara berurutan daging broiler, daging ayam kampung dan daging sapi (Ditjen PKH 2018). Konsumsi rumah tangga terhadap daging ayam ras secara nasional juga terus meningkat setiap tahunnya.
Daging broiler merupakan sumber protein hewani dari ternak unggas dengan harga yang terjangkau,  mudah diperoleh dan mudah diolah menjadi berbagai macam masakan. Selain itu sektor perunggasan merupakan penyumbang terbesar protein hewani di Indonesia yaitu 65%. Secara ekonomi, nilai ekonomi perunggasan Indonesia juga terbilang besar yakni Rp428 triliun per tahun. Keunggulan lainnya, harganya relatif murah sehingga terjangkau masyarakat.  
Baca Juga: Preferensi Konsumen dalam Membeli Daging Broiler
Usaha peternakan broiler merupakan usaha yang banyak diminati masyarakat, karena periode pemeliharaannya relatif singkat, bisa dijual pada umur 4-5 minggu, dan perputaran modalnya relatif cepat sehingga potensial untuk dikembangkan. Potensi ini dapat dilihat dari terus meningkatnya produksi broiler nasional. Segudang keunggulan tersebut bisa dimaksimalkan untuk meningkatkan taraf rakyat dan mendongkrak ekonomi, bila perangkat kebijakan mendukung hal tersebut secara cermat dan tepat. Memberikan kemudahan akses modal pada peternak rakyat salah satunya di samping jaminan kepastian harga panennya. Keberpihakan pada mereka dinilai penting dan mendesak, di tengah hingar bingar industri unggas multi nasional.
Tumpulnya kebijakan ekonomi dan alokasi anggaran merupakan alarm yang bisa mempercepat  gelombang  middle income trap. Hal ini bisa mendorong jurang ekonomi kaya dan miskin kian lebar. Bila tidak cepat diantisipasi bisa berdampak luas pada masyarakat yang lebih terpolarisasi dan terpecah. Pengentasan kemiskinan harus dilakukan dengan intervensi kebijakan fiskal. Akan tetapi disayangkan kebijakan fiskal dengan besarnya anggaran yang digelontorkan tidak otomatis memberikan efek pengganda terhadap pertumbuhan ekonomi bagi kaum menengah ke bawah. Percepatan menciptakan lapangan kerja baru dan penciptaan peluang usaha bagi klompok usaha mikro kecil menengah, utamanya sektor peternakan unggas, hal penting lainnya yang perlu mendapat perhatian lebih.
Sampai titik ini diperlukan kebijakan yang cermat dan konsisten pro rakyat tak sekedar citra, yang bisa real menggerakan ekonomi perdesaan. Perlu mempersempit jarak pendapatan antara kaya dan miskin, pemerataan kue pembangunan wilayah, mendorong produktivitas yang tinggi sektor peternakan unggas khususnya. Hal tersebut dinilai bisa mempersempit peluang ‘jebakan’ pendapatan kelas menengah.
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi April 2020 dengan judul “Industri Unggas Dalam Jebakan Pendapatan Kelas Menengah”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153