Hidangan olahan ayam pada bagian sayap
Oleh : drh. Muhammad Syafriyansyah*
Malaysia atau biasa orang sebut dengan istilah Negeri Jiran merupakan negara federal yang mempunyai luas wilayah sekitar 329.847 km2. Negara Malaysia masuk dalam kategori negara dengan pembangunan sangat tinggi. Selain Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam pun juga masuk dalam kategori ini. Sementara itu, negara lain seperti Indonesia, Thailand dan Filipina masuk dalam negara kategori pembangunan tinggi. Kemudian disusul Vietnam, Timor Leste, Laos, Myanmar dan Kamboja termasuk dalam kategori pembangunan menengah. UNDP sendiri dalam hal ini membedakan skor IPM menjadi empat kategori yaitu pembangunan sangat tinggi, tinggi, menengah, dan rendah.

Kemampuan ekpor produk unggas Malaysia ke berbagai negara di Asia mengindikasikan daya saing yang tinggi pada sektor perunggasannya.

Tiga indikator mendasar yang dilihat UNDP dalam pengukuran IPM adalah tingkat pendidikan, kesehatan dan ketenagakerjaan. Dari Ketiga indikator tersebut, penulis tertarik untuk membahas bidang kesehatan yang dalam hal ini dihubungkan dengan angka kecukupan gizi masyarakat Malaysia. Berdasarkan data yang dirilis oleh Food and Agriculture Organization of United Nation (FAO) tahun 2019, jumlah penduduk kurang gizi di Malaysia pada kurun waktu 2016 hingga 2018 berada pada kisaran 0,8 juta jiwa. Angka ini turun sekitar 20 persen dari tahun 2004 sampai 2006 yang berada pada kisaran 1 juta jiwa.
Tingkat gizi negara Malaysia tidak lepas dari jumlah konsumsi protein hewani penduduknya. Pada tataran Asia Tenggara konsumsi protein hewani Malaysia tergolong berada di atas. Sebagai contoh, apabila dibandingkan dengan negara Indonesia, tingkat konsumsi protein hewani asal unggas di Malaysia jauh berada di atas. Tingkat konsumsi daging ayam saat ini di Malaysia sudah berada di atas 40 kilogram per kapita per tahun sedangkan Indonesia masih berada disekitar angka 12,79 kilogram per kapita per tahun. Sedangkan untuk konsumsi telur ayam di Malaysia sudah lebih dari 20 kilogram per kapita per tahun, jauh meninggalkan Indonesia yang baru berkisar 8-9 kilogram per kapita per tahun. Kemajuan bisnis perunggasan menurut penulis menjadi salah satu faktor yang menyebabkan fenomena ini terjadi.
Efisiensi perunggasan di Malaysia
Berdasarkan data yang dilaporkan oleh Jabatan Perkhidmatan Veteriner, Kementerian Pertanian dan Industri Makanan Malaysia tahun 2019, produksi daging dan telur ayam Malaysia pada tahun 2018 secara berurutan sebesar 1.653,7 ton dan 13.736,2 juta butir. Dari angka-angka tersebut serapan dalam negeri untuk daging ayam sebesar 1.589,7 ton sedangkan untuk telur sebesar 10.343,5 juta butir dan selebihnya diekspor ke berbagai negara Asia lainnya.
Terkait ekspor, Malaysia merupakan salah satu negara di daratan Asia Tenggara yang telah mampu melakukan aktivitas ekspor produk hasil unggas selain Thailand, Filipina dan Indonesia. Pasar utama ekspor produk unggas Malaysia adalah negara tetangganya yakni Singapura. Berdasarkan laporan data dari Federation of Livestock Farmers Assosiations of Malaysia yang dilansir melalui www.flfam.org, tujuan ekspor daging ayam Malaysia pada tahun 2017 adalah Singapura, sedangkan ekspor komoditas telur telah dilakukan ke Singapura, Hong Kong, Makau, Brunei Darussalam, Timor Leste dan Maladewa.
Baca Juga: Perhatian Terhadap Kesehatan Pekerja Ditengah Pandemi
Kemampuan ekpor produk unggas Malaysia ke berbagai negara di Asia mengindikasikan daya saing yang tinggi pada bidang perunggasannya. Apabila dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara, industri perunggasan di Malaysia terbilang sudah cukup efisien dan dapat bersaing apabila diukur dari kemampuan untuk mengekspor produk olahan unggas ke negara lain. Malaysia mampu menembus pasar Singapura dan beberapa negara lain. Selain itu, hampir semua perusahaan perunggasan di Malaysia sudah melakukan sistem terintegrasi secara vertikal, walaupun Malaysia mengimpor hampir semua bahan pakan untuk industri unggasnya.
Menurut Tangendjaja (2013), Malaysia mempunyai biaya produksi ayam hidup yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan Indonesia, baik ditinjau dari biaya DOC maupun biaya pakan. Hasil pengamatan di lapangan pun menunjukkan bahwa pekerja yang memelihara ayam di Malaysia juga banyak berasal dari Indonesia dengan upah yang 3 kali lebih tinggi.
Akan tetapi dengan kondisi demikian Malaysia masih mampu menghasilkan ayam hidup dengan biaya lebih rendah. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Ilmas Abdurofi et al. (2018) yang dipublikasikan di Journal Applied Science menunjukkan bahwa rata-rata biaya untuk menghasilkan 1 kilogram daging ayam pada kandang sistem open house adalah RM3,8 atau setara dengan Rp12.800, sedangkan pada kandang closed house berkisar RM3,7 atau setara dengan Rp12.600
Preverensi pasar Malaysia
Seiring pertumbuhan ekonomi negara Malaysia, pendapatan per kapita penduduk Malaysia pun akan meningkat. Dari sudut pandang ekonomi, diharapkan konsumen yang lebih mampu secara finansial perlahan akan beralih ke kualitas produk yang lebih baik. Tak terkecuali pada produk hasil unggas. Penulis memerhatikan preverensi kualitas produk perunggasan penduduk Malaysia secara perlahan bergeser ke arah yang lebih baik seperti keamanan pangan dan kandungan kesehatan dalam produk pangan tersebut.
Hal yang paling menonjol terkait perubahan preverensi produk hasil unggas terjadi pada komoditas telur. Selain telur layer biasa (telur cokelat), industri perunggasan Malaysia telah memproduksi telur khusus atau telur dengan kandungan yang spesifik. Beberapa telur tersebut merupakan telur yang diperkaya dengan vitamin E, telur selenium, telur omega, telur rendah kolesterol dan lain sebagainya.
Beberapa contoh adalah telur selenium yang diperkaya Se banyak diproduksi oleh perusahaan Lian Hua Seng, sementara telur omega-3 sebagai produk perusahaan Lay Hong Berhad dan telur rendah kolestrol, telah diperkenalkan oleh perusahaan Teck Ping Chan dan masih banyak perusahaan yang memproduksi telur dengan kandungan spesifik lainnya. Selain untuk kebutuhan dalam negeri, telur-telur khusus ini juga telah di ekspor ke Singapura. *Veterinarian Lian Hua Seng Livestock Sdn. Bhd.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2020 dengan judul “Perkembangan Agribisnis Perunggasan Negeri Jiran”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153