POULTRYINDONESIA, Jakarta– Produk asal unggas menjadi pangan protein hewani yang bergizi tinggi dan sangat terjangkau, baik secara harga dan keterseidaan bagi masyarakat Indonesia. Namun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa masih terdapat berbagai prespektif negatif dan hoaks yang beredar di beberapa kalangan masyarakat. Seperti halnya yang terjadi beberapa waktu terakhir. Dimana beredar sebuah unggahan video di platform YouTube atas nama @dhanybias_6513 dengan judul ‘Sayap dan Leher Ayam Jangan Dimakan Berlebihan – Dokter Cahyono’ yang mengeklaim bahwa terdapat larangan mengonsumsi sayap dan leher ayam pedaging (broiler). Unggahan tersebut turut mengeklaim bahwa pemeliharaan ayam broiler menggunakan suntik hormon, terutama di bagian sayap dan leher ayam, sehingga dapat menimbulkan kanker apabila dikonsumsi secara berlebihan.
Merespon hal tersebut, berdasarkan klarifikasi resmi dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian yang ditujukan kepada Direktur Pengendalian Aplikasi Informatika serta Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Rabu (6/6) menegaskan bahwa klaim pada video yang beredar tersebut adalah hoaks. Dalam surat pengaduan resminya, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Dirkesmavet), Syamsul Maarif menyampaikan bahwa broiler di peternakan pada umumnya dipelihara dengan menerapkan praktik budidaya yang baik sesuai dengan pedoman pemerintah. Pemerintah telah mengatur penerapan sistem jaminan keamanan pangan terhadap unit usaha produksi pangan asal hewan (termasuk daging ayam), dari sejak ternak dibudidayakan sampai dengan siap dikonsumsi masyarakat (from farm to table).
Kemudian berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 juncto Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, secara tegas melarang penggunaan hormon bagi ternak. Dirinya menambahkan isu pemanfaatan hormon pertumbuhan yang mengakibatkan ayam pedaging lebih cepat tumbuh, perlu diketahui bahwa broiler yang ada sekarang merupakan ayam yang secara genetik diseleksi untuk dapat tumbuh cepat dengan pemeliharaan yang spesifik, terukur, dan disiplin, termasuk pemberian pakan dan kesehatan yang diatur ketat dalam sistem pemeliharaannya. Sehingga tidak ada penggunaan hormon pertumbuhan pada broiler.
“Pemerintah pusat dan daerah telah mengatur dan juga mengawasi tata cara budidaya yang baik dalam sistem budidaya ternak potong termasuk broiler. Selain itu, Kementan melalui Ditjen PKH secara rutin melakukan pemeriksaan dan pengujian daging ayam, dan tidak ditemukan adanya residu hormon pada daging ayam,” tegas Syamsul dalam surat pengaduan resmi secara tertulis.
Melihat hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga telah menegaskan bahwa unggahan video YouTube atas nama @dhanybias_6513 dengan judul ‘Sayap dan Leher Ayam Jangan Dimakan Berlebihan – Dokter Cahyono’ merupakan sebuah hoaks. Hal ini seperti unggahan dalam laman resmi Kominfo (https://www.kominfo.go.id)  yang berjudul “[HOAKS] Sayap dan Leher Ayam Broiler Jangan Dimakan Berlebihan”.