Menurutnya, ayam layer harus diperlakukan lebih istimewa daripada broiler komersial. Dengan umur produksi yang panjang, manajemen harian layer menuntut presisi tinggi dan kualitas bahan baku yang tinggi.

Sejak kecil, Tito Ari Santoso sudah terbiasa hidup dekat dengan ayam. Lahir di tahun 1987 di Kota Batu, ia tumbuh di lingkungan peternakan ayam broiler milik ayahnya. Kebiasaan sederhana seperti memberi pakan ayam sebelum bermain bola di sore hari pun membentuk ketertarikannya pada dunia perunggasan.

Core memory masa kecil saya di kandang ayam. Dari kecil saya terbiasa memberi makan ayam sebelum main bola, bahkan saya pernah sampai menginap di kandang. Karena sudah tau ternak itu seperti apa, jadi pada saat ke perguruan tinggi akhirnya saya mengambil Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya di tahun 2006,” kenang Tito saat berbincang daring bersama Poultry Indonesia, Rabu (27/8).

Ketika melanjutkan studi, ia memilih jurusan Teknologi Hasil Ternak yang belajar tentang probiotik, prebiotik, enzim, hingga asam organik. Lulus tahun 2010, anak kedua dari tiga bersaudara ini langsung diterima bekerja di Cibadak Indah Sari Farm melalui program rekrutmen Management Trainee (MT) yang datang ke kampus. Namun, di awal kariernya, ia menyadari bahwa ilmu kuliah tidak selalu bisa langsung diaplikasikan di lapangan.

“Saya awalnya masuk di divisi broiler farm. Di situ saya sadar bahwa teori di perguruan tinggi dan kenyataan di industri sangat jauh berbeda. Tahun 2011, semua kandang di Cibadak sudah pakai sistem closed house. Sebagai supervisor, saya membawahi 2 kandang dengan kapasitas masing-masing sekitar 30 ribu ekor. Saya rasa teknologi di sana sudah sangat maju, jadi saya harus belajar banyak mulai dari nol,” ungkapnya.

Karena merasa adanya perbedaan ilmu di kampus dan industri, ia juga berharap adanya jurusan seperti Teknik Industri Peternakan yang bisa menjembatani dunia akademik dengan industri.

Jatuh Bangun di Feedmill

Ketika industri pakan harus beradaptasi pasca pelarangan AGP, Tito justru merasa cukup siap karena sudah mempelajari dasar-dasarnya saat kuliah. Ilmu ini pun cukup berguna ketika ia ditempatkan di area feedmill. Setelah setahun di farm, ia dipindahkan ke divisi feedmill (pabrik pakan) dan dipercaya menjadi Wakil Plant Manager, hingga akhirnya naik menjadi Plant Manager pada tahun 2016/2017. 

“Karena latar belakang saya dari farm, saya cukup memahami data dan performa farm seperti apa. Maka saat pindah ke feedmill, tugas pertama saya adalah memperhatikan kualitas. Di Cibadak ini semua lini harus tahu kualitas dan menerapkan quality assurance (QA), bukan hanya tim QC saja,” tegasnya. Hal ini menjadi penting karena mayoritas pakan yang diproduksi digunakan untuk internal farm, sehingga kualitas pakan yang bagus akan menghasilkan performa ayam yang bagus pula. 

Hingga tahun 2019, Tito masih menjabat sebagai Plant Manager di Cibadak. Selama bekerja di sana prestasinya pun jelas, kapasitas produksi pakan melonjak signifikan dari 7.000 ton menjadi 15.000 ton per bulan. Meski kariernya cemerlang, Tito tetap menyimpan keinginan kuat untuk pulang ke Jawa Timur. 

Kesempatan itu datang ketika ia diajak bergabung di PT Widodo Makmur Unggas Tbk yang sedang membangun pabrik pakan baru di Ngawi, Jawa Timur. Namun, setelah setahun bergabung, proses pembangunan ternyata berjalan cukup lambat dan tak kunjung selesai. Terlalu lama menunggu, ia kemudian mencari peluang lain.