Oleh: drh. Amira Nadia Prastuti, M.Sc.*
Taiwan yang beribukota di Taipei merupakan negara yang terletak di Asia bagian Timur. Pulau utama dari negara Taiwan berbatasan ke timur oleh Samudra Pasifik, ke selatan oleh Laut Tiongkok Selatan dan Selat Luzon, ke barat oleh Selat Taiwan, dan ke utara oleh Laut Tiongkok Timur. Lokasi negara Taiwan berada di tengah jalur migrasi burung yaitu Jalur Terbang Asia Timur-Australasia, sehingga setiap tahunnya ribuan burung yang bermigrasi akan datang ke negara Taiwan untuk mengisi bahan bakar atau mencari makan dan berkembang biak.

Sebagai negara yang berada di tengah jalur migrasi burung, Taiwan berpotensi besar untuk penyebaran penyakit pada unggas. Tak terkecuali terkait Avian Influenza atau flu burung.

Menurut Daftar Periksa Burung Taiwan 2020, total 674 spesies burung telah tercatat di Taiwan, termasuk 29 spesies endemik, 55 subspesies endemik, 14 pendatang saat musim panas, 162 pendatang saat musim dingin, 91 pendatang sementara, 29 burung laut, dan 171 burung liar. Banyaknya migrasi burung dan spesies burung yang datang ke Taiwan tentunya meningkatkan potensi adanya penyebaran penyakit pada unggas. Terdapat kemungkinan adanya virus atau bakteri yang terbawa ketika burung tersebut bermigrasi dari daerah asal ke Taiwan maupun sebaliknya.
Untuk itu tentu diperlukan pencegahan demi mengurangi risiko masuknya penyakit unggas dan penyebaran penyakit unggas ke negara Taiwan. Hal yang telah dilakukan oleh pemerintahan negara Taiwan sebagai pencegahan masuknya dan penyebaran penyakit pada unggas antara lain adalah melakukan surveillance yang rutin dilakukan untuk memeriksa sampel dari unggas liar, unggas domestik (termasuk peternakan unggas), dan pada pasar unggas hidup untuk memeriksa adanya penyakit pada unggas. Yang mana kemudian akan dilakukan pemeriksaan kultur sel, reverse-transcriptase polymerase-chain-reaction (RT-PCR), teknologi sequencing dan pemodelan komputerisasi yang dapat membantu pemahaman tentang wabah flu burung.
Selain itu, pemerintah negara Taiwan juga memberlakukan larangan pemotongan unggas hidup di pasar basah tradisional mulai bulan Juni tahun 2013. Sebagian besar unggas disembelih di 79 rumah pemotongan unggas berlisensi yang tersebar di pulau Taiwan. Kemudian sesuai dengan SOP maka akan dilakukan pemusnahan unggas di peternakan atau suatu daerah apabila adanya penyakit unggas yang mematikan seperti Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) yang telah dikonfirmasi oleh Laboratorium Kesehatan Hewan Taiwan.
Dinamika flu burung di Taiwan
Avian Influenza (AI) atau flu burung adalah penyakit yang disebabkan oleh virus single standed RNA yang masuk pada family Orthomyxoviridae. Virus ini memiliki amplop dengan lipid bilayer dan dikelilingi sekitar 500 tonjolan glikoprotein yang mempunyai aktivitas hemaglutinasi (HA) dan enzim neuraminidase (NA). Virus AI merupakan virus yang diketahui mudah untuk mengalami mutasi, dengan mengalami perubahan nukleotida atau asam amino di dalam gen. Pengaruh perjalanan waktu dan perbedaan inang telah menyebabkan perubahan tersebut terjadi.
Berdasarkan prototipenya, virus Avian Influenza dibedakan menjadi Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) atau tipe ganas dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) atau tipe kurang ganas. Beberapa peneliti berpendapat bahwa virus flu burung H5 atau H7 dengan patogenitas yang tinggi (HPAI) berasal dari virus low-pathogenic avian influenza (LPAI) yang ditularkan oleh burung air (aquatic bird) ke burung darat (terrestrial bird). Virus LPAI H5 dan H7 kemudian memperoleh asam amino tambahan pada peptida penghubung dari protein hemagglutinin (HA).
Menurut Yu-Nong Gong selaku peneliti Research Center for Emerging Viral Infections, Chang Gung University, sejarah flu burung di Taiwan dapat ditelusuri mulai dari pandemi H1N1 pada tahun 1918, diikuti oleh H2N2 pada tahun 1957, H3N2 pada tahun 1968, dan H1N1 pada tahun 2009. Ada empat jenis virus influenza yaitu tipe A, B, C, dan D. Virus influenza A, B, dan C dapat menginfeksi manusia. Dari jenis-jenis tersebut, hanya virus tipe A yang menyebabkan pandemi serta dapat berdampak besar pada kesehatan manusia secara global. Influenza B menyebabkan epidemi musiman sementara influenza C menyebabkan infeksi ringan pada manusia dengan dampak kesehatan masyarakat yang minimal.
Virus flu burung yang ada di Taiwan adalah subtipe H3N2 dan H1N1 dari virus influenza A dan garis keturunan Victoria dan Yamagata dari virus influenza B. Puncak virus flu burung ini biasanya terdeteksi selama musim dingin yaitu bulan Desember sampai Februari. Walaupun pada musim panas kadang juga terjadi wabah flu burung.
Virus flu burung juga merupakan ancaman bagi kesehatan masyarakat. Sejak tahun 2013 dilaporkan adanya beberapa kasus flu burung pada manusia di Taiwan. Sedangkan, jika dilihat dari sisi ekonomi kerugian yang disebabkan oleh flu burung tergolong tinggi, karena adanya kematian massal pada unggas yang mendadak dan penurunan produksi telur yang signifikan.
Pada tahun 2022, tepatnya pada tanggal 15 November, Biro Pencegahan dan Karantina Epidemi Hewan dan Tumbuhan Taiwan (TBAPHIQ) mengumumkan adanya kasus flu burung pada peternakan bebek di daerah Gaoshu, Kabupaten Pingtung. Peternakan tersebut merupakan peternakan bebek Muscovy yang merupakan penghasil daging di Pingtung, kabupaten yang terletak di bagian ujung selatan negara Taiwan. Kasus tersebut telah dikonfirmasi oleh Laboratorium Kesehatan Hewan Taiwan dengan hasil virus flu burung subtipe H5N2 yang sangat patogen atau high pathogenic avian influenza (HPAI).
Kantor Pencegahan Epidemi Hewan Kabupaten Pingtung menerapkan tindakan pencegahan epidemi sesuai dengan standar operasi prosedur (SOP) yaitu dengan melakukan pemusnahan 1.350 ekor bebek Muscovy yang berusia 35 hari dan mengawasi peternakan untuk melakukan pembersihan dan desinfeksi lokasi secara menyeluruh. Kemudian, kasus flu burung juga dikonfirmasi di peternakan bebek Muscovy di Gukeng, Yunlin pada tanggal 24 November 2022.
Kabupaten Yunlin merupakan kabupaten yang berada di bagian barat dari negara Taiwan dan berada di utara Kabupaten Pingtung. Virus flu burung yang menyerang pada peternakan bebek tersebut sama dengan yang menyerang peternakan bebek di Kabupaten Pingtung. Sesuai dengan standar operasi prosedur (SOP), Kantor Pencegahan Epidemi Hewan dan Tumbuhan Kabupaten Yunlin melakukan pemusnahan terhadap 3.166 ekor bebek Muscovy yang berusia 53 hari dan mengawasi peternakan untuk melakukan pembersihan dan desinfeksi lokasi secara menyeluruh.
Kemudian pada tanggal 4 Desember 2022, wabah flu burung patogen H5N2 kembali ditemukan di Pingtung, di sebuah peternakan ayam di Yanpu. Hal ini mengakibatkan pemusnahan 8.599 ekor ayam di peternakan tersebut. Laporan adanya kematian unggas yang tidak normal dari peternakan tersebut diterima oleh pemerintah Kabupaten Pingtung pada hari Kamis. Pemerintah Kabupaten Pingtung kemudian melakukan kontrol lalu lintas unggas dari peternakan tersebut, mendesinfeksi wilayah peternakan dan daerah di sekitarnya serta melakukakn pengambilan sampel untuk diuji ke Laboratorium Kesehatan Hewan Taiwan untuk dilakukan pengujian sampel.
Dengan adanya 2 kasus yang terjadi di Kabupaten Pingtung, tentunya diharapkan adanya pengawasan yang ketat baik oleh peternak itu sendiri maupun oleh pemerintah daerah. Seperti yang diketahui, Kabupaten Pingtung merupakan salah satu daerah dengan jumlah peternakan unggas yang banyak. Selain itu, pemerintah menghimbau agar para peternak unggas menghentikan pembiakan pada ayam dengan berbagai umur secara bersamaan untuk menghentikan penyebaran flu burung.
Taiwan waspada HPAI
Wabah flu burung (HPAI) telah terjadi sejak Oktober tahun 2022 di negara-negara hulu jalur migrasi burung seperti negara Korea dan Jepang. Di antaranya 12 peternakan unggas di Korea Selatan melaporkan adanya kasus flu burung mulai 17 Oktober 2022 hingga November dan 17 peternakan unggas di Jepang melaporkan adanya kasus flu burung mulai 28 Oktober 2022 hingga November. Kasus flu burung tersebut telah dikonfirmasi sebagai H5N1 dengan subtipe patogenisitas tinggi. Hingga saat ini, jumlah unggas yang telah dimusnahkan adalah sekitar 2,75 juta ekor unggas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya migrasi burung telah meningkatkan risiko masuknya virus flu burung ke peternakan unggas di negara Taiwan.
Untuk mencegah adanya penyebaran flu burung yang lebih parah, pemerintah negara Taiwan menghimbau kepada para peternak unggas untuk segera melapor ke badan pencegahan epidemi hewan setempat jika menemukan gejala seperti depresi, kehilangan nafsu makan, penurunan konsumsi air minum, penurunan tingkat produksi telur atau kematian unggas yang tidak normal di peternakan.
Diharapkan para peternak unggas bisa bekerja sama dengan baik dengan pemerintah untuk meminimalisir penyebaran flu burung saat ini. Selain itu, badan pencegahan epidemi hewan diharapkan untuk selalu memberikan sosialisasi dan pengawasan terhadap para peternak unggas serta melaksanakan langkah-langkah desinfeksi maupun pemusnahan yang diperlukan untuk mencegah penyebaran virus flu burung tersebut ke daerah lainnya di negara Taiwan. *Master of Science in Veterinary Medicine, National Pingtung University of Science and Technology, Taiwan
Artikel ini merupakan rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com