Gerd de Lange Senior Poultry Specialist
Embrio berada di permukaan kuning telur dan terhubung ke latebra putih telur, yang berada di tengah kuning telur. Latebra yang kaya akan air memiliki berat jenis yang lebih rendah dibandingkan kuning telur yang kaya akan lemak, dan berdasarkan ilmu fisika, embrio akan selalu bergerak ke arah atas telur, ke arah manapun telur ditempatkan pada baki setter.
Pada hari ke-14, embrio yang berkembang berada di atas kantung kuning telur. Embrio kemudian berbalik arah sehingga posisinya dalam telur memanjang dan pada hari ke-18 kepala embrio berada di bawah sayap kanan dengan paruh menghadap ke atas, siap untuk menembus rongga udara (pipping) dan mengembangkan paru-paru untuk menetas. Lalu, bagaimana jika embrio tidak mampu menembus rongga udara?
Rongga udara terletak di ujung bagian tumpul telur, di antara membran cangkang dan membran telur. Cangkang telur pada bagian ini memiliki lebih banyak pori-pori sehingga udara dapat masuk seiring dengan menyusutnya isi telur akibat pendinginan setelah proses laying. Selama penyimpanan dan inkubasi, rongga udara berangsur-angsur membesar seiring dengan menguapnya kandungan air pada telur.
Telur ayam dengan posisi normal (bagian ujung tajam ke bawah).
Saat telur tidak sengaja diposisikan dengan bagian ujung yang tajam berada di atas, kepala embrio berada di ujung yang berlawanan dengan rongga udara dan menyebabkan proses pipping tidak dapat dilakukan. Posisi ini menyulitkan proses penetasan karena embrio sangat bergantung pada pasokan oksigen yang terbatas melalui membran korioalantoik. Cangkang pada bagian telur yang tajam juga lebih kuat sehingga ruang untuk bergerak dan pipping sangat minim. Ciri embrio yang gagal dapat dilihat dengan metode candling, posisi kaki berada di dekat sel udara; namun tidak semua telur yang diinkubasi dengan posisi ini gagal menetas.
Seorang pelanggan di Turki melakukan percobaan pada tahun 2016 dengan menggunakan berbagai ras dan usia flock. Sebanyak 300 butir telur diposisikan dengan ujung bagian tajam di atas dan 300 lainnya pada posisi normal. Hasilnya telur yang berhasil menetas menurun sebanyak 12,7%-21,0%. Selain itu, kelompok telur yang diinkubasi dengan posisi terbalik menghasilkan lebih banyak DOC yang diafkir. Ketika telur dengan posisi terbalik dikombinasikan dengan vaksinasi in-ovo, hasilnya lebih mencolok.
Gambar: Kematian embrio 19-21 hari untuk telur yang diinkubasi dengan posisi normal dibandingkan dengan telur yang diinkubasi dengan posisi terbalik.
Eksperimen skala kecil yang dilakukan oleh seorang pelanggan di Hongaria pada tahun 2019 dengan sampel 162 butir telur pada tiap kelompok perlakuan mendapatkan hasil sebanyak 93 ekor DOC yang berhasil menetas dari kelompok telur yang diinkubasi dengan posisi terbalik. Saat telur dengan posisi ini diberikan vaksin secara in-ovo, hanya didapatkan 39 ekor ayam yang berhasil menetas. Kelompok kontrol (posisi bagian telur yang tumpul di atas dan ditambah vaksinasi in-ovo) menunjukkan hasil tetas yang normal.
Saran
• Jika jumlah telur yang tidak sengaja diposisikan terbalik (bagian ujung telur yang tajam di atas) melebihi angka 10%, maka daya tetas telur akan menurun hingga 2%.
• Latih para pekerja di bagian peternakan dan penetasan untuk menempatkan telur dengan posisi yang benar, yaitu bagian ujung telur yang tumpul di atas.
• Lakukan proses candling atau peneropongan dalam ruangan gelap untuk melihat rongga udara.
• Pertimbangkan pengaturan otomatis untuk memposisikan telur dengan ujung yang tajam di bawah, terutama ketika melakukan vaksinasi in-ovo.
• Ambil sampel dari baki setter yang siap diinkubasi untuk memeriksa posisi telur yang benar.
• Perhatikan posisi telur jika terlihat tanda-tanda bagian kaki dekat dengan rongga udara. Gerd de Lange (Translated by: Adv)