POULTRYINDONESIA, Tangerang Selatan – Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (KAPGAMA) menggelar acara halal bihalal di Tangerang Selatan pada Minggu (12/4). Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antaralumni Fakultas Peternakan UGM, tetapi juga menjadi ruang diskusi strategis mengenai dinamika dan tantangan industri peternakan nasional, khususnya sektor perunggasan.
Ketua KAPGAMA, Achmad Dawami, dalam sambutannya menekankan bahwa industri peternakan saat ini berada dalam sorotan pemerintah karena perannya yang sangat vital dalam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga pangan di masyarakat.
Mengacu pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Dawami menyampaikan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjamin ketersediaan pangan yang cukup, aman, bermutu, dan terjangkau. Namun demikian, ia menilai masih terdapat persoalan struktural yang perlu dibenahi, salah satunya adalah panjangnya rantai distribusi dari peternak hingga ke konsumen.
“Rantai distribusi yang panjang menyebabkan disparitas harga yang cukup tinggi antara tingkat peternak dan konsumen. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama yang perlu diselesaikan melalui integrasi sistem yang lebih efisien,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dawami menyoroti pentingnya sinergi antara tiga pilar utama dalam pembangunan sektor peternakan, yaitu pemerintah, pelaku usaha, dan kalangan akademisi. Dalam konteks ini, Universitas Gadjah Mada dinilai memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di bidang peternakan.
Sejalan dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa kontribusi perguruan tinggi dan alumni memiliki peran besar dalam mendorong kemajuan industri perunggasan di Indonesia.
Ia mencontohkan, perkembangan teknologi dan manajemen produksi telah meningkatkan efisiensi secara signifikan. Jika sebelumnya ayam membutuhkan waktu hingga 68 hari untuk mencapai bobot 2 kilogram, kini hanya memerlukan sekitar 28–30 hari.
“Peningkatan efisiensi ini merupakan hasil dari kemajuan teknologi, riset, dan inovasi yang tidak lepas dari kontribusi perguruan tinggi seperti UGM, serta alumni yang berkiprah langsung di industri,” jelasnya.
Momentum halal bihalal ini juga menjadi refleksi bagi para alumni untuk terus memperkuat kontribusi dalam pembangunan sektor peternakan nasional. Dengan bekal keilmuan dan pengalaman yang dimiliki, alumni diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang mendorong inovasi, sekaligus menjembatani kepentingan antara pemerintah, industri, dan masyarakat.
Menutup kegiatan, para alumni sepakat bahwa kolaborasi yang berkelanjutan menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.
“Mari kita pererat kolaborasi dan menjaga komitmen bersama untuk membangun industri peternakan yang lebih efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia