POULTRYINDONESIA, Jakarta – Perkembangan perunggasan di Banten tak bisa lepas dari banyaknya pabrik penyedia sarana produksi ternak di daerah tersebut. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Provinsi Banten, saat ini terdapat 14 pabrik pakan berskala besar yang memproduksi pakan unggas, dengan total produksi terpasang berkisar 3,698 juta ton per tahun pada 2020 (Tabel 1). Selain itu, di tingkat UKM juga terdapat beberapa kelompok peternak dan perseorangan yang juga mengelola pabrik pakan skala kecil untuk kebutuhan pakan unggas, terutama unggas lokal.

Dengan segala faktor pendukung yang ada, perunggasan di Banten berkembang begitu pesat. Disisi lain, dinamika bisnis yang terjadi mengharuskan pelaku usaha didalamnya bisa beradaptasi serta jeli dalam menyusun strategi

Lebih lanjut, dari bagian usaha pembibitan terdapat 2 perusahaan yang mempunyai farm grand parent stock (GPS), 17 farm parent stock (PS) broiler dan 1 farm PS layer serta 9 unit hatchery. Pendistribusian produksi usaha pembibitan ini mencakup wilayah Banten, Jabar, Jateng, Jatim dan Sumatra, dengan rerata alokasi untuk wilayah Banten sekitar 40-55 persen.
Kemudian Banten memiliki variasi unggas yang dibudidayakan didalamnya. Mulai dari ayam ras pedaging, ayam ras petelur, ayam lokal, puyuh, itik, dan entog (itik manila). Berdasarkan Statistik Peternakan (2020), populasi ayam ras pedaging mencapai 196.970.599 ekor, ayam ras petelur 16.422.179 ekor, ayam lokal 8.991.728 ekor, itik 1.965.241, puyuh luar. Namun, terdapat sedikit anomali pada produksi telur di Banten, ketika lebih banyak yang didistribusikan ke arah DKI Jakarta. Dirinya mengaku bahwa lebih dari 70 persen produksi telur Banten, didistribusikan ke Jakarta.
Hal ini dikarenakan banyaknya anggapan bahwa telur dari Banten mempunyai kualitas dan kesegaran yang lebih bagus dari pada harus mendatangkan telur dari Jawa atau Sumatra, sehingga pedagang dari Jakarta lebih menyukai telur dari Banten. “Mungkin ini anomali tata niaga tersediri, dimana produksi telur kita dibawa keluar sedangkan kebutuhan di dalam daerah dicukupi dari luar. Namun, itulah kondisi pasar yang terjadi saat ini,” ungkapnya saat ditemui Poultry Indonesia di Kantor Dinas Pertanian Provinsi Banten, Senin (11/10). Dwidjo meneruskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi pendorong pesatnya perkembangan perunggasan di Banten. Dari sisi geografis, posisi Banten sebagai daerah penyangga Ibu Kota Negara sangatlah menguntungkan. Pasalnya potensi pasar di DKI Jakarta menjadi peluang besar bagi pelaku usaha perunggasan di Banten. Di sisi lain, jumlah penduduk Banten yang terus berkembang juga merupakan potensi pasar yang dapat dimaksimalkan.
Baca juga : Dinamika Perunggasan Banten
Selain itu, dukungan infrastruktur dan transportasi yang memadai dapat mempermudah distribusi hasil usaha perunggasan seperti pakan, bibit, hasil on farm hingga olahan ke seluruh wilayah Indonesia, baik melalui darat, laut maupun udara. “Saya melihat, akses transportasi di Banten ini sudah cukup baik dan terus mengalami perkembangan. Dari sisi darat, jalan tol sudah hampir menjangkau seluruh wilayah di Banten dan secara langsung juga terhubung ke Jakarta. Kemudian banyaknya pelabuhan di Banten juga menjadi faktor pendukung transportasi laut, terlebih dalam distribusi antar pulau maupun aktivitas ekspor dan impor,” jelasnya.
Kemudian, dukungan perusahaan baik dari sisi hulu hingga hilir yang terbilang maju dan modern juga sangat menguntungkan bagi pelaku usaha perunggasan daerah. “Jenis usaha mulai hulu (pakan, bibit dan obat) hingga hilir (RPA dan usaha pengolahan) telah banyak berkembang di Banten, sehingga membuat perkembangan perunggasan di daerah ini berjalan sangat pesat. Selain itu, biaya tenaga kerja yang relatif masih rendah, juga menjadi salah satu alasan untuk pengembangan bisnis perunggasan di Banten,” terang Dwidjo.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2021 dengan judul Melihat Dinamika Perunggasan Banten. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153