Oleh Prof. (Riset). Dr. Ir. Sofjan Iskandar, M.Rur.Sc*
Keberadaan unggas lokal unggul, seperti ayam KUB, ayam SenSi, itik Master dan itik PMp (itik silangan Pekin dengan Mojosari Putih), memberikan kemudahan bagi para pembudidaya untuk mendapatkan galur atau strain komersial unggas lokal unggul. Di masyarakat beredar juga ayam Joper (Jowo persilangan) hasil perkawinan antara jantan ayam lokal dengan ayam petelur modern untuk ayam potong niaga berdarah setengah lokal. Ayam lokal asli, bukan hasil persilangan, mempunyai ceruk pasar (niche market) tersendiri, yang kemungkinan permintaannya semakin meningkat dari hari ke hari dengan meningkatnya pendapatan masyarakat diiringi dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi bahan pangan yang sehat.
Sebelum adanya produk unggas lokal yang unggul dari hasil penelitian para ahli, asupan produk ayam lokal secara terbatas berasal dari hasil pengumpulan dari pelosok perdesaan oleh para bakul atau karamba, yang kemudian ditampung para pengepul untuk dijual ke tempat-tempat pengolahan bahkan langsung ke rumah-rumah makan yang menyajikan masakan unggas lokal.
Untuk perkembangan Itik manila atau entok, cukup mengesankan bahwa penambahan populasi entok mencapai 18,32 % selama lima tahun terakhir, yang diduga sebagai akibat perkembangan konsumen yang menyukai daging unggas lokal. Sentuhan pemerintah untuk komoditas entok jika dikatakan tidak ada, mungkin ada tapi kecil sekali, bahkan sentuhan teknologi untuk komoditas entok ini sangat minimal. Entok mempunyai kelebihan ketimbang itik atau ayam lokal, karena entok dapat hidup di lingkungan minimal di perdesaan dengan baik. Adanya peningkatan permintaan daging entok akhir-akhir ini kemungkinan disebabkan oleh rasa dan tekstur khas, sehingga terbentuk ceruk pasar yang membuka peluang usaha ternak entok lebih besar.
Kepemilikan unggas lokal unggul
Ayam lokal. Sejak satu setengah dekade yang lalu, sejak berkurangnya serangan penyakit flu burung (Avian Influenza), pemeliharaan ayam lokal tanpa seleksi, sedikit demi sedikit berubah dari yang tadinya hanya diumbar, menjadi memelihara ayam lokal unggul secara intensif. Ayam Joper, juga menambah hitungan populasi ayam lokal Nasional. Perusahaan penetasan penghasil DOC Joper juga sudah bermunculan, sementara para penetas kecil biasanya memanfaatan ayam-ayam petelur milik masyarakat. Adanya ayam Joper ini akan mengundang kekhawatiran komunitas ayam lokal. Apabila Joper ini dikembangbiakan, dikhawatirkan akan mencemari keaslian sumber daya genetik ayam lokal Indonesia. Kita akan menemui kesulitan untuk mengendalikannya jika Joper ini sudah sampai ke tangan masyarakat luas.
Pada perkmbangan itik lokal, Penjualan daging itik juga berkembang dengan semakin populernya daging itik goreng. Saat itu dan juga sampai sekarang daging itik diperoleh dari itik petelur apkir dan itik jantan hasil pembesaran day old duck (DOD) dari para penetas tradisional dan atau para penetas komersal menengah. Itik Manila (entok). Populasi itik manila (muscovy) atau entok juga memiliki kecenderungan seperti halnya populasi ayam dan itik lokal. Entok juga semakin dikenal dan disukai para penggemar kuliner.
Produksi telur unggas lokal
Kepemilikan unggas lokal khusus untuk produksi telur kemungkinan besar tidak banyak ditemui di kalangan masyarakat perdesaan, kecuali beberapa perusahan penetasan menengah, yang memelihara induk-induk untuk ditetaskan untuk produksi DOC. Menurut Ditjen PKH, peningkatan produksi telur ayam lokal nasional sejak tahun 2014 sampai 2018 cukup besar yakni sebesar 22,91%.
Budi daya itik untuk produksi telur pada umumnya bersifat tradisional, sedikit yang semi intensif dan sedikit intensif. Telur sebagian besar dijual berupa telur asin. Beberapa tahun terakhir, Kementerian Pertanian sudah menetapkan beberapa rumpun itik lokal, dan melepas itik Alabi master dan itik Mojo master sebagai tetua itik Master penghasil telur unggul serta itik PMp, yang juga mempunyai potensi menyumbang jumlah telur nasional.
Kepemilikan itik lokal baik yang tanpa seleksi dan yang unggul, sama halnya dengan ayam lokal unggul, sampai tahun 2019 ini belum jelas terbaca dalam catatan data statistik. Adanya perkembangan perusahaan penetasan menengah relatif akan menambah populasi itik. Itik sebagian besar dimiliki para peternak dekat dengan pesawahan dan atau perairan, meskipun ada juga bermunculan peternak itik yang memelihara itiknya secara intensif. *Peneliti Senior Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Ciawi, Bogor.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2019 dengan judul “Perkembangan Terkini Galur Ayam dan Itik Lokal Unggul”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...