Prof. DR.Ir. Luki Abdullah, M.Sc. Agr
Tata kelola sistem logistik merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi daya saing sebuah usaha, tak terkecuali sektor perunggasan. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI), menjelaskan bahwa di Indonesia, 60 persen kenaikan biaya sebuah produk disebabkan karena persoalan logistik. Selain itu, produk hasil unggas yang bersifat mudah rusak (perishable), menuntut pelaku usaha untuk benar-benar memperhatikan dan melakukan penanganan logistik semaksimal dan sebaik mungkin.

Sebagai Negara Kepulauan, sistem logistik Indonesia mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Selain itu dengan iklim tropis, membuat kondisi yang kurang menguntungkan bagi produk perunggasan yang mudah rusak

Saat dihubungi Poultry Indonesia secara daring melalui aplikasi zoom, Senin (7/6), Prof. DR.Ir. Luki Abdullah, M.Sc. Agr selaku Ketua Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) menjelaskan bahwa terdapat beberapa hal yang patut menjadi sorotan dalam upaya perbaikan sistem logistik perunggasan di Indonesia. Menurutnya, aspek standarisasi merupakan hal pertama yang harus digaris bawahi.
“Saat ini telah terdapat Standard Operating Procedure (SOP) tentang tata kelola logistik yang dikeluarkan oleh pemerintah. Namun demikian, langkah sosialisasi dan pengawasan dinilai belum cukup masif dilakukan. Sehingga dalam praktiknya, banyak pelaku usaha yang belum melaksanakannya dengan baik,” ungkapnya.
Luki menilai bahwa anggapan terkait standarisasi logistik akan mempersulit usaha masih lekat dengan masyarakat kita. Terlebih ketika berbicara logistik, erat kaitannya dengan cost, sehingga pelaku usaha akan berusaha semaksimal mungkin untuk menekannya. Selain itu, kesiapan fasilitas infrastruktur menjadi aspek kedua yang patut menjadi sorotan. Luki mengakui bahwa infrastruktur di Indonesia belum dapat mendukung terlaksananya praktik logistik perunggasan dengan baik. Terlebih dengan situasi Indonesia sebagai negara kepulauan tentu membuat tingkat kesulitan pelaksanaan logistik lebih tinggi, sehingga perbaikan infrastruktur menjadi sesuatu yang penting. Kemudian, aspek cold chain atau rantai dingin harus segera dipersiapkan. Pasalnya situasi pandemi Covid-19 membuat masyarakat mulai peduli akan pentingnya sistem rantai dingin ini. Apabila pemahaman rantai dingin berkembang dengan bagus di masyarakat, maka penanganan logistik perunggasan juga akan semakin mudah.

Baca juga : Sistem Logistik Perunggasan di Indonesia Masih Perlu diperbaiki

Melihat berbagai fenomena tersebut, FLPI sebagai wadah berbagi ide, gagasan serta menjalin kerja sama antara pendidikan tinggi, pemerintah, pelaku bisnis, dan komunitas peternak telah melakukan berbagai program. Saat ini FLPI aktif mengedukasi konsumen terkait strategi untuk memilih produk peternakan termasuk perunggasan yang baik. Hal ini juga untuk menumbuhkan kepedulian konsumen akan keamanan serta higienitas pangan yang secara langsung akan berkorelasi dengan sistem logistik. Terlebih, kontrol sistem logistik bisa dilakukan melalui dua cara yakni dari pemerintah melalui peraturan, pengawasan dan sosialisasi, serta dari konsumen melalui preferensi produk yang akan dipilih. Dengan kontrol konsumen tersebut, bisnis dapat berjalan lebih baik dan adil. Pelaku usaha yang telah menerapkan logistik dengan baik akan berbeda dengan pelaku usaha yang belum menerapkan logistik dengan baik.
Selain itu FLPI juga banyak melakukan kajian dan riset terkait pengembangan sistem logistik Indonesia guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses logistik, sehingga dapat menurunkan biaya atau harga jual produk dari produsen ke konsumen. Kemudian FLPI juga aktif memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah terkait aspek logistik peternakan untuk menjamin safety dan security dari produk peternakan termasuk didalamnya perunggasan. Namun demikian, keberadaan data yang dapat dijadikan acuan masih menjadi sebuah tantangan.
“Saat ini banyak data yang masih tercecer dan belum benar-benar bisa untuk menjadi pegangan dalam riset maupun pedoman penyusunan kebijakan. Masalah data ini, juga menjadi kendala dalam pengembangan traceability (ketertelusuran), yang menjadi nilai penting pada sistem logistik modern,” jelas Luki.
Lebih lanjut, permasalahan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi sebuah tantangan yang harus segera diselesaikan. Untuk itu, FLPI juga sering mengadakan seminar, pelatihan hingga diskusi untuk meningkatkan kualitas SDM serta menguatkan kepedulian masyarakat logistik baik dari sisi konsumen maupun produsen dalam pelaksanaan sistem logistik yang baik.
Kemudian dalam setiap langkahnya, FLPI juga banyak bekerja sama dengan berbagai asosiasi atau forum yang juga fokus terhadap pengembangan logistik di Indonesia, seperti Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), dan Asosiasi Logistik Indonesia (ALI). Sebagai Ketua Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI), Luki berpesan kepada konsumen untuk selalu membangun kepedulian terhadap produk yang dipilih.
“Pastikan konsumen memilih produk yang sehat, bergizi, aman dan halal, sehingga juga dapat membantu pengawasan berjalannya proses logistik. Kemudian kepada pelaku usaha, harus tetap terus menggunakan standar yang telah ditetapkan, tujuannya untuk memudahkan evaluasi standarisasi yang telah dibentuk. Selain itu, untuk pemerintah harapannya bisa lebih konsisten dan berkelanjutan dalam pengembangan logistik di Indonesia. Terlebih pendampingan terhadap UMKM harus terus dilakukan,” pungkasnya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2021 dengan judul Perbaikan Sistem Logistik Perunggasan. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153