Oleh :  Prof. I Wayan Teguh Wibawan*
Tidak bisa dipungkiri semua “barang dunia” memiliki potensi manfaat dan mudaratnya, demikian juga dengan teknologi memiliki potensi dampak yang menguntungkan dan sekaligus merugikan. Konsep ini telah dipahami oleh para leluhur kita yang dapat dijumpai pada berbagai petatah-petitih, nasihat, nilai dan sejenisnya yang dituangkan dalam pesan-pesan yang bernilai universal. Misalnya di Bali, dikenal istilah “rwa binedha mamurti” (dua hal yang berbeda selalu ada dalam setiap materi), semacam Yin dan Yang di budaya Cina. Sebagai contoh, dalam peralatan yang tajam ada potensi kegunaannya yang sangat dibutuhkan dan sekaligus potensi bahayanya. Banyak kemudahan yang diperoleh dengan adanya peralatan yang tajam, misalnya memudahkan kita berkreasi dalam pengembangan seni ukir, seni pahat dan aktivitas lainnya. Hal ini memudahkan manusia menembangkan peradabannya. Dengan kata lain manusia memperoleh banyak kemudahan karenanya.
Namun seperti yang telah disampaikan bahwa meletakkan “kemudahan” tersebut perlu bijaksana, hendaklah disadari setiap kemudahan yang kita terima harus kita “bayar”. Kemudahan sebagai akibat penguasaan teknologi memunculkan kecenderungan eksploitatif manusia terhadap sumber daya. Eksploitasi yang tidak terkendali terhadap sumber daya dalam rangka memenuhi “keinginan” (wish not the need) dapat menimbulkan masalah baru yang serius.
Teknologi dan kebijaksanaan
Tidak dapat disangkal bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat menopang akselerasi perkembangan budaya umat manusia dan sekaligus dengan dampak buruk yang menyertainya. Ilmu dan teknologi bersifat netral, manfaat atau mudarat yang kita peroleh tentu sangat tergantung kepada “siapa dan bagaimana karakter pemegang ilmu dan teknologi tersebut”. Hal ini menyiratkan, perlu dibangun kesiapan karakter yang bijak para pemegang ilmu dan teknologi tersebut agar mampu menggunakan ilmu dan teknologi secara bajik dan bijak serta memiliki pengetahuan dan kemampuan pengelolaan dampak buruk yang mungkin ditimbulkannya. Perlu dipahami bahwa setiap aktivitas tidak ada yang “zero risk”, sehingga kita tidak boleh paranoid terhadap penggunaan teknologi  baru sepanjang kita mampu mengelola risiko yang mungkin ditimbulkannya. Inilah mungkin jalan tengah yang harus diambil dalam menghadapi perkembangan ilmu dan teknologi ke depan. Pemerintah telah membentuk komisi-komisi yang bertugas untuk mengkaji produk-produk yang menggunakan teknologi rekayasa genetik hingga produk ini diyakini aman digunakan dan dampak buruknya bisa diabaikan.
Rekayasa genetika biomedis veteriner
Penulis mencoba menyampaikan uraian ini dalam scope kecil yang lebih sempit, yakni pemanfaatan teknologi rekayasa genetik dalam bidang biomedik veteriner (kesehatan hewan). Patut disyukuri bahwa pemanfaatan produk rekayasa genetik di bidang kesehatan hewan secara bertahap sudah terjadi. Hal ini kita bisa lihat antara lain pemanfaatan vaksin rekombinan, vector vaccine, reverse genetic vaccine, atau bentuk teknik rekayasa lain yang digunakan dalam preparasi vaksin. 
Pemanfaatan produk (metabolit, protein) hasil rekayasa genetik tidak bisa dihindari lagi, karena hal ini akan lebih memudahkan kita untuk memproduksi enzim, non structural protein (NSP) atau protein lain yang dapat digunakan dalam produksi bahan hayati, pembuatan toxoid dan metabolit lain yang dimanfaatkan dalam pengobatan atau pembuatan Kit-Diagnostik
Riset rekayasa genetika
Riset tentang perekayasaan genetika di bidang veteriner sejak beberapa dekade belakangan ini cukup banyak kita jumpai. Setiap tahapan riset tidak terlepas dari pro dan kontra, menurut saya itu hal yang biasa dan logis. Yang penting adalah kita memiliki argument dan disertai dengan kemampuan bisa mendengar pendapat orang lain yang dilandasi oleh scientific evidence (pendapatnya telah diverifikasi melalui tahapan kajian dalam bentuk penelitian dan hasilnya dipublikasi di dalam jurnal ilmiah). Akan sangat ironi jika setiap orang “bersikeras dengan pendapatnya” karena menafikan risiko dan berkeinginan segala sesuatu itu haruslah “zero risk”, tentu sikap paranoid semacam ini kurang bijaksana. Saat ini telah dikembangkan satu ilmu untuk mengkaji hal semacam ini, yakni Analisis Risiko. 
Riset klinis dan non klinis
Riset klinis, yakni riset yang hasilnya segera bisa diaplikasikan dan pernah dilakukan antara lain untuk penyakit African Swine Fever (ASF), Infectious Bursal Disease (Gumboro). Riset tersebut menggunakan teknik rekombinan dari Escherichia coli (E. coli), untuk memproduksi “senyawa tiruan” yang diduga sebagai faktor virulen yang paling dominan untuk virus-virus tersebut. Produk-produk rekombinan tersebut menunjukkan kemampuan membentuk antibodi spesifik dengan titer sangat tinggi tetapi antibodi tersebut masih belum menunjukkan kemampuan proteksi yang memadai. Hal ini tentu membutuhkan tambahan riset yang bersifat non klinis, yakni riset dasar yang mungkin mencoba melihat konformasi asam-asam amino penyusun protein faktor virulen tersebut. Untuk ini dibutuhkan analisa docking, untuk mengetahui keselarasan protein rekombinan dengan protein aslinya.
Produk rekombinan ada yang dapat digunakan untuk memproduksi Kit-Diagnostik tetapi belum tentu bisa untuk preparasi vaksin, Setelah melalui penyempurnaan dalam design pembuatannya produk rekombinan tersebut bisa digunakan untuk kepentingan profilaksis (vaksin) dan juga diagnostik. Penjelasan tentang cross-reaction dan cross protection biasanya dikaji di dalam penelitian-penelitian dasar. Pemanfaatan virus Herpes sebagai pembawa gen virus lain (virus Newcastle Disease atau virus Avian Influenza) sudah bisa dilakukan dan menunjukkan kemampuan proteksi yang sangat baik. Hal ini dikenal dengan vector vaccine. Pemilihan virus Herper sebagai virus vektor memiliki alasan yang sangat tepat, karena virus Herpes relatif hidup lestari seumur hidup ayam/unggas yang divaksin. Hal ini menyebabkan aplikasi vaksin hanya dilakukan sekali saja untuk seumur hidupnya. *Guru Besar Sekolah Kedokteran dan Biomedis. IPB University
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Sudut Kandang dari majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com