Kabupaten Bulukumba mempunyai potensi yang sangat besar di sektor pertanian dan peternakan
Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki jarak tempuh 153 km dari Kota Makassar. Secara geografis Kabupaten Bulukumba terletak pada koordinat antara 5°20” sampai 5°40” Lintang Selatan dan 119°50” sampai 120°28” Bujur Timur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sinjai di sebelah Utara, sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Bone, sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bantaeng.

Selain keindahan pariwisatanya yang menakjubkan, potensi yang sangat besar di sektor pertanian dan peternakan juga dimiliki oleh Kabupaten Bulukumba

Selain terkenal akan keindahan pariwisatanya, Kabupaten Bulukumba juga memiliki potensi yang sangat besar di sektor pertanian dan peternakan. Sektor pertanian dan peternakan mempunyai peranan yang sangat penting dalam peningkatan perekonomian Kabupaten Bulukumba dan kontribusi pembangunan daerah.
Selaras dengan pernyataan Rosmini selaku Penyuluh Pertanian Madya di Dinas Peternakan Kabupaten Bulukumba ketika memaparkan perkembangan perunggasan di Kabupaten Bulukumba melalui sambungan aplikasi whatsapp (13/1), “Perkembangan unggas 2-3 tahun terakhir menunjukkan tren perkembangan yang begitu pesat, karena hampir di setiap wilayah ataupun kecamatan memiliki peternak unggas komersial baik itu petelur maupun pedaging,” jelas Rosmini.
Sama halnya dengan pernyataan Wahyu selaku PPL dari PT. Brantas Abadi Sentosa yang bertanggung jawab untuk mengkoordinir mitra peternak di Kabupaten Bulukumba, ketika dihubungi melalui sambungan telepon (18/1) yang mengungkapkan bahwasanya perkembangan perunggasan saat ini memiliki perkembangan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. “Dari segi produksi dan pemasaran sudah cukup baik kalau dibandingkan dengan tahun kemarin,” seru Wahyu.
Baca juga : Meniti Jalan Koperasi Perunggasan
Hal ini setimpal juga dengan pernyataan Rahim yang merupakan peternak broiler di Desa Tritiro, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba yang telah beternak selama satu tahun dengan populasi ternak saat ini sebanyak 2.700 ekor.
“Untuk bulan Januari ini alhamdulillah cukup stabil dan lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya baik itu untuk kondisi penjualan maupun harga pakan dan DOC,” ungkap Rahim ketika dihubungi Poultry Indonesia melalui sambungan telepon (17/1).
Dampak dari pandemi Covid-19
Untuk sentra perunggasan sendiri terdapat beberapa wilayah di Kabupaten Bulukumba, yang juga memiliki peningkatan terbesar terkait populasi ayam di tiap tahunnya yakni beberapa desa di Kecamatan Bontotiro dan Kecamatan Kajang. Namun, sejak terjadinya pandemi Covid-19, sentra peternakan di Kabupaten Bulukumba mengalami dampak yang cukup signifikan.
“Pandemi ini memang cukup berdampak tetapi tidak sampai gulung tikar terutama pada awal pandemi di mana adanya pembatasan sosial sehingga produk unggas dari Bulukumba tidak tersalurkan ke luar daerah (over produksi) berakibat terjadinya penurunan harga sementara harga pakan meningkat. Langkah ataupun tindakan yang dilakukan peternak adalah menjual ayam petelur untuk menghindari kerugian yang lebih besar, untuk ayam pedaging ada beberapa kandang yang tidak berisi, akibat banyaknya rumah makan yang tutup, sehingga permintaan ayam pedaging menjadi berkurang,” ungkap Rosmini.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2022 dengan judul “Perkembangan Perunggasan Kabupaten Bulukumba”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153