Oleh : M Faiq Irfan Maulana*
Industri perunggasan di Pakistan telah berkembang pesat sejak dimulai secara komersial pada tahun 1962. Kini, sektor ini menjadi salah satu pilar utama dalam penyediaan protein hewani dan berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Dengan investasi lebih dari Rs 1.983 miliar, industri perunggasan tidak hanya menjembatani kesenjangan antara pasokan dan permintaan daging, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi jutaan orang. Namun, di balik pertumbuhan ini, berbagai tantangan seperti fluktuasi harga pakan, inefisiensi rantai pasokan, dan ketidakteraturan struktur pasar masih menjadi hambatan bagi keberlanjutan industri. Artikel ini akan mengulas lebih dalam mengenai perkembangan, peran strategis, serta tantangan yang dihadapi sektor perunggasan Pakistan.
Kontribusi dan Perkembangan
Industri perunggasan merupakan sumber utama protein hewani dan bagian penting dari ekonomi di negara Pakistan. Berdasarkan laporan dari Pakistan Poultry Association (PPA), perunggasan komersial di Pakistan mulai berkembang sejak tahun 1962 dan kini menjadi salah satu segmen berbasis agro terbesar dengan investasi lebih dari Rs 1.983 miliar.
Selain itu, industri ini juga memainkan peran penting dalam menjembatani kesenjangan antara pasokan dan permintaan daging di negara tersebut. Dengan semakin berkurangnya pasokan daging merah, daging unggas menjadi sumber protein hewani termurah dan berkontribusi dalam mengendalikan lonjakan harga protein hewani di pasar.
Masih dari sumber yang sama, industri ini merupakan segmen terbesar dalam sektor pertanian di negara itu. Pertumbuhan industri perunggasan saat ini mencapai 10–12% per tahun, dengan sekitar Rp 190 miliar produk pertanian digunakan oleh sektor ini, sehingga turut berkontribusi terhadap pertumbuhan sektor pertanian secara keseluruhan. Di sisi lain perunggasan di Pakistan juga berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 1,5 juta orang secara langsung maupun tidak langsung.
Pakistan Poultry Association (PPA), juga melaporkan bahwa di tahun 2023- 2024 pakistan memiliki sekitar 15.000 peternakan unggas yang tersebar di daerah pedesaan di seluruh negeri dari Karachi hingga Peshawar, dengan kapasitas produksi yang bervariasi antara 5.000 hingga 500.000 ekor ayam pedaging per peternakan. Secara keseluruhan, perunggasan Pakistan menghasilkan 1.404,00 juta kilogram daging ayam setiap tahun, yang menyumbang 40–45% dari total konsumsi daging nasional. Selain itu, sektor ini juga memproduksi 11.200 juta butir telur meja setiap tahun, menjadikannya sebagai penyedia utama protein hewani di Pakistan.
Kendati demikian, meskipun produksi unggas terus meningkat, Pakistan Poultry Association (PPA) melaporkan bahwa konsumsi daging per kapita di Pakistan masih sangat rendah, yaitu hanya 3,80 kg per tahun, jauh di bawah negara maju yang mencapai 40 kg per kapita. Demikian pula, konsumsi telur per kapita di Pakistan hanya 46,6 butir per tahun, sementara di negara maju bisa melebihi 300 butir per kapita per tahun.
Melansir data dari laman macropakistani.com, menyebutkan bahwa konsumsi daging unggas per kapita Pakistan pada tahun 2024 diproyeksikan hanya 5 kilogram per orang, jauh lebih rendah dari rata-rata Asia sebesar 10 kilogram. Sedangkan menurut standar World Health Organization (WHO), kebutuhan harian protein hewani untuk seseorang adalah 27 gram, tetapi masyarakat Pakistan rata-rata hanya mengonsumsi 17 gram per hari. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada kesenjangan besar dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani, yang dapat berdampak pada kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










