Penggunaan closed house merupakan salah satu penerapan teknologi pada broiler untuk menunjang efisiensinya (sumber gambar: www.aces.edu)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) 2021, Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar seminar virtual pada Kamis (5/8), lewat aplikasi Zoom. Seminar yang dihadiri oleh lebih dari 450 peserta ini mengangkat sebuah tema menarik, yaitu “Digitalisasi Inovasi untuk Mendukung Kedaulatan Pangan Indonesia”.
Menurut Prof Ir Nizam, MSc, DIC, PhD, IPU, Asean Eng., selaku Dirjen Pendidikan Tinggi, Kemendikbud Ristek RI, dalam sambutannya mengatakan bahwa Perguruan Tinggi harus selalu menjadi mata air yang menyuburkan, yang memberi penghidupan pada masyarakat dan memajukan industri, memajukan ekonomi, serta memajukan bangsa dan negara.
“Saya yakin bahwa pembangunan berkelanjutan itu tidak bisa tanpa SDM yang unggul, serta inovasi dari riset dan teknologi. Dua hal ini sangat kuat dilakukan diperguruan tinggi, dan pertanian sendiri merupakan basis kekuatan dari suatu negara. Tidak ada satu pun negara maju yang tidak memiliki kedaulatan pertanian dan kedaulatan pangan. Indonesia dengan penduduk yang besar dan mempunyai wilayah yang sangat besar, sangat penting untuk mewujudkan kedaulatan pangan,” terang Nizam saat membuka seminar.
Lebih lanjut, Nizam mengatakan bahwa dengan kondisi negara yang sangat subur, curah hujan yang ada sepanjang tahun, sinar matahari tersedia sepanjang tahun, namun ternyata Indonesia masih tergantung pada impor pangan, bahkan buah-buahan.
“Ini adalah PR besar untuk kita semua, bagaimana kita membangun bangsa melalui kedaulatan pangan, ini perlu kita wujudkan dengan tahapan-tahapan yang jelas dan progres yang terukur dengan bersama sama bergandengan tangan.”
Masih menurut Nizam, ia bermimpi suatu saat Indonesia bisa menjadi sumber bahan pangan dunia, atau setidaknya di Asia Tenggara. “Mari sama-sama kita bangun kedaulatan pangan kita, mari kita gelorakan untukbangga dan cinta makanan Indonesia dan kita jadikan bahan pangan menjadi raja di negaranya sendiri, dan akan menjadi raja di dunia pada saatnya,” ucap Nizam.
Baca Juga: CPI Kembali Hibahkan Kandang Closed House untuk Kemajuan Pendidikan
Pemaparan selanjutnya oleh Dr Ir Arief Daryanto, MEc selaku Dekan Sekolah Vokasi IPB University yang hadir selaku narasumber seminar tersebut membahas mengenai “Model Teaching Factory Berbasis Digital dan Strategi Membangun Ekosistem Kewirausahaan”. Menurutnya Teaching Factory merupakan proses pembelajaran yang menggabungkan antara tiga komponen, yaitu riset, inovasi, dan pendidikan yang efektif dalam meningkatkan kompetensi lulusan. Jadi bagaimana akadamisis bisa menghasilkan lulusan yang produktif, inovatif, kreatif, dan renumerative, serta respektif atau dihormati oleh masyarakat.
Lebih jauh Arief mengatakan bahwa Model Teaching Factory ini dikembangkan berdasarkan empat pendekatan pembelajaran, yaitu enterprise-based learning (dual system), competency-based learning, project-based learning, dan production-based learning yang implementasinya dapat dilakukan secara hybrid (kombinasi tatap muka dan virtual).
“Teaching Factory Paradigm ini memberikan manfaat win win solution untuk Perguruan Tinggi dan juga Industri. Dimana di dalamnya kita mengolah SDM yang memiliki enterprise, skills, innovation dan competition, yang nantinya bisa menghasilkan outputs berupa advanced technology, increased productivity, serta advanced skills, dan kemudian akan mewujudkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan lingkungan,” terangnya.
Arief menambahkan bahwa Teaching Factory Modern Closed House merupakan satu system yang ditawarkan dalam industri perunggasan, terutama di peternakan broiler dengan berbagai kemajuan teknologi di dalamnya, dengan tujuan untuk produktifitas dan efisiensi yang lebih baik.
“Dalam Closed House kita menggunakan 7 sistem, yakni ventilation. Evaporation, feeding, watering, brooding, lighting, dan curtain systems. “Ini menunjukkan keberadaan Triple Helix Collaboration antara Pemerintah (Provinsi Jawa Barat), Perusahaan kemitraan bisnis (PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk.), dan akademisi (SV-IPB). Keberadaan ketiganya ini sangat penting, dan juga ditunjang dengan suatu aplikasi bernama DMSS (Digital Mobile Surveillance System) untuk memantau kandang dimana pun dan kapan pun. Kami yakin adanya kolaborasi antara Universitas dan Industri akan menghasilkan inovasi dan akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi,” lanjut Arief.
Selain Arief, turut hadir pula dua narasumber lainnya yaitu Dr Dwi Guntoro, SP, MSi selaku Asisten Direktur Stasiun Lapang, Direktorat Bisnis IPB University, yang berbicara tentang “Integrasi Smart Farming dan Sistem Kemitraan Agribusiness & Technology Park” dan juga ada Dr Zaenal Abidin, SSi, MAgr selaku Pakar Nanomaterial Berbasis Zeolit dan Lempung, Wakil Dekan FMIPA IPB University, yang membawakan tema ”Aplikasi Zeolit Nano Poros untuk Pemenuhan Oksigen di Masa Pandemi (Oxygen Concentrator). Tak hanya itu turut hadir pula dalam seminar tersebut Prof Dr Arif Satria selaku Rektor IPB University, dan juga Prof Dr Ir Erika B Laconi, MS yang merupakan Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Bisnis/Kepala Lembaga Kawasan Sains dan Teknologi IPB University.