POULTRYINDONESIA, Yogyakarta – Indonesian Cage-Free Association (ICFA) kembali menggelar Training Beternak Bebas Sangkar Batch #2 pada 29–30 Juli 2025 di Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari pelatihan pertama yang diselenggarakan pada April lalu dan disambut dengan antusias oleh pelaku peternakan ayam petelur di berbagai daerah.
Pelatihan ini diikuti oleh 18 peserta dari berbagai provinsi, antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur. Para peserta hadir dengan latar belakang yang beragam: dari peternak yang sudah menerapkan sistem cage-free atau free-range, peternak konvensional yang tertarik beralih sistem, hingga calon peternak.
Selama dua hari, peserta mengikuti pelatihan intensif yang menggabungkan teori, praktik langsung, dan diskusi lapangan. Materi yang disampaikan berfokus pada aspek teknis dan strategis dalam menerapkan sistem beternak ayam petelur bebas sangkar yang lebih ramah lingkungan dan berorientasi pada kesejahteraan hewan.
Pelatihan ini menghadirkan sejumlah narasumber berpengalaman, seperti Sesotya Raka Pambuka dan Henri E. Prasetyo dari Indonesian Livestock Practitioner Association (ILSPA), yang menyampaikan materi tentang manajemen pakan dan efisiensi nutrisi pada sistem cage-free. Selain itu, turut hadir pula pakar dari Global Food Partners, PT Widodo Makmur Unggas, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), serta lembaga sertifikasi internasional Certified Humane.
Peserta juga menjalani sesi praktik langsung di Cage-Free Innovation and Welfare Hub Yogyakarta, kandang percontohan yang dikelola oleh Fakultas Peternakan UGM. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung mengenai penerapan sistem cage-free secara profesional.
Salah satu sesi unggulan dalam pelatihan kali ini adalah talkshow inspiratif yang menghadirkan tiga anggota ICFA. Pertama Roby Tjahya Dharma Gandawijaya, pemilik PT Inti Prima Satwa Sejahtera (IPSS), pelopor peternakan cage-free berskala besar di Indonesia dengan populasi 48.000 ekor ayam. Kedua Andy Putra Suryanto, pemilik Saudara Poultry Farm di Bali, yang menerapkan sistem kombinasi free-range dan cage-free untuk sekitar 6.500 ekor ayam, sembari mengedepankan nilai keberlanjutan dan cerita produk. Dan ketiga Agung Setyoleksono, Ketua Kelompok Ternak Tri Manunggal Bhakti (TMB) di Cangkringan, Yogyakarta, yang mengembangkan peternakan cage-free berbasis komunitas dengan populasi 700 ekor ayam.
Ketiganya menampilkan keberagaman pendekatan dalam menjalankan sistem cage-free, baik dari sisi skala usaha, strategi bisnis, maupun nilai-nilai yang diusung. Meski menghadapi berbagai tantangan, mereka menunjukkan bahwa sistem cage-free dapat dijalankan secara profesional, berkelanjutan, dan berkeadilan.
Menutup acara, Kristina Yolanda, Ketua ICFA, mengingatkan pentingnya menjaga integritas dan kredibilitas dalam menjalankan sistem cage-free. Ia menegaskan agar tidak ada pihak yang menyalahgunakan label cage-free, karena hal tersebut dapat merusak kepercayaan konsumen dan mencederai kerja keras peternak yang telah menjalankan praktik ini dengan sungguh-sungguh.
“Dengan menjaga kejujuran dan membangun kolaborasi antarpeternak, kita bisa memastikan industri cage-free tumbuh secara sehat dan berkelanjutan di Indonesia,” tegas Kristina.